Petani Lansia dan Lahan Minim, DPRD DIY Kritik Pertanian Stagnan
Produktivitas pertanian DIY stagnan akibat petani lansia, lahan sempit, dan minimnya regenerasi serta optimalisasi lahan.
Suasana di Lapangan Minggiran, Kemantren Mantrijeron, Jogja, yang bebas dari sampah, pada Jumat (19/9/2025). Volume sampah di kemantren ini menurun 2 ton per hari sejak adanya program Mas JOS. Harian Jogja/ Ariq Fajar Hidayat
Harianjogja.com, JOGJA—Upaya mengurangi timbunan sampah di Kemantren Mantrijeron, Jogja semakin diperkuat. Mantri Pamong Praja Kemantren Mantrijeron, Narotama mengatakan, demi memaksimalkan upaya tersebut, pihaknya melibatkan 70 penggerobak dan mencakup 12 kampung dengan total 231 RT dan 55 RW.
Menurutnya, sebelum adanya penerapan program Mas JOS (Masyarakat Jogja Olah Sampah) dari Pemkot Jogja, produksi sampah di wilayah tersebut mencapai 70 ton per hari. Setelah program dijalankan, volume berkurang menjadi 68 ton per hari atau turun sekitar 2 ton.
“Strategi pengurangan sampah kami jalankan melalui edukasi pemilahan organik dan anorganik, serta penggunaan teknologi ramah lingkungan. Saat ini sudah ada 22 unit biopori jumbo, 648 biopori reguler, 462 komposter tanam, serta 59 bank sampah aktif,” kata Narotama, Kamis (18/9/2025).
BACA JUGA: Guguran Lava Merapi Terjadi Puluhan Kali dalam Sepekan Terakhir
Ia menambahkan, pelaksanaan program tidak hanya dijalankan pemerintah, tetapi juga menggandeng berbagai pihak. Stakeholder yang terlibat antara lain Dinas Lingkungan Hidup, lurah, tim penggerak PKK kelurahan, Forum Bank Sampah, Babinsa, Bhabinkamtibmas, Satpol PP, hingga juru pemilah sampah yang bekerja langsung di lapangan.
“Kegiatan koordinasi ini diharapkan memperkuat komitmen bersama dalam menjaga kebersihan lingkungan dan mengurangi timbunan sampah. Kami ingin Mantrijeron bisa menjadi contoh bagi wilayah lain di Kota Jogja,”katanya.
Wali Kota Jogja, Hasto Wardoyo, menegaskan program Mas JOS tidak cukup hanya mengandalkan kampanye atau edukasi. “Harus ada sistem yang dibangun agar pengelolaan sampah berjalan setiap hari,” ujarnya.
Hasto menyebutkan, Pemkot memberi tenggat hingga Desember 2025 untuk memastikan sistem ini berjalan efektif. Seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) juga dilibatkan sebagai pembina di tiap kelurahan.
Pemkot membentuk Tim Reaksi Cepat (TRC) Mas JOS yang bisa dihubungi warga untuk menangani masalah seperti pohon tumbang, sampah rumah tangga berukuran besar, maupun limbah non-organik. Nomor panggilan darurat TRC akan resmi diluncurkan pada Senin mendatang.
BACA JUGA: Kisah Korban Longsor Tambang Freeport, Sempat Cuti di Agustus
“Sarana kita sudah ada, mulai dari biopori, gerobak, hingga fasilitas lain. Tinggal manajemennya harus jelas, siapa berperan apa dan bagaimana pengawasannya,” kata Hasto.
Ia juga menuturkan Pemkot akan membagikan ember berkapasitas 25 kilogram kepada warga untuk memisahkan sampah basah dan kering dari dapur. Pemkot bahkan menyiapkan sistem penghargaan bagi masyarakat yang aktif mendukung program Mas JOS. “Kami ingin memberikan apresiasi agar gerakan ini bisa berkelanjutan,” ucapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Produktivitas pertanian DIY stagnan akibat petani lansia, lahan sempit, dan minimnya regenerasi serta optimalisasi lahan.
Warga Desa Narasaosina menyerahkan 57 senjata rakitan sisa konflik Adonara Timur kepada Polres Flores Timur demi menjaga perdamaian.
Program Beasiswa Santri Jateng 2026 masih dibuka hingga Juli. Pendaftar sudah mencapai 825 santri untuk studi dalam dan luar negeri.
Gunung Merapi kembali mengeluarkan awan panas guguran sejauh 2 kilometer pada Minggu malam. BPPTKG minta warga tetap waspada.
AHY memastikan penyesuaian tarif tiket pesawat dilakukan terukur di tengah kenaikan harga energi dunia akibat konflik Timur Tengah.
Mario Suryo Aji turun ke posisi 24 klasemen Moto2 2026 setelah absen di Catalunya akibat cedera. Manuel Gonzalez kukuh di puncak.