BPJS Ketenagakerjaan Lindungi 195.000 Pekerja di Sleman
Sebanyak 195.000 pekerja di Sleman terlindungi BPJS Ketenagakerjaan hingga Juni 2026. Pemkab masih mengejar tambahan 14.000 peserta.
Arsip-Proses pengolahan sampah dengan output berupa RDF di TPS 3R Nitikan, Kamis (2/5/2024)./Harian Jogja
Harianjogja.com, SLEMAN—Ada 44 Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) di Kabupaten Sleman hingga saat ini. Dari jumlah ini, 12 di antarnya berhentik beroperasi. Ada sejumlah faktor penyebab, seperti ketiadaan sumber daya manusia (SDM).
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sleman, Sugeng Riyanta, mengatakan ada perbedaan antara operasional TPS3R di wilayah perkotaan dengan perdesaan. TPS3R cenderung tidak beroperasi di perdesaan.
Faktor penyebabnya, kata dia adalah perbedaan kemampuan dan kemauan membayar warga, selain memang tidak ada SDM pengelolanya.
“Kalau di perdesaan juga warga biasanya mengolah sampah secara mandiri, seperti membuat jugangan [lubang galian tanah untuk membuang sampah],” kata Sugeng dihubungi, Sabtu (27/9/2025).
TPS3R yang berhenti beroperasi tersebut ada di Kapanewon Turi, Cangkringan, Tempel, Kalasan, Prambanan, Mlati, Moyudan, Minggir, dan Godean. Kapanewon Prambanan menjadi wilayah dengan tiga TPS3R berhenti beroperasi.
Khusus di Kapanewon Mlati, ada satu transfer depo yang berhenti beroperasi dari total 14 transfer depo di seluruh Sleman.
BACA JUGA: Hampir 40 Persen Sampah di Sleman Berasal dari Empat Kapanewon Ini
Kepala UPTD Persampahan DLH Sleman, Singgih Budiyana, mengatakan tidak beroperasinya transfer depo tersebut memiliki dampak terhadap proses pengangkutan sampah. Dia menjelaskan alur pengangkutan sampah yang dirancang DLH perlu melalui transfer depo.
Dari hulu atau rumah tangga, sampah akan dikirim ke transfer depok oleh petugas angkut. Sampah yang ada di transfer depok kemudian akan diambil oleh truk UPT Persampahan DLH Sleman. Hilir pembuangan sampah itu adalah TPST.
“Memang berpengaruh, tapi pengaruhnya juga tidak signifikan [pengangkutan sampah tetap berjalan],” kata Singgih.
Setiap orang/ jiwa di Kabupaten Sleman memproduksi sampah 0,52 kilogram (kg) per hari. Dengan melihat jumlah penduduk pada 2024 yang mencapai 1.157.290 jiwa, timbulan sampah di seluruh kapanewon mencapai 601,79 ton per hari (tph). Dominasi sumber sampai paling banyak dari rumah tangga dengan jenisnya sampah sisa makanan.
Pemkab Sleman tidak hanya mengandalkan TPS3R untuk mengolah sampah. Ada juga tiga TPST yang saat ini telah beroperasi, seperti TPST Tamanmartani Kalasan, TSPT Donokerto Turi, dan TPST Sendangsari Minggir.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sebanyak 195.000 pekerja di Sleman terlindungi BPJS Ketenagakerjaan hingga Juni 2026. Pemkab masih mengejar tambahan 14.000 peserta.
Wamendagri Ribka Haluk meminta penyaluran Dana Otsus Papua 2026 menerapkan prinsip 5T agar manfaatnya tepat sasaran bagi masyarakat.
Polresta Banyumas mengungkap kasus pemerasan berkedok anggota polisi terhadap remaja di Desa Pliken dengan dua tersangka.
KPK membawa tiga koper dokumen dan telepon seluler dari penggeledahan kantor CV DKK di Kabupaten Lombok Barat, NTB.
Tari Bedhaya Ullen Sentalu resmi dipentaskan setelah melalui proses penciptaan selama 25 tahun di Museum Ullen Sentalu.
Polrestabes Medan menyita 24 kilogram sabu tujuan Jakarta yang disembunyikan di dinding mobil setelah pengejaran di Jalan Tol Trans Sumatera.