Advertisement
Budidaya Biofloc Kian Diminati di DIY, Efisien Tekan Biaya Pakan Ikan
Budi daya ikan air tawar. / Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA— Teknik budidaya ikan biofloc semakin banyak diterapkan para pembudidaya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Metode ini dinilai mampu meningkatkan efisiensi produksi karena dapat menekan Food Conversion Ratio (FCR), sehingga kebutuhan pakan menjadi lebih hemat.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) DIY, Hery Sulistiyo Hermawan, mengatakan keterbatasan lahan menjadi tantangan utama sektor pertanian dan perikanan di DIY. Oleh karena itu, dibutuhkan teknologi yang mampu memaksimalkan hasil budidaya pada lahan yang terbatas.
Advertisement
“Salah satu solusi yang relevan adalah teknologi biofloc, yaitu sistem budidaya yang memanfaatkan kotoran ikan dan sisa pakan untuk diolah kembali menjadi sumber pakan,” ujarnya, Rabu (21/1/2026).
Menurut Hery, sisa pakan dan kotoran ikan sebenarnya masih mengandung nutrisi penting seperti protein, glukosa, dan karbohidrat. Dalam sistem biofloc, limbah tersebut tidak dibuang, melainkan diolah melalui aktivitas bakteri tertentu.
BACA JUGA
Teknologi biofloc bekerja dengan menumbuhkan bakteri yang merombak sisa pakan dan kotoran ikan menjadi mikroorganisme yang membentuk koloni atau floc. Floc inilah yang kemudian dapat dimakan kembali oleh ikan, sehingga sistem budidaya menjadi lebih efektif dan efisien.
“Pada sistem konvensional, sisa pakan dan kotoran ikan dibuang, padahal masih mengandung nutrisi. Biofloc justru memanfaatkannya kembali. Karena itu, teknologi ini lebih ramah lingkungan dan efisien,” katanya.
Hery menjelaskan, tidak semua jenis ikan cocok dibudidayakan dengan sistem biofloc. Ikan yang memiliki kemampuan menyerap nutrisi dari lingkungan, seperti lele, nila, dan patin, merupakan jenis yang paling sesuai.
Selain itu, sistem biofloc juga memungkinkan penggabungan beberapa komoditas ikan dalam satu siklus budidaya, misalnya lele dan nila.
“Ketika media lele sudah terlalu padat dan sisa pakan menumpuk, airnya bisa dialirkan ke kolam nila yang juga menggunakan biofloc. Nila akan memanfaatkan sisa nutrisi tersebut, sementara kualitas air di kolam lele kembali lebih baik,” paparnya.
Ia menambahkan, kebutuhan protein lele yang tinggi membuat sisa nutrisi dalam kotorannya cukup besar. Nutrisi tersebut dapat dimanfaatkan ikan nila sehingga tercipta sistem budidaya yang saling menguntungkan.
Efektivitas teknologi biofloc terlihat dari penurunan nilai FCR. Pada budidaya ikan nila, FCR dapat ditekan dari 1,2 menjadi 1,0, yang berarti 1 kilogram pakan menghasilkan 1 kilogram daging ikan.
Sementara pada budidaya lele, efisiensinya bahkan lebih tinggi dengan FCR mencapai 0,8, atau hanya membutuhkan 0,8 kilogram pakan untuk menghasilkan 1 kilogram daging ikan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Banjir Rendam Jalur Pantura Pati, Polisi Terapkan Rekayasa Arus
Advertisement
Diawali dari Langgur, Cerita Wisata Kepulauan Kei Dimulai
Advertisement
Berita Populer
- HGN ke-66, Persagi DIY Edukasi Gizi 24 Sekolah di Bantul
- Jalan Kelok 23 Bantul-Gunungkidul Ditargetkan Dibuka Juli 2026
- Pilkades Serentak Gunungkidul 2026 Tetap Manual, Ini Alasannya
- Dongkrak Kualitas Destinasi, DIY Targetkan Standar Global di JBM 2026
- Puluhan Siswa Sentolo Keracunan, MBG Jadi Dugaan Awal
Advertisement
Advertisement



