Advertisement
Minat Perangko Menurun, PFI Dorong Filateli Bangkit Lagi di Jogja
Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat PFI, Mahpudi (pertama dari kiri), Kepala Dinas Kebudayaan (Disbud) Kota Jogja, Yetti Martanti (tengah), dan Kepala Kantor Pos Jogja, Bebi Ahmed (ketiga dari kiri) dalam jumpa pers Hari Filateli Nasional 2026 dan Pengecapan Perdana Cap Slogan Hari Filateli Nasional 2026 di Kantor Pos Jogja pada Sabtu (28/3/2026). Harian Jogja - Stefani Yulindriani
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Menurunnya minat masyarakat terhadap perangko di tengah dominasi komunikasi digital mendorong upaya serius untuk menghidupkan kembali filateli. Kondisi ini mulai menjadi perhatian di Jogja dengan munculnya dorongan agar filateli kembali dikenal, terutama oleh generasi muda.
Upaya tersebut salah satunya diwujudkan melalui pencanangan Hari Filateli Nasional oleh Perkumpulan Filateli Indonesia bertepatan dengan ulang tahun ke-104 pada Minggu (29/3/2026).
Advertisement
Sekretaris Jenderal PFI, Mahpudi, menilai filateli selama ini kerap dipandang sekadar hobi, padahal memiliki fungsi lebih luas sebagai media edukasi dan komunikasi.
“Kegiatan ini perlu didukung pemerintah pusat, daerah, serta para pemangku kepentingan karena perangko dan filateli merupakan medium komunikasi yang memiliki dasar hukum kuat,” ujarnya di Kantor Pos Jogja, Sabtu (28/3/2026).
Sebagai bagian dari upaya menghidupkan kembali minat publik, PFI juga meluncurkan kembali cap slogan yang digunakan pada surat atau kartu pos untuk menyampaikan pesan pembangunan, promosi pariwisata, hingga kampanye sosial.
Kepala Kantor Pos Jogja, Bebi Ahmed, menyebut filateli perlu didorong agar tidak berhenti sebagai aktivitas koleksi semata, tetapi berkembang menjadi sarana pembelajaran yang relevan.
“Jogja dikenal sebagai kota budaya dan kota pelajar. Kami berharap filateli tetap terjaga sebagai sarana pelestarian budaya sekaligus edukasi bagi generasi muda,” ujarnya.
Fenomena penurunan minat ini juga disoroti oleh Kepala Dinas Kebudayaan Kota Jogja, Yetti Martanti, yang menilai perangko memiliki nilai autentik sebagai dokumentasi sejarah bangsa.
“Perangko bukan hanya alat administrasi atau pengiriman surat, tetapi media yang bercerita tentang sejarah dan budaya. Di tengah era digital, masyarakat mulai kembali mengapresiasi hal-hal yang unik dan memiliki nilai memori,” katanya.
Menurutnya, filateli bisa menjadi pintu masuk bagi generasi muda untuk memahami sejarah melalui media visual yang sederhana namun sarat makna.
“Di dalam perangko ada banyak hal yang bisa dipelajari. Ini menjadi bagian dari pengembangan kebudayaan, terutama di Jogja yang kaya nilai sejarah,” imbuhnya.
Ia menegaskan filateli memiliki posisi penting dalam ekosistem budaya karena merekam tokoh, peristiwa, dan lanskap secara permanen.
“Filateli bukan sekadar hobi, tetapi bagian dari perjalanan sejarah dan identitas bangsa. Perangko menjadi medium budaya yang merekam tokoh, peristiwa, dan lanskap secara permanen,” ujarnya.
Sebagai bagian dari respons terhadap isu tersebut, kegiatan Hari Filateli Nasional 2026 digelar di Taman Budaya Embung Giwangan dengan berbagai agenda, seperti seminar nasional, peluncuran buku kartu pos “Djocja”, pameran filateli, hingga lomba kreatif bagi pelajar dan workshop untuk guru serta mahasiswa.
Kegiatan ini diharapkan tidak hanya menjadi perayaan, tetapi juga strategi untuk menghidupkan kembali filateli sebagai media edukasi dan pelestarian budaya di tengah perubahan zaman.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Nasib Videografer Amsal Sitepu Disorot DPR, Hakim Diminta Ini
Advertisement
Musim Semi Tiba, Keindahan Bunga Sakura di Taman Yuyuantan Beijing
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement







