Advertisement
Seribu Warga Terselamatkan Berkat Ketekunan Agen Perisai Tamanmartani
Hendry Tri Wibowo (tengah) saat menerima Penghargaan Gebyar Playon Kalurahan DIY dari BPJS Ketenagakerjaan, Selasa (14/10 - 2025) di Kantor Gubernur DIY.
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Di Tamanmartani, Kalasan, Sleman, nama Hendry Tri Wibowo bukan hanya tercatat dalam administrasi desa. Ia hadir dalam obrolan pos ronda, rapat warga, hingga menjadi sosok pertama yang dicari ketika bantuan dibutuhkan. Aktivitas sosialnya panjang: relawan kebencanaan, sopir ambulans, hingga kini menjadi Agen Penggerak Jaminan Sosial Nasional (Perisai) BPJS Ketenagakerjaan.
Mas Hendry, begitu warga memanggilnya, dikenal sigap tiap kali ada warga butuh pertolongan. Saat pandemi Covid-19, ia menjadi satu-satunya sopir ambulans di kalurahan yang bersedia bergerak malam hari, menjemput warga terpapar dan membawa mereka ke fasilitas kesehatan. Ia mengaku tak ingat berapa kali pulang menjelang Subuh—yang ia ingat hanyalah alasan mengapa ia tak pernah menolak permintaan warga.
Advertisement
“Kalau saya nggak mau, terus siapa?” ujarnya, ditemui usai menerima Penghargaan Gebyar Playon Kalurahan DIY dari BPJS Ketenagakerjaan, Selasa (14/10/2025).
Kesibukannya sebagai Ketua Bidang Pembangunan Desa dan Pemberdayaan Masyarakat BPKal Tamanmartani tak membuatnya berhenti mengabdi. Setelah kalurahannya meraih Juara 3 Paritrana Award pada 2024, Lurah Tamanmartani, Gandang Harjanata, memintanya mengambil peran baru: agen Perisai.
BACA JUGA
Hendry mengaku sempat menolak. “Awalnya saya nggak ada niat. Rasanya cuma nambah gaweyan, komisinya kecil,” ujarnya sambil terkekeh.
Namun pesan lurah membuatnya berpikir ulang. “Pak lurah bilang, ‘Iki ora nggo kuwe, tapi dinggo warga’. Dari situ saya merasa disadarkan,” ujarnya.
Ia pun memilih melangkah. Baginya, menjadi agen Perisai bukan sekadar tugas baru, tetapi cara lain untuk memberi perlindungan bagi lebih banyak warga. “Perlindungannya besar, biayanya kecil. BPJS Ketenagakerjaan itu benar-benar menolong orang,” tegasnya.
Seribu Warga yang ‘Diselamatkan’
Dalam setahun, Hendry berhasil mengajak lebih dari 1.000 warga menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan. Mayoritas adalah pekerja informal—petani, pemulung, pelaku UMKM, buruh harian, juru parkir—mereka yang paling rentan kehilangan pendapatan saat musibah datang.
“Niat saya sekarang bukan cari duit, tapi menolong orang. Gusti boten sare. Tapi penghargaan ini bukan tujuan utama,” katanya.
Menjadi agen Perisai membuatnya makin dekat dengan keseharian warganya. Ia bertemu petani renta yang tetap bekerja agar dapur mengepul, hingga pemulung yang pulang dengan hasil tak seberapa demi beras di rumah.
Banyak yang awalnya ragu ikut jaminan sosial karena stigma “asuransi”. Namun Hendry memilih pendekatan yang paling ia kuasai: duduk, mendengar, dan menjelaskan dengan bahasa keseharian.
“Tugas saya edukasi. Target saya, semakin banyak peserta, semakin banyak keluarga terselamatkan,” ujarnya.
Salah satu contoh nyata adalah Sudarto, pemulung dari Purwomartani, Kalasan, yang meninggal dalam kecelakaan saat mencari barang rosok. Meski baru dua bulan menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan, keluarganya berhak menerima santunan kematian Rp42 juta.
“Kami sangat terbantu. Kalau tidak ada jaminan itu, entah bagaimana nasib anak dan cucu saya ke depan,” kata Surip, ayah almarhum.
Bagi Hendry, kisah seperti ini menjadi alasan ia terus bergerak. Perlindungan sosial baginya bukan soal administrasi, melainkan masa depan keluarga yang tiba-tiba harus menghadapi kehilangan.
Tantangan Masih Panjang
Kepala BPJS Ketenagakerjaan Cabang Jogja, Rudi Susanto, mengakui masih banyak pekerja informal yang belum terjangkau jaminan sosial. Tingkat kepesertaan BPU baru sekitar 63 persen.
BPJamsostek kini memperluas perlindungan di tiga ekosistem: event, pendidikan, dan UMKM, serta memperkuat ekosistem kalurahan. Dari 392 kalurahan di DIY, baru 43 BUMKal yang menjadi agen Perisai.
“Tingkat kepercayaan masyarakat semakin meningkat, terlihat dari pertumbuhan peserta dan penerimaan iuran,” jelasnya, Kamis (13/11/2025).
Hingga Oktober 2025, BPJS Ketenagakerjaan Jogja menyalurkan klaim program JHT sebesar Rp902 miliar dari 66.136 kasus, klaim program JKK sebanyak Rp42 miliar (17.939 kasus), dan program JKM senilai Rp37 miliar (2.150 kasus).
Adapun program JP sebesar Rp15 miliar (973 kasus) dan program JKP sebanyak Rp12,1 miliar dari 7.186 kasus.
Namun di tengah angka statistik itu, Hendry tetap memilih langkah yang sederhana. Mengantar warga mengurus data, membantu mengisi formulir, atau menjelaskan manfaat sambil duduk di warung kopi.
“Saya hanya ingin membantu,” ucapnya pelan. Kalimat sederhana yang dalam praktiknya telah menyelamatkan banyak keluarga dari terperosok lebih dalam.
Dari sosok seperti Hendry, Tamanmartani belajar bahwa ketangguhan desa tak hanya lahir dari program pemerintah, tetapi juga dari warganya sendiri—mereka yang memilih peduli tanpa syarat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Raja Thailand Donasi Rp51,9 Miliar untuk Korban Banjir Bandang
Advertisement
Kemenpar Kenalkan Wisata Banyuwangi-Bali ke Pasar Global
Advertisement
Berita Populer
- Revitalisasi Terminal Imogiri dan Palbapang Bantul Dimulai pada 2026
- Upacara Ganti Dwaja di Pakualaman Jogja Jadi Daya Tarik Wisatawan
- Kelurahan Gowongan Jogja Rilis Buku untuk Edukasi Anak Pilah Sampah
- Uji Coba Malioboro Full Pedestrian, Pedagang Tetap Bisa Melintas
- Menekraf Riefky: JAFF Market 2025 Perkuat Ekosistem Film Nasional
Advertisement
Advertisement



