Kelok 23 Selesai, Investor JJLS Gunungkidul Diminta Tak Langgar Aturan
Investor di kawasan JJLS Gunungkidul diminta mematuhi perizinan dan menjaga lingkungan setelah Kelok 23 selesai dibangun.
Sejumlah nelayan mengevakuasi perahu nelayan yang terbalik di dermaga Pantai Sadeng, Kamis (14/3)./Istimewa-Dokumen SAR Wilayah I DIY
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Jasad seorang laki-laki ditemukan di kawasan Pantai Baron di Kalurahan Kemadang, Tanjungsari, Rabu (3/9/2025) pagi. Hasil identifikasi dari tim Polres Gunungkidul diketahui korban bernama Nur Juwadi, nelayan asal Trenggalek, Jawa Timur yang dinyatakan hilang sejak 27 Agustus 2025.
Sekretaris Satlinmas Rescue Istimewa Wilayah 2 di Pantai Baron, Surisdiyanto mengatakan, temuan mayat di barat Pantai Baron pertama kali dilaporkan oleh nelayan yang sedang menangkap ikan. Laporan ditindaklanjuti dengan menerjunkan empat personel untuk proses evakuasi.
BACA JUGA: Gelombang Tinggi, Nelayan Gunungkidul Tak Berani Melaut
“Jasad merupakan sosok laki-laki. Ditemukan dua mill dari Pantai Baron,” kata Suris kepada wartawan, Rabu siang.
Usai dievakuasi, jasad korban langsung dibawa ke RSUD Wonosari untuk pemeriksaan lebih lanjut. Dilihat dari kondisinya, jasad masih utuh, tapi kondisi wajah sudah mulai rusak.
“Korban diketahui memakai kaos warna hijau dengan celana panjang. Untuk pemeriksaan, kami juga sudah berkoordinasi dengan pihak Polres Gunungkidul,” ungkapnya.
Terpisah, Kasatpol Air Polres Gunungkidul, AKP Wawan Anggoro membenarkan adanya penemuan mayat di kawasan Pantai Baron. Upaya indentifikasi juga sudah dilakukan untuk mencari identitas dari korban yang ditemukan.
Menurut dia, proses identifikasi yang melibatkan tim inafis sudah selesai dilakukan. Hasil pemeriksaan diketahui bernama Nur Juwadi,47, asal Kecamatan Munjungan, Trenggalek, Jawa Timur.
“Temuan ini berjarak puluhan kilometer dari lokasi pertama korban hilang,” kata Wawan.
Berdasarkan koordinasi yang dilakukan, diketahui korban dinyatakan hilang sejak 27 Agustus 2025. Saat itu, kata Wawan, Juwadi pamit untuk mengecek perangkap udang yang dipasang di tengah laut.
Hanya saja, korban tidak pernah kembali karena hanya ditemukan perahu yang dipergunakan untuk melaut. Proses idenfitikasi diketahui karena yang bersangkutan menggunakan kaos bertuliskan paguyuban nelayan Munjungan.
Di sisi lain, dari identifikasi gigi pasangan korban juga memperkuat dugaan bahwa jasad yang ditemukan merupakan nelayan Trenggalek yang hilang beberapa waktu lalu. Pihak keluarga juga sudah memastikan bahwa jasad merupakan Juwadi yang hilang saat melaut.
“Sidik jari tidak dilakukan karena kondisinya sudah mulai rusak. Tapi, kami bersyukur identitas korban dapat diketahui,” ungkap mantan Kapolsek Tanjungsari ini.
Menurut dia, proses pemulangan jenazah sudah dilakukan dengan tujuan Trenggalek, Jawa Timur. “Begitu identitas diketahui langsung dipulangkan ke rumah duka di Trenggalek,” kata Wawan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Investor di kawasan JJLS Gunungkidul diminta mematuhi perizinan dan menjaga lingkungan setelah Kelok 23 selesai dibangun.
Prabowo memantau erupsi Gunung Anak Krakatau yang berdampak pada penerbangan. Enam bandara ditutup sementara akibat abu vulkanik.
Sejarah Gunung Anak Krakatau bermula dari kehancuran Krakatau 1883, tumbuh hingga 338 mdpl, lalu runtuh akibat longsoran pada tsunami 2018.
Erupsi Anak Krakatau mengganggu penerbangan Garuda GA-981. Sebanyak 382 jamaah umrah dari Jeddah dialihkan mendarat ke Aceh.
Puluhan politisi dan aktivis demokrasi Asia mengunjungi Kantor DPD PDI Perjuangan DIY dalam rangkaian Konferensi CALD di Jogja.
Mendikdasmen Abdul Mu'ti menginstruksikan PJJ bagi sekolah terdampak parah erupsi Anak Krakatau. Pemda menentukan durasi belajar dari rumah.