Anggaran Dipangkas, Normalisasi Sungai Jogja Terancam Tersendat
Normalisasi sungai di Jogja terhambat pemangkasan anggaran. BBWSO dan Pemkot andalkan kolaborasi untuk tangani Kali Code.
Foto ilustrasi sampah organik. - Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Kelurahan Cokrodiningratan, Kota Jogja, terus memperkuat pengolahan sampah organik dengan membangun biopori jumbo sebagai upaya menekan timbulan sampah harian di wilayahnya. Hingga saat ini, sembilan titik biopori jumbo telah beroperasi dan dimanfaatkan untuk mengolah sampah organik, terutama yang berasal dari transporter sampah.
Upaya tersebut menjadi bagian dari strategi pengelolaan sampah berbasis wilayah yang diterapkan Kelurahan Cokrodiningratan, seiring dengan kebijakan pembatasan pembuangan sampah organik ke depo sejak awal 2026.
Lurah Cokrodiningratan Andityo Bagus menjelaskan, biopori jumbo yang dibangun memiliki diameter sekitar 80 sentimeter dengan kedalaman mencapai lima buis beton. Sarana tersebut dimanfaatkan sebagai tempat pengolahan sampah organik basah dan kering sebelum residunya dibawa ke depo sampah.
“Sejak 1 Januari [20026] transporter sudah dilarang membawa sampah organik ke depo. Karena itu, sebelum ke depo transporter diarahkan untuk memilah sampah, terutama sampah organik basah dan kering, kemudian dikumpulkan di biopori jumbo yang ada di wilayah,” katanya, Senin (26/1/2026).
Menurut Andityo, keberadaan biopori jumbo terbukti cukup signifikan dalam menekan volume sampah. Sampah organik yang diolah melalui sistem tersebut mampu mengurangi timbulan sampah hingga sekitar 60 persen. Sebelum penerapan biopori jumbo, volume sampah harian di Kelurahan Cokrodiningratan tercatat mencapai sekitar 9 ton per hari.
Ia menuturkan, penggunaan biopori jumbo mulai diterapkan sejak November 2025 dan semakin diintensifkan pada Desember 2025, seiring dengan pemberlakuan kebijakan wajib pengolahan sampah organik yang efektif berjalan mulai Januari 2026.
“Saat ini sudah ada biopori yang penuh. Setelah penuh, biopori harus menunggu sekitar satu bulan sebelum bisa dipanen,” ujarnya.
Lebih lanjut, Andityo menyampaikan bahwa dalam proses panen, apabila lokasi biopori jumbo dapat dijangkau, pihak kelurahan akan meminta dukungan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Jogja. Hasil panen biopori berupa kompos nantinya dapat dimanfaatkan kembali oleh masyarakat, seperti untuk kelompok tani (gapoktan) maupun mendukung kegiatan pertanian perkotaan.
Ke depan, Kelurahan Cokrodiningratan menargetkan pembangunan total 16 titik biopori jumbo guna memperluas cakupan pengolahan sampah organik di tingkat wilayah. Untuk merealisasikan target tersebut, pihak kelurahan masih terus menggalang dukungan melalui program corporate social responsibility (CSR) agar pengelolaan sampah oleh transporter dapat berjalan semakin optimal.
“Target kami 16 biopori. Kami masih terus mengumpulkan CSR agar pengolahan sampah oleh transporter bisa semakin maksimal,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Normalisasi sungai di Jogja terhambat pemangkasan anggaran. BBWSO dan Pemkot andalkan kolaborasi untuk tangani Kali Code.
KPP Pratama Bantul menyita tiga kendaraan operasional milik perusahaan dengan tunggakan pajak Rp17 miliar setelah proses penagihan sesuai aturan.
JTT mencatat 149.389 kendaraan melintas GT Cikampek Utama saat libur Idul Adha, naik 32% dibanding kondisi normal.
Jadwal KRL Jogja-Solo terbaru dengan tarif Rp8.000. Simak jam keberangkatan lengkap dari Yogyakarta hingga Palur untuk perjalanan lebih praktis.
Jadwal KRL Solo-Jogja terbaru dengan tarif Rp8.000. Cek jam keberangkatan dari Palur hingga Yogyakarta untuk perjalanan lebih praktis.
Panglima TNI Agus Subiyanto meminta alumni SMA Taruna Nusantara menjadi generasi adaptif, berkarakter, dan berintegritas menuju Indonesia Emas 2045.