Motor Curian Dijual Rp2,3 Juta, Warga Karangmojo Ditangkap Polisi
Polsek Wonosari menangkap pelaku curanmor asal Karangmojo yang menjual motor curian ke Kota Jogja seharga Rp2,3 juta.
Seorang petani di Kalurahan Bulurejo, Semin sedang melakukan pemisahan butiran gabah dengan sampah melalui metode penyaringan secara tradisional. Foto diambil 14 September 2025. Harian Jogja/David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Sedikitnya 60 petani mengikuti Sekolah Lapang Iklim yang berlangsung di Balai Kalurahan Pilangrejo, Nglipar, Senin (22/9/2025). Program ini dilaksanakan sebagai upaya antisipasi perubahan iklim guna menjaga keberlanjutan sektor pertanian khususnya di Bumi Handayani.
Wakil Bupati Gunungkidul, Joko Parwoto dalam sambutannya mengatakan, pertanian masih menjadi sektor unggulan bagi masyarakat. Adanya perubahan iklim membuat sektor ini menjadi rentan sehingga butuh dilakukan antisipasi agar hasilnya tetap bisa dioptimalkan.
BACA JUGA: Bulan Imunisasi Anak Sekolah di Gunungkidul Capai 93 Persen
“Program Sekolah Lapang Iklim sangat pentiing untuk memperkuat kemampuan adaptasi para petani. Saya pun mengapresiasi program yang digagas BMKG,” kata Joko, Senin siang.
Menurut dia, program ini tidak hanya memberikan pemahaman kepada para petani tentang iklim. Namun, sambung Joko, peserta juga diajak untuk berlatih melalui metode by learning by doing. Sebab, petani tidak hanya belajar, tapi juga mempraktikan secara langsung,” katanya.
Diharapkan dengan pelaksanaan kegiatan ini, maka produktivitas hasil pertanian di masyarakat bisa terus dipertahankan, meski ada potensi anomli cuaca didalam pelaksanaan masa tanam. “Mudah-mudahan hasilnya tetap bagus dan petani bisa semakin paham berkaitan dengan masalah iklim untuk mendukung di sektor pertanian,” katanya.
Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati mengatakan, pentingnya kesiapan petani guna menghadapi fenomena cuaca ekstrem. Menurutnya, intensitas cuaca ekstrem, baik basah maupun kering, semakin meningkat dari tahun ke tahun.
“Cuaca ekstrem bisa diprediksi sehingga petani perlu terbiasa membaca informasi cuaca. akses sekarang mudah karena bisa diketahui lewat gawai,” katanya.
Dia menjelaskan, pengetahuan tentang informasi cuaca sangat penting untuk menyesuaikan pola tanam. Dengan cara ini, kerusakan tanaman dapat diminimalisir, hasil panen lebih optimal, dan ketahanan pangan semakin kuat.
“Kemampuan petani dalam memahami iklim akan berkontribusi pada keberhasilan swasembada pangan dan pengendalian inflasi,” kata mantan Rektor UGM ini.
Dwikorita berharap kegiatan ini dapat menjadi momentum penting dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat Gunungkidul. “Tentu kami akan terus melakukan pendampingan, salah satunya melalui program sekolah lapang iklim,” katanya.
Sebagaimana diketahui, peserta sekolah lapang iklim diikuti sebanyak 60 orang. Jumlah ini terdiri dari 47 petani hortikultura, 5 PPL/POPT, serta 8 perwakilan dari Kalurahan Kedungpoh. Mereka berasal dari berbagai kelompok tani dan kelompok wanita tani di wilayah Kapanewon Nglipar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Polsek Wonosari menangkap pelaku curanmor asal Karangmojo yang menjual motor curian ke Kota Jogja seharga Rp2,3 juta.
Pasar motor listrik di Jogja terus tumbuh. Indomobil eMotor menyebut Sleman menjadi pasar terbesar dengan penjualan menjanjikan.
Jadwal terbaru KRL Solo-Jogja Jumat 15 Mei 2026 lengkap dari Palur hingga Yogyakarta dengan tarif Rp8.000 dan perjalanan sejak pagi.
Barcelona gagal mencapai 100 poin usai kalah dari Deportivo Alaves. Hansi Flick tetap puas dengan performa pemain muda Blaugrana.
Jadwal terbaru KRL Jogja-Solo Jumat 15 Mei 2026 lengkap dari Yogyakarta hingga Palur. Tarif tetap Rp8.000 sekali perjalanan.
Polres Kudus mengamankan lima pemuda yang membawa senjata tajam saat menggeruduk kompleks perumahan di Kecamatan Bae.