Advertisement
Pohon Tumbang di Sleman Dipicu Angin Kencang Saat Hujan Ekstrem
Tim Reaksi Cepat Badan Penanggulangan Bencana Daerah Sleman sedang memotong pohon tumbang di salah satu ruas jalan di Kalurahan Donoharjo, Kapanewon Ngaglik, Sleman, Kamis (10/4/2025). - ist - BPBD Sleman
Advertisement
Harianjogja.com, SLEMAN—Kejadian pohon tumbang masih mendominasi laporan dampak cuaca ekstrem di Kabupaten Sleman menyusul hujan deras yang disertai angin kencang pada akhir pekan lalu. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman mengungkap kombinasi angin kencang, petir, serta kondisi dan jenis pohon menjadi faktor utama pemicu kejadian tersebut.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sleman, Bambang Kuntoro, menjelaskan hujan deras sebenarnya tidak selalu berbahaya selama kondisi tanah stabil dan saluran air berfungsi baik. Risiko meningkat signifikan ketika hujan disertai angin kencang dan petir.
Advertisement
“Hujan ekstrem deras itu nggak apa-apa. Enggak masalah selama mungkin tanah kita tidak rapuh ya, yang kedua kondisi selokannya bagus semua itu enggak apa-apa masih bisa menampung lah,” ujar Bambang, Rabu (21/1/2026).
“Tetapi kalau hujan deras dengan angin, ini yang angin dan petir itu yang menjadi penyebab,” imbuhnya.
BACA JUGA
Menurut Bambang, angin kencang yang berputar tidak beraturan dapat menciptakan kondisi berbahaya dan memicu pohon tumbang secara tiba-tiba. Situasi tersebut diperparah dengan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai kemunculan tiga bibit siklon baru yang mendekati Pulau Jawa dan berpotensi meningkatkan cuaca ekstrem.
Ia menegaskan pentingnya mitigasi mandiri oleh masyarakat, salah satunya dengan memangkas pohon yang dinilai membahayakan lingkungan sekitar. Namun, tidak semua warga menyadari kondisi pohonnya sudah rawan roboh.
Bambang memaparkan, tingkat kerawanan pohon ditentukan oleh jenis dan kondisinya. Pohon yang masih pendek dan minim cabang relatif lebih aman dibanding pohon tinggi dengan banyak ranting. Jarak aman antara pohon dan bangunan setidaknya dua kali tinggi pohon.
“Jarak [pohon] dari rumah radius dua kali lontaran pohon itu masih aman lah rumahnya. Tapi kalau rumahnya satu kali radiusnya, satu kali pohon tumbang itu kan masih berbahaya kalau kena angin lontaran itu kan masih berbahaya,” jelasnya.
Berdasarkan jenis, Bambang menyebut sejumlah pohon memiliki karakter getas sehingga mudah patah saat tertiup angin kencang.
“Kalau pohon-pohon yang kuat, mangga masih kuat lah, rambutan masih kuat. Tapi kalau yang getas-getas itu kaya waru, talok, kemudian tepeng itu itu pohon-pohon getas itu, dahan-dahannya getas itu. Gampang patah, angin dikit sudah patah itu,” ungkapnya.
Pada peristiwa hujan dan angin kencang 17–18 Januari 2026 lalu, sejumlah pohon dilaporkan tumbang di Sleman, di antaranya pohon waru, alpukat, dan nangka. Menurut Bambang, bahkan pohon yang tergolong kuat tetap berpotensi roboh apabila diterpa angin berkecepatan tinggi.
“Sebenarnya masih kuat pohonnya, cuman karena anginnya cukup gede, angin gede ya pohon seberapa pun [bisa roboh],” tuturnya.
Menghadapi musim hujan yang masih berlangsung, BPBD Sleman menyiagakan personel selama 24 jam. Dari sisi pencegahan, BPBD juga telah mengirimkan surat kewaspadaan kepada organisasi perangkat daerah (OPD), kapanewon, dan kalurahan untuk meningkatkan mitigasi bencana hidrometeorologi.
“Sudah kami bersurat untuk melakukan mitigasi: rabas-rabas pohon, bersih-bersih saluran, kerja bakti, kemudian mempersiapkan peralatannya untuk mitigasinya,” kata Bambang.
Ia berharap pohon maupun bangunan yang berpotensi membahayakan dapat teridentifikasi lebih awal agar penanganan bisa segera dilakukan oleh instansi terkait.
“Minimal juga identifikasi mana-mana sekiranya pohon atau bangunan yang membahayakan sehingga kita OPD yang berkaitan dengan ketugasan itu bisa langsung mengeksekusi,” ujarnya.
Sebelumnya, Bupati Sleman Harda Kiswaya meninjau langsung rumah warga di Dusun Sidorejo, Hargobinangun, yang rusak akibat tertimpa pohon tumbang saat hujan deras dan angin kencang pada Sabtu (17/1/2026). Dalam kunjungan tersebut, Harda memastikan koordinasi lintas OPD dilakukan untuk mempercepat bantuan dan perbaikan rumah warga terdampak.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Diawali dari Langgur, Cerita Wisata Kepulauan Kei Dimulai
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement




