Advertisement
BPBD Gunungkidul Belum Naikkan Status Tanggap Darurat
Ilustrasi bencana di Gunungkidul. - ist - BPBD Gunungkidul
Advertisement
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Pemerintah Kabupaten Gunungkidul memastikan belum menaikkan status penanganan bencana menjadi tanggap darurat, meski dalam beberapa hari terakhir terjadi sejumlah bencana hidrometeorologi, terutama di wilayah zona utara. Hingga kini, status yang berlaku masih siaga darurat.
Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul Purwono mengatakan, kondisi di lapangan masih dapat ditangani dengan sumber daya yang tersedia. Oleh karena itu, belum ada kebutuhan untuk menetapkan status tanggap darurat bencana.
Advertisement
“Belum kami naikkan menjadi tanggap darurat. Saat ini masih siaga darurat bencana hidrometeorologi,” ujar Purwono, Jumat (20/2/2026).
Ia menjelaskan, seluruh penanganan bencana masih menggunakan anggaran reguler yang dimiliki BPBD. Pemerintah daerah belum mengakses dana Belanja Tidak Terduga (BTT) karena situasi dinilai masih terkendali.
BACA JUGA
“Penanganan masih mampu dilakukan dengan anggaran BPBD,” katanya.
Purwono menambahkan, upaya penanganan terus dilakukan di sejumlah lokasi terdampak. Salah satunya di Kalurahan Tancep, Kapanewon Ngawen, yang sebelumnya dilanda banjir dan longsor. Hingga kini, kegiatan pembersihan material sisa bencana masih berlangsung.
“Sore ini kami kembali menyalurkan bantuan permakanan bagi warga terdampak,” ungkapnya.
Selain bantuan logistik, BPBD juga berencana membuka kembali aliran sungai yang tertutup material longsor. Penutupan aliran sungai tersebut sebelumnya memicu banjir bandang yang menggenangi rumah warga di Padukuhan Jono, Tancep, pada Selasa (17/2/2026).
“Aliran sungai kecil di sekitar permukiman tertutup longsor sehingga air mengalir ke rumah warga. Akan kami keruk menggunakan alat berat agar alirannya kembali normal,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Gunungkidul, Edy Winarta, menyebut cuaca ekstrem yang terjadi selama dua hari berturut-turut memicu berbagai bencana alam. Pada Selasa (18/2/2026), tercatat 37 titik longsor yang tersebar di Kapanewon Gedangsari, Nglipar, Ngawen, dan Semin.
Selain longsor, banjir juga dilaporkan terjadi di sembilan titik di Kalurahan Tegalrejo, Kapanewon Gedangsari. Dari kejadian tersebut, sebanyak 165 warga terdampak, dengan 113 jiwa di antaranya mengungsi ke lokasi yang lebih aman.
“Untuk kejadian Rabu, tercatat 27 pohon tumbang di sejumlah kapanewon serta 12 titik longsor di Gedangsari dan Nglipar,” katanya.
Edy memastikan, tidak ada korban jiwa dalam rangkaian bencana tersebut. Adapun total kerugian material akibat bencana yang terjadi pada Rabu diperkirakan mencapai Rp35,9 juta.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Perempuan Mengaku Pegawai KPK Ditangkap Setelah Tipu Pejabat DPR
Advertisement
Greenhouse Melon Ketitang Jadi Daya Tarik Baru Wisata di Klaten
Advertisement
Berita Populer
- Koperasi Desa Merah Putih di DIY Belum Optimal, Ini Kendalanya
- Pelajar Bantul Dikenalkan Pertanian, Siapkan SDM Unggul
- Petugas TPR JJLS Gunungkidul Dicopot Usai Viral Tiket Tak Sesuai
- Banjir Kali Belik Jogja Terulang, Sudetan Disiapkan Mulai Tahun Ini
- Menjelang Vonis, Kasus Hibah Pariwisata Sleman Menguat
Advertisement
Advertisement







