Advertisement

Di Balik Keindahan Merapi, Sukarelawan Hidup dalam Ancaman

Andreas Yuda Pramono
Minggu, 30 November 2025 - 06:17 WIB
Sunartono
Di Balik Keindahan Merapi, Sukarelawan Hidup dalam Ancaman Ketua Komunitas Siaga Merapi (KSM), Rambat Wahyudi, sedang menunjukkan rumahnya yang terdampak erupsi Gunung Merapi 2010 di Kampung Ngancar, Kalurahan Glagaharjo, Kapanewon Cangkringan, Sleman, Selasa (25/11/2025). - Harian Jogja/Andreas Yuda Pramono.

Advertisement

Harianjogja.com, SLEMAN—Malam itu, bibir Jumarno, 36, hanya bisa merapal doa. Listrik mati. Suara gemuruh dan kegelapan yang menyelingkupi rumahnya tak kunjung berhenti. Getaran seperti hentakan ribuan kaki memenuhi halaman.

Ia sempat keluar rumah dengan niat mencari neneknya. Abu Gunung Merapi ternyata sudah setinggi betis orang dewasa. Abu yang masih dalam kondisi panas ini melelehkan telapak kaki Jumarno. Berlindung di dalam lemari, kesadarannya hampir hilang. Ia merasakan perih di sekujur tubuh.

Advertisement

Di dalam rumah, bapaknya berulang kali mengucap tak kuat, napasnya tersengal. Jumarno masygul. Ia hanya bisa menyelimuti bapaknya dengan sarung. Kisah itu menjadi bagian dari segelintir warga yang terjebak di rumah ketika Gunung Merapi memuntahkan awan panas pada Oktober 2010.

Banyak yang tak percaya mereka selamat, sebab satu keluarga yang rumahnya tak jauh dari Jumarno meninggal dunia malam itu—termasuk nenek yang ingin ia cari.

Mayoritas warga lebih dulu mengungsi. Jumarno memutuskan menetap lantaran percaya pada tetangganya bahwa akan membantu jika Merapi erupsi. Tetangga inilah yang akhirnya meninggal sekeluarga. Ia juga merasa enggan jika harus meninggalkan lima sapi yang jadi tabungan keluarga.

Merapi yang mengubah hidup Jumarno itu sejatinya memasuki puncak erupsi setelah peningkatan status berhari-hari.

Dalam Rencana Aksi Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah Pasca Bencana Erupsi Gunung Merapi 2011 – 2013, dijelaskan ada empat tingkatan status erupsi: Normal, Waspada, Siaga, dan Awas.

Merapi memasuki status Awas pada 24 Oktober 2010 dan mulai erupsi pada 26 Oktober. Awan panas terjauh terjadi pada 3 November dengan jarak 9 kilometer (km) ke arah Kali Gendol—hanya berjarak sekitar dua km dari rumah Jumarno.

Data Pusdalops BNPB tanggal 27 November 2010 mencatat erupsi menimbulkan 242 korban jiwa di wilayah DIY dan 97 di Jawa Tengah.

Kini, jika mengenang malam kelam itu, Jumarno hanya bisa memandang teras rumahnya di Kampung Ngancar, Kalurahan Glagaharjo, Cangkringan, dan berbisik lirih, “Saya cuma bisa ngaturke matur nuwun. Semoga Tuhan membalas kebaikan para relawan,” katanya ditemui di Kampung Ngancar, Kamis (27/11/2025).

Korban selamat erupsi Gunung Merapi, Jumarno, sedang berada di rumahnya, Kalurahan Glagaharjo, Kapanewon Cangkringan, Sleman, Kamis (27/11/2025). /Harian Jogja-Andreas Yuda Pramono.

Hidup dalam Ancaman

Keindahan Merapi dan kesuburan tanahnya menyembunyikan kenyataan lain: ancaman erupsi yang merongrong setiap saat.

Dari pengalaman traumatis seperti yang dialami Jumarno, warga kemudian membentuk komunitas-komunitas siaga. Salah satunya adalah Komunitas Siaga Merapi (KSM). Komunitas semacam ini memainkan peran strategis dalam mengedukasi terkait kedaruratan bencana alam.

Ngancar dan Besalen, dua kampung yang hancur akibat erupsi 2010, memperoleh bantuan rumah dari pemerintah. Ada sekitar 100 KK yang kini hidup bersama di Hunian Tetap (Huntap) Banjarsari. Salah satu di antara mereka adalah Rambat Wahyudi, 44.

Meski bertetangga, nasib Rambat lebih beruntung daripada Jumarno. Rambat dan keluarganya mengungsi lebih awal di Balai Kalurahan Glagaharjo sebelum dibawa ke Stadion Maguwoharjo.

Menurut Rambat, akses informasi yang masih sulit ketika itu menjadi salah satu sebab banyak warga jadi korban erupsi. Padahal, BPPTK telah mengeluarkan peringatan dini.

Pengalaman itulah yang mendorongnya terlibat dalam KSM yang terbentuk pada Juli 2011. Anggotanya pernah mencapai 100 orang, kini tinggal 35 relawan aktif. Rambat menjabat ketua menggantikan Sugiyanto yang kini masuk TRC BPBD Sleman.

“Waktu itu banyak orang yang bahkan tidak saya kenal menolong kami. Dalam hati ‘suatu saat saya juga bisa menolong orang lain’, bisa balas budi,” kata Rambat ditemui di rumahnya, Selasa (25/11/2025).

Getaran jendela dan abu yang menghujani rumahnya di tengah kegelapan masih membekas di benaknya. Kekhawatiran dan ketakutan akan erupsi berikutnya tetap ada, tetapi ia telah memiliki pengetahuan dan ilmu yang membuatnya siap.

Meski berada di Lereng Merapi, KSM juga terlibat dalam evakuasi di luar wilayah. Bencana hidrometeorologi juga menjadi atensi mereka. Hujan deras disertai angin kencang berpotensi menimbulkan tanah longsor dan pohon tumbang. Bencana semacam ini tak kalah mengancam dari erupsi.

Jaminan Sosial

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman telah menggulirkan program fasilitasi Jaminan Sosial Ketenagakerjaan (Jamsostek). Kerja sama dengan BPJS Ketenagakerjaan terus ditingkatkan setiap tahun. Sasarannya pun telah diperluas hingga menyasar sektor informal yang mana sukarelawan kebencanaan termasuk di dalamnya.

“Kalau kepesertaan Jamsostek, sudah 95 persen di KSM. Hampir semua anggota sudah jadi peserta, saya juga sudah. Anggota yang belum, paling hanya karena administrasi saja. Kemarin saya sudah diminta mengirim data keanggotaan yang baru untuk didaftarkan keanggotaannya,” katanya.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman, Uun Mardiyanto, menyebut ada sekitar 2.480 sukarelawan kebencanaan yang telah menjadi peserta Jamsostek per 14 November 2025.

Ribuan relawan itu tersebar di 70 komunitas di seluruh kapanewon di Kabupaten Sleman. Ia tahu betul risiko menjadi relawan. Paling tidak, Jamsostek memberikan rasa aman.

“Tapi kami tidak berharap ada klaim. Kalau ada, itu berarti ada yang menjadi korban. Kami tetap memaksimalkan di upaya pencegahan untuk membuat mereka aman ketika bekerja,” kata Uun di Kantor BPBD Sleman, Jumat (14/11).

BPBD terus memutakhirkan data karena relawan bukan profesi tetap. Pendataan secara berkala memungkinakan penyisiran relawan yang belum terdaftar.

Sementara itu Kepala Bidang Kepesertaan Program Khusus dan Keagenan BPJS Ketenagakerjaan Yogyakarta, Ahmad Athobarry, juga memiliki pandangan serupa terkait risiko yang mengancam relawan. Semua relawan baik di lereng gunung maupun perdesaan dan perkotaan memiliki risiko yang sama.

Sukaelawan kebencanaan akan bekerja selama 24 jam apabila terjadi bencana. Hal ini bisa meningkatkan potensi kecelakaan kerja lantaran kelelahan.

Ia mencatat ada sekitar 3.900 relawan kebencanaan di Kabupaten Sleman, dengan 2.500 telah terdaftar dalam dua program: Jaminan Kecelakaan Kerja dan Kematian. Sisanya masih dalam proses pendaftaran.

Data itu menunjukkan satu hal: relawan bukan sekadar pekerja sosial, tetapi penyelamat nyawa yang mempertaruhkan keselamatannya tanpa imbalan. Perlindungan sosial menjadi satu-satunya pagar yang memastikan mereka — dan keluarga mereka — tidak kehilangan segalanya ketika risiko datang.

“Relawan juga tidak menerima gaji. Kalau terjadi risiko, relawan bisa mengalami kerugian besar. Kalau bukan BPJS Ketenagakerjaan siapa yang akan melindungi,” kata Athobarry dihubungi, Rabu (19/11).

Membuka Peluang Hidup

Pada Juni 2006, Gunung Merapi juga mengalami erupsi hingga menewaskan dua relawan kebencanaan. Sepenuturan Pengurus Saluran Komunikasi Sosial Bersama (SKSB) Cangkringan, Remon Temon Temu Slamet, 48, mereka berniat menghindari awan panas dengan berlindung di Bunker Kaliadem yang akhirnya tertimbun material. Awan panas pun memanggang dua relawan itu.

“Saya bisa mengklaim relawan meninggal di bunker itu anggota SKSB. Soalnya waktu itu fasilitasi kegiatan mereka lewatnya ya SKSB,” kata Remon di rumahnya, Senin (17/11).

Peristiwa itu semakin menguatkan potensi risiko yang menghadang para sukarelawan. Kerentanan sukarelawan perlu mendapat penjaminan Jamsostek. Hampir semua anggota SKSB juga sudah mendapat fasilitas Jamsostek. Namun, Remon tak berharap ada klaim, yang berarti ada korban.

Lebih jauh, Remon menjelaskan kunci keberhasilan evakuasi adalah pengetahuan dan koordinasi. Pada erupsi 2010, ia dan paguyuban melakukan evakuasi warga di Kalurahan Kepuharjo.

“Kalau paham tentang radius dampak erupsi, mengerikan. Artinya, di mana pun kita tidak selamat. Tapi, saya yakin dengan ilmu pengetahuan yang pernah saya dapat. Saya berada di mana dan kondisi 22 warga yang saya bawa, saya paham. Alhamdullilah, 5 November 2010 saya berada di titik yang aman,” ucapnya.

Ketua Forum Komunikasi Komunitas Relawan Sleman (FKKRS), Yoga Nugroho Utomo, memberi contoh lain bagaimana setiap upaya penanganan kedaruratan memiliki risikonya masing-masing. Salah satunya adalah pemangkasan atau pemotongan dahan pohon tumbang.

Ada seorang sukarelawan yang jatuh dari pohon berakibat cedera, sehingga harus dibawa ke rumah sakit. Ada juga yang tertimpa pohon ketika sedang melakukan penanganan di Kapanewon Cangkringan.

Selain memperhatikan keselamatan korban, Yoga meminta setiap relawan mengedepankan keselamatan diri sendiri. Ia juga aktif mendata setiap relawan agar tidak ada yang tertinggal sebagai penerima Jamsostek.

Jamsostek memberi rasa aman. Ia bercerita ada satu relawan meninggal dunia yang masih memiliki tanggungan satu anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar (SD). Satu relawan lain yang meninggal bahkan memiliki tiga anak. Tanpa santunan, sulit bagi istri almarhum untuk membiayai kehidupan dan pendidikan ketiga anak ini. Jamsostek hadir untuk memastikan keberlanjutan masa depan anak.

“Kami tidak ingin aspek sosial ekonomi teman-teman relawan terganggu selama menjalankan tugas. Bahkan ketika relawan meninggal, ia masih bisa memberikan penghidupan untuk keberlangsungan keluarganya,” kata Yoga.

Menurut Yoga, relawan kebencanaan, utamanya yang berbasis di lereng Gunung Merapi, telah mampu melakukan penanganan secara sistematis. Ia mengamati proses penanganan kedaruratan ketika erupsi freatik Merapi 2018, evakuasi terhadap kelompok rentan di Kalurahan Glagaharjo berjalan lancar dan rapi. Begitu pun dengan penanganan erupsi 2020.

Sejak 5 November 2020, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menaikkan status Gunung Merapi dari Waspada (level II) ke Siaga (level III). Hingga saat ini, status tersebut belum juga diturunkan.

Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi pada Merapi. Kemungkinannya ada dua: penurunan status ke Waspada atau justru naik ke Awas. Selama ancaman tetap ada, relawan akan selalu berdiri di garis depan dan jaminan sosial memastikan mereka tidak berdiri sendirian.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Pengamat: RDMP Balikpapan Kunci Kurangi Impor BBM

Pengamat: RDMP Balikpapan Kunci Kurangi Impor BBM

News
| Sabtu, 29 November 2025, 23:37 WIB

Advertisement

Kemenpar Kenalkan Wisata Banyuwangi-Bali ke Pasar Global

Kemenpar Kenalkan Wisata Banyuwangi-Bali ke Pasar Global

Wisata
| Sabtu, 29 November 2025, 14:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement