Advertisement

BPBD Catat 73 Titik Kerusakan Akibat Angin Kencang di Sleman

Catur Dwi Janati
Sabtu, 24 Januari 2026 - 18:37 WIB
Maya Herawati
BPBD Catat 73 Titik Kerusakan Akibat Angin Kencang di Sleman Foto ilustrasi. Salah satu rumah di Berbah, Sleman, yang rusak akibat tertimpa pohon tumbang. - Antara - ist/BPBD Sleman

Advertisement

Harianjogja.com, SLEMAN—Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman mencatat sedikitnya 73 titik kerusakan akibat fenomena angin kencang yang melanda wilayah Kabupaten Sleman. Bencana ini menyebabkan dua orang meninggal dunia serta lima warga lainnya mengalami luka-luka, selain merusak rumah, fasilitas umum, dan jaringan listrik.

Peristiwa angin kencang tersebut dilaporkan terjadi di 10 kapanewon dengan sebaran dampak yang cukup luas. Berdasarkan data terbaru hingga pukul 15.30 WIB, BPBD Sleman menerima laporan kerusakan dari berbagai wilayah dengan karakteristik kerusakan yang beragam, mulai dari pohon tumbang hingga robohnya infrastruktur.

Advertisement

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sleman, Bambang Kuntoro, menjelaskan angin kencang bergerak melintasi sejumlah kawasan dan menimbulkan dampak signifikan. Sepuluh kapanewon yang dilaporkan terdampak meliputi Kapanewon Cangkringan, Depok, Kalasan, Ngaglik, Ngemplak, Pakem, Seyegan, Sleman, Tempel, dan Turi. Jika diakumulasi, total laporan kerusakan mencapai 73 titik di seluruh wilayah tersebut.

“Pergerakan angin ini tidak disertai adanya potensi hujan, namun berdampak kerusakan di beberapa wilayah,” ungkap Bambang, Sabtu (24/1/2026).

Dari seluruh wilayah terdampak, Kapanewon Cangkringan tercatat sebagai daerah dengan jumlah laporan terbanyak. Bambang menyebutkan terdapat 20 titik kerusakan di wilayah tersebut. Dampaknya meliputi rumah rusak ringan, 23 pohon tumbang, lima jaringan listrik terdampak, dua tempat usaha rusak, serta satu tower dilaporkan roboh.

Selain Cangkringan, dampak angin kencang dengan intensitas tinggi juga tercatat di Kapanewon Pakem dan Kapanewon Turi. Masing-masing wilayah tersebut mengalami kerusakan di 15 titik.

Di Kapanewon Pakem, Bambang merinci kerusakan berupa 10 pohon tumbang, delapan rumah rusak ringan, tiga jaringan listrik terdampak, dua jaringan telepon atau wifi, serta satu orang mengalami luka ringan.

Sementara itu, di Kapanewon Turi tercatat 11 pohon tumbang, sembilan rumah rusak ringan, satu kandang, satu fasilitas ibadah, dan tiga jaringan listrik terdampak dari total 15 titik kejadian.

Adapun di Kapanewon Tempel, angin kencang berdampak di sembilan titik dengan rincian sembilan pohon tumbang serta empat rumah mengalami kerusakan ringan.

Berbeda dengan wilayah lain, dampak terparah dari sisi korban jiwa terjadi di Kapanewon Depok. Bambang menyebutkan terdapat dua titik terdampak di wilayah tersebut dengan kerusakan dua pohon tumbang, dua unit sepeda motor, satu jaringan listrik, serta dua orang meninggal dunia.

“Ada dua yang meninggal dunia, sudah dengan tim forensiknya RS Bhayangkara,” ujarnya.

Bambang menjelaskan kondisi angin kencang ini dipengaruhi oleh pergerakan angin dari arah Barat Laut DIY yang diperkuat oleh lapisan angin di bagian atas. Berdasarkan pantauan Automatic Weather Station (AWS) Pakem, kecepatan angin tercatat mencapai 35 kilometer per jam.

“Berdasarkan hasil pantauan AWS Pakem kecepatan angin tercatat mencapai 35 km/jam yang dipengaruhi oleh angin yang bergerak dari arah Barat Laut DIY, di mana lapisan atas juga kuat anginnya,” katanya. Secara keseluruhan, peristiwa ini menyebabkan dua warga meninggal dunia dan lima orang mengalami luka di Kabupaten Sleman.

Kepala Pelaksana BPBD Sleman, Raden Haris Martapa, menyampaikan fenomena angin kencang diperkirakan berlangsung selama tiga hari, dan Sabtu (24/1/2026) ini memasuki hari kedua kejadian.

“Mudah-mudahan ini segera nanti berkurang,” ujarnya.

Haris mengimbau masyarakat untuk memangkas pohon-pohon yang sudah menjulang tinggi dan berpotensi tumbang. Ia juga meminta warga memastikan kondisi perakaran pohon masih kuat serta memperhatikan saluran air di lingkungan sekitar agar tidak tersumbat, mengingat potensi banjir lokal yang bisa meluas jika aliran air terhambat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Denmark Tutup Akses Kangerlussuaq, Zona Militer Dibentuk di Greenland

Denmark Tutup Akses Kangerlussuaq, Zona Militer Dibentuk di Greenland

News
| Sabtu, 24 Januari 2026, 20:57 WIB

Advertisement

Festival Lampion Dinosaurus Zigong Tarik Wisatawan ke Sichuan

Festival Lampion Dinosaurus Zigong Tarik Wisatawan ke Sichuan

Wisata
| Sabtu, 24 Januari 2026, 15:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement