Advertisement
Pedagang Pasar Sleman Kian Sepi, Revitalisasi Dinilai Belum Menjawab
Pasar Pakem, Sleman. - ist - Wikipedia
Advertisement
Harianjogja.com, SLEMAN—Aktivitas pasar rakyat di Kabupaten Sleman dinilai terus mengalami kemunduran meski program revitalisasi gencar dilakukan pemerintah daerah. Paguyuban Pedagang Pasar Rakyat Sleman “Paman Sembada” menilai pembenahan fisik pasar belum sepenuhnya mampu mengembalikan geliat transaksi dan kunjungan pembeli seperti sebelumnya.
Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Rakyat Sleman “Paman Sembada”, Subadi, menegaskan pihaknya tidak menolak program revitalisasi pasar yang dijalankan pemerintah. Namun, ia menilai kebijakan tersebut perlu dilaksanakan secara menyeluruh dan melibatkan pedagang, terutama dalam pasar yang sebenarnya sudah berjalan secara alami.
Advertisement
“Intinya adalah bagaimana pedagang bisa mendapat untung lewat dagangan yang laku. Kami mendukung kok program pemerintah. Tapi perlu diperhatikan juga, kalau pasar yang memang sudah berjalan ya biarkan saja,” kata Subadi dihubungi, Minggu (25/1/2026).
Subadi mengungkapkan, aktivitas jual beli di sejumlah pasar rakyat mulai berkurang secara signifikan. Kondisi ini ditandai dengan menurunnya jumlah pengunjung serta pedagang yang memilih tidak lagi menyewa kios atau los. Ia juga menyoroti dinamika pasar tradisional yang hanya ramai pada hari-hari tertentu dalam penanggalan Jawa, seperti Pon dan Legi, yang kerap luput dari perhitungan kebijakan.
BACA JUGA
Meski tidak memiliki data kuantitatif, Subadi mengamati penurunan paling terasa di Pasar Perjuangan Srowolan, Kapanewon Pakem; Pasar Setum, Ngaglik; serta Pasar Gentan, Ngaglik. Selain itu, pedagang sayur keliling disebut menjadi pesaing serius pasar rakyat.
“Pedagang keliling pakai motor di depan rumah saya saja sehari bisa ada empat. Kalau mereka kulakan di Sleman masih bisa saya pahami. Tapi mereka itu justru kulakan di luar seperti Muntilan. Meski di sana produsen, tapi perlu ada solusi hal ini,” ujarnya.
Ia mengakui, paguyuban pedagang tidak memiliki kekuatan besar untuk menyuarakan persoalan ini secara luas. Keluhan terkait merosotnya pasar rakyat dan tantangan pedagang di tengah perubahan pola belanja masyarakat lebih sering hanya dibicarakan antar sesama pedagang.
Lebih lanjut, Subadi menekankan pentingnya tata kelola pasar pasca-revitalisasi, khususnya pasar dengan bangunan bertingkat. Ia mencontohkan Pasar Prawirotaman di Kota Jogja, yang meski berada di kawasan perkotaan, tetap sepi pembeli di lantai atas.
Menurutnya, Pemkab Sleman perlu melakukan kajian komparatif sebelum memutuskan konsep revitalisasi, agar bangunan baru tidak justru menghambat aktivitas perdagangan.
“Kalau begini terus, secara alami, saya perkirakan pasar rakyat akan tutup. Di Jakarta saya dengar juga sudah ada yang tutup. Kalau di Sleman seperti Srowolan, Setum, Nosari tinggal beberapa orang,” ucapnya.
Sebelumnya, Kepala Disperindag Sleman, RR Mae Rusmi Suryaningsih, menyampaikan bahwa revitalisasi pasar merupakan respons terhadap perubahan zaman. Menurutnya, pasar rakyat perlu beradaptasi dengan karakter masyarakat modern dan perkembangan wilayah.
Salah satu faktor yang disorot adalah kehadiran Tol Jogja–Solo dan Jogja–Bawen. Pemerintah daerah menilai exit tol membuka peluang ekonomi baru, sehingga pasar perlu dikembangkan menjadi ruang belanja sekaligus destinasi wisata yang lebih representatif.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Kementerian LH Libatkan Ahli untuk Mitigasi Longsor Cisarua
Advertisement
Festival Lampion Dinosaurus Zigong Tarik Wisatawan ke Sichuan
Advertisement
Berita Populer
- Jadwal Lengkap KRL Jogja-Solo Minggu 25 Januari 2026, Tarif Rp8.000
- Jadwal Lengkap KRL Solo ke Jogja Minggu 25 Januari 2026, Cek di Sini
- Pelaku Industri Perikanan DIY Dilibatkan dalam Program MBG
- Cek Jam Berangkat KA Prameks Jogja-Kutoarjo Hari Ini
- KA Bandara YIA Reguler dan Xpress, Ini Jadwal Terbarunya
Advertisement
Advertisement



