Advertisement
Surplus Beras Kulonprogo 2025, Produksi Padi Tembus 60.895 Ton
Panen padi / Ilustrasi Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, KULONPROGO—Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Kulonprogo mencatat produksi beras 2025 mencapai 60.895 ton, menegaskan posisi daerah ini sebagai wilayah surplus beras dan mandiri dalam pemenuhan pangan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Kulonprogo menunjukkan produktivitas pertanian padi daerah ini berada pada level kuat dan berkelanjutan. Sepanjang 2025, Kulonprogo mampu memenuhi kebutuhan beras secara mandiri dari produksi internalnya, bahkan berada dalam kondisi surplus.
Advertisement
Pelaksana Tugas Kepala BPS Kulonprogo, Sudiyana, mengungkapkan bahwa angka sementara sepanjang 2025 mencatat gabah kering panen (GKP) mencapai 132.568 ton. Dari jumlah tersebut, dikonversikan menjadi gabah kering giling (GKG) sebanyak 107.205 ton.
“Jika dikonversikan menjadi beras, jumlahnya sekitar 60.895 ton,” ujarnya saat dikonfirmasi, Senin (12/1/2026).
Sudiyana menjelaskan, ketahanan pangan daerah diukur melalui Indeks Ketahanan Pangan yang dirilis Badan Pangan Nasional (Bapanas). Indeks tersebut dihitung berdasarkan empat aspek utama, yakni ketersediaan, keterjangkauan, pemanfaatan, serta komposit, dengan skala 1 hingga 6.
BACA JUGA
“Skala 1–3 tergolong rentan, sedangkan skala 4–6 masuk kategori tahan. Kabupaten Kulonprogo berada pada skala 5, artinya termasuk daerah dengan ketahanan pangan yang kuat,” tuturnya.
Ia merinci, indeks ketersediaan pangan Kulonprogo berada pada angka 60,40, indeks keterjangkauan 76,67, indeks pemanfaatan 79,94, dan indeks komposit 72,31. Dengan capaian tersebut, status ketahanan pangan Kulonprogo tetap berada pada kategori aman.
Sementara itu, Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertapang) Kulonprogo memastikan kondisi ketahanan pangan daerah, khususnya komoditas padi, tetap berada pada level aman dan surplus sepanjang 2025. Meski sempat terdampak cuaca ekstrem, produksi padi secara keseluruhan dinilai tidak mengalami gangguan signifikan.
Kepala Bidang Produksi dan Perlindungan Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Dispertapang Kulonprogo, Wazan Mudzakir, menegaskan bahwa istilah yang lebih tepat untuk kondisi daerah adalah surplus, bukan sekadar swasembada. Menurutnya, Kulonprogo tidak pernah mengalami defisit pangan karena produksi beras selalu melampaui kebutuhan konsumsi penduduk.
“Produksi beras di Kulonprogo saat ini tercatat jauh melampaui indeks konsumsi beras per kapita penduduk setempat,” ucapnya.
Wazan mengungkapkan, sejumlah titik pertanian memang sempat terdampak banjir beberapa waktu lalu. Terkait fenomena cuaca ekstrem tersebut, Dispertapang telah melakukan identifikasi dampak secara mendetail. Pada tahap awal, sekitar 2.800 hektar lahan padi terdata terdampak banjir.
Namun, setelah pengamatan intensif selama empat hari, hanya sebagian kecil lahan yang mengalami kerusakan permanen.
“Lahan rusak hanya 7 hektar yang dinyatakan gagal panen akibat terendam air selama empat hari berturut-turut,” bebernya.
Dengan kondisi produksi yang tetap tinggi dan kerusakan lahan yang sangat terbatas, surplus beras Kulonprogo 2025 dinilai tetap terjaga, sekaligus memperkuat posisi daerah ini sebagai penyangga ketahanan pangan di wilayah DIY.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
TNI Evakuasi 18 Karyawan Freeport dari Ancaman OPM di Papua
Advertisement
Malaysia Perkenalkan Panda Raksasa Baru Chen Xing dan Xiao Yue
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement



