Advertisement
Asal-usul Nama Padukuhan Gunting di Bantul
Warga melintas di gerbang menuju padukuhan Gunting, Gilangharjo, Pandak belum lama ini. Nama daerah yang unik ini diyakini berasal dari keberadaan dua pohon yang menyilang dan berbentuk gunting. - Harian Jogja/Yosef Leon.
Advertisement
Harianjogja.com, BANTUL—Nama Padukuhan Gunting di Kelurahan Gilangharjo, Kapanewon Pandak, Kabupaten Bantul, kerap memancing rasa penasaran. Bukan karena warganya gemar menjahit, melainkan karena jejak sejarah dan bentang alam yang unik.
Nama Gunting diyakini berasal dari dua pohon besar—pohon pelem dan pohon poh—yang tumbuh menyilang menyerupai gunting di kawasan Sendang Plempoh. Cerita lisan warga menyebutkan nama tersebut diberikan oleh Kiai Selarong, prajurit Pangeran Diponegoro yang pertama membuka wilayah itu.
Advertisement
Kawasan Sendang Plempoh sendiri diyakini pernah menjadi tempat persinggahan dan markas pelarian pada masa konflik sebelum kemerdekaan. Keberadaan mata air yang jernih menjadikan lokasi itu strategis sekaligus sakral hingga kini.
Nama Padukuhan Gunting mungkin kerap memancing senyum sekaligus rasa penasaran bagi sebagian orang. Toponimi wilayah itu bukan karena di sana warganya gemar menjahit, melainkan karena keberadaan dua buah pohon yang bersilangan dan seperti membentuk gunting.
BACA JUGA
Masyarakat dan tokoh warga di wilayah itu meyakini nama daerahnya diambil dari pohon Pelem (mangga) dan pohon Poh (kepuh) atau Jangkang di area Sendang Plempoh yang tumbuh menyilang. Kedua pohon itu kemudian dijadikan nama oleh Kiai Selarong, prajurit Pangeran Diponegoro yang membuka dusun itu untuk pertama kalinya.
Kawasan Gunting dulunya dijadikan tempat pelarian dan markas dari pihak musuh. Lokasi awal kegiatan mereka berada di Sendang Plempoh yang kini jadi tempat bersejarah dan letaknya di pinggir jalan utama padukuhan ini. Keberadaan mata air yang jernih kemungkinan besar jadi alasan lokasi itu dijadikan tempat beristirahat.
Dukuh Gunting, Tumilan mengatakan, pascakemerdekaan wilayah ini sempat masuk Pedukuhan Karanggede. Namun karena wilayah Karanggede relatif kecil, masyarakat kemudian meminta perluasan hingga mencakup wilayah Gunting. Sejak itu, nama Gunting resmi melekat sebagai identitas padukuhan.
Cerita tentang Kiai Selarong memang tidak terdokumentasi secara tertulis, tetapi diwariskan lisan dari generasi ke generasi. Bahkan, kesaksian para sepuh yang lahir sekitar tahun 1920-an menguatkan cerita bahwa wilayah ini memang menjadi bagian dari lintasan sejarah perang sebelum kemerdekaan.
Sendang Plempoh dan Tradisi yang Tetap Hidup
Menurut Tumilan Sendang Plempoh menjadi simpul budaya dan spiritual bagi warganya. Sampai sekarang lokasi itu bukan hanya jadi sumber air, melainkan ruang sosial dan ritual banyak orang. Salah satu tradisi yang masih lestari adalah Baritan Saparan, digelar setiap bulan Safar pada Jumat Pon. Tradisi ini menjadi wujud ungkapan syukur kepada Tuhan atas berbagai karunia, kesembuhan dari sakit, kelancaran rezeki, hingga keberhasilan mendapatkan pekerjaan.
Warga membawa ubarampe berupa ingkung dan hidangan tradisional, lalu berdoa dan makan bersama. Sekitar 40–50 orang biasanya terlibat dalam ritual ini. Sederhana, tetapi sarat makna lewat berbagi rasa syukur dengan cara duduk melingkar. "Tradisi ini masih terus dilestarikan dan dipertahankan warga," jelasnya.
Selain itu, dulu di lokasi sendang juga rutin menjadi lokasi pengajian, dzikir, tahlil, dan doa bersama setiap malam Jumat. Kegiatan seni dan budaya pun masih hidup di Padukuhan Gunting, mulai dari kerawitan, selawatan, ketoprak, hingga mocopatan. Tradisi hajatan, kenduri, dan merti dusun tetap berjalan, menjadi bukti bahwa modernitas belum memotong akar budaya di sini.
"Akar tradisi dan juga semangat nguri-uri budaya jadi salah satu pengikat dan identitas wilayah kami," katanya.
Kampung Pembatik di Dataran Kering
Secara geografis, Padukuhan Gunting berada di dataran tinggi yang relatif kering. Laiknya desa, kawasan perumahan masih relatif jarang di daerah ini. Hanya saja sektor pertanian tidak terlalu dominan jadi profesi warga. Sebaliknya, warga justru menemukan air kehidupan lain dari industri batik.
Padukuhan Gunting terdiri dari empat RT dengan jumlah penduduk sekitar 871 jiwa atau sekitar 300-an kepala keluarga. Sejak tahun 1960-an, mayoritas warganya menekuni profesi sebagai pembatik. Aktivitas ini bertahan lintas generasi dan menjadi identitas ekonomi wilayah itu.
Batik Gunting tidak hanya hadir sebagai busana. Warga juga memproduksi batik painting berupa hiasan dinding yang dibuat dengan teknik canting, bukan kuas. Produk ini menyasar pasar luar negeri, dengan segmentasi konsumen mancanegara. Dari kampung yang namanya terdengar sederhana, lahir karya yang justru berkelas global.
Jejak sejarah, alam, dan tradisi membuat Padukuhan Gunting bukan sekadar nama, melainkan identitas yang terus hidup di tengah masyarakat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Banjir dan Longsor di Jepara Rusak Akses hingga Puluhan Titik
Advertisement
Destinasi Favorit Terbaru di Sleman, Tebing Breksi Geser HeHa Forest
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement



