Advertisement
Ramadan, Nelayan Kulonprogo Tak Melaut akibat Cuaca
Nelayan sedang bekerja sama mendorong kapal ke pantai, di Pantai Bugel, Panjatan, Kulonprogo. - dok - Harian Jogja
Advertisement
Harianjogja.com, KULONPROGO—Nelayan di pesisir selatan Kabupaten Kulonprogo sudah beberapa pekan terakhir tidak melaut. Memasuki Ramadan, mereka bahkan belum sekali pun pergi ke lepas pantai untuk menangkap ikan karena cuaca tidak bersahabat dan hasil tangkapan yang minim.
Ketua DPC Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia Kulonprogo, Suratiman, mengatakan angin kencang dan hujan yang terus turun menyebabkan arus laut bergerak deras ke arah timur. Kondisi itu membuat ikan sulit ditangkap.
Advertisement
“Ketika arusnya tidak kencang atau cenderung ke arah barat, ikan mulai banyak,” katanya saat dikonfirmasi, Kamis (26/2/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut merata dirasakan nelayan di sepanjang pesisir Kulonprogo. Pada Kamis pagi, hujan dan angin kencang kembali terjadi sehingga tidak memungkinkan untuk melaut. Nelayan Pantai Trisik, Galur itu mengaku terakhir melaut pada awal Februari.
BACA JUGA
Saat itu, hasil tangkapan masih mencapai sekitar tiga kuintal dalam satu tempat pelelangan ikan (TPI). Namun seusai arus kembali deras, tangkapan merosot tajam. Bahkan, nelayan hanya memperoleh sekitar 10 kilogram ikan per kapal.
Suratiman belum bisa memastikan sampai kapan kondisi ini berlangsung. Ia berharap cuaca membaik pada Maret sehingga nelayan bisa kembali melaut dengan hasil tangkapan lebih baik.
Dalam situasi seperti ini, sebagian nelayan beralih profesi sementara menjadi petani. Suratiman sendiri mengaku fokus bertani hortikultura selama tidak melaut.
Sementara itu, Koordinator Satlinmas Rescue Istimewa Wilayah V Glagah, Aris Widihatmoko, membenarkan adanya peningkatan angin, hujan, dan gelombang tinggi di pesisir selatan Kulonprogo dalam beberapa hari terakhir.
Ia mengingatkan kondisi tersebut berbahaya jika nelayan memaksakan diri melaut. Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), hujan disertai angin kencang masih berpotensi terjadi dalam beberapa hari ke depan.
“Pantauan kami memang ada peningkatan angin dan hujan ditambah gelombang tinggi sehingga perairan cukup berbahaya karena ombaknya tinggi,” ujarnya.
Menurut Aris, ombak besar dapat membuat kapal nelayan rentan terbalik atau tenggelam. Selain mengancam keselamatan jiwa, kerusakan kapal juga menimbulkan kerugian besar.
Ia menyebut risiko seperti mesin mati saat diterjang ombak, jaring terlempar, hingga badan perahu patah atau pecah kerap terjadi apabila nelayan memaksakan melaut saat cuaca ekstrem.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
OTT Bea Cukai Berlanjut, KPK Tetapkan Tersangka Baru Budiman Bayu
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Kadin Sleman Gandeng LKP Perkuat SDM dan Wirausaha
- PSEL Bantul Ditarget Operasi 2028, Pemkab Siapkan Anggaran Rp5 Miliar
- Perbaikan 11 Ruas Jalan dan 3 Jembatan Sleman Diperbaiki Usai Lebaran
- Guru Besar UII Dukung Aksi Mahasiswa Tagih Janji Reformasi Polri
- Cuaca DIY 26-28 Februari, BMKG Wanti-wanti Hujan Lebat
Advertisement
Advertisement








