Advertisement

Refleksi Jumat Agung: Dari Pengorbanan Menuju Harapan

Jumali
Jum'at, 03 April 2026 - 08:47 WIB
Jumali
Refleksi Jumat Agung: Dari Pengorbanan Menuju Harapan Perayaan Jumat Agung yang merupakan peringatan wafat Yesus di kayu salin. - Youtube

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA — Jumat Agung 2026 menjadi momen hening yang mengajak umat Kristiani merenungkan arti pengorbanan dan harapan, saat peristiwa penyaliban Yesus Kristus kembali dikenang sebagai titik penting dalam iman.

Peringatan ini tidak hanya menjadi bagian dari tradisi keagamaan, tetapi juga menghadirkan pesan mendalam yang relevan dengan kehidupan sehari-hari, terutama tentang makna pengorbanan, pengampunan, dan harapan di tengah kesulitan.

Advertisement

Suasana gereja di berbagai daerah dipenuhi keheningan dan refleksi. Jumat Agung menjadi bagian paling sakral dalam Pekan Suci, saat umat mengenang wafatnya Yesus Kristus di Bukit Golgota sebagai simbol pengorbanan tertinggi bagi umat manusia.

Jejak Sejarah dan Makna Iman

Peristiwa Jumat Agung berakar dari rangkaian kejadian di Yerusalem, mulai dari pengkhianatan di Taman Getsemani hingga proses pengadilan di hadapan Pontius Pilatus. Setiap peristiwa tersebut mencerminkan ketaatan dan keteguhan iman dalam menghadapi penderitaan.

Dalam ajaran Kristiani, penderitaan Yesus kerap dikaitkan dengan nubuat Yesaya 53:5 yang menggambarkan luka sebagai jalan pemulihan. Penyaliban yang dijalani bukan dipandang sebagai kekalahan, melainkan bentuk kasih yang membawa keselamatan bagi dunia.

Mengapa Disebut Jumat Agung?

Istilah “Jumat Agung” sering menimbulkan pertanyaan karena identik dengan peristiwa penderitaan. Namun, kata “agung” merujuk pada makna besar dan suci dari peristiwa tersebut.

Secara historis, istilah “Good Friday” juga dimaknai sebagai hari suci, sejalan dengan ajaran dalam Roma 5:8 yang menekankan kasih sebagai inti dari pengorbanan Kristus. Dari sudut pandang iman, penderitaan ini justru melahirkan kebaikan terbesar bagi umat manusia.

Tradisi Ibadat yang Penuh Makna

Dalam praktiknya, setiap gereja memiliki tradisi berbeda. Di Gereja Katolik, umat tidak merayakan Ekaristi, melainkan mengikuti Ibadat Sabda dan penghormatan salib. Salah satu bagian paling reflektif adalah perenungan tujuh perkataan terakhir Yesus, termasuk “Sudah selesai” dalam Yohanes 19:30.

Selain itu, banyak umat menjalankan tradisi Jalan Salib sebagai bentuk perenungan perjalanan penderitaan Kristus. Suasana duka diperkuat dengan altar yang dikosongkan dan lonceng yang tidak dibunyikan, serta praktik puasa dan pantang sebagai wujud disiplin rohani.

Harapan di Tengah Keheningan

Di tengah suasana yang penuh duka, Jumat Agung justru menyimpan pesan harapan yang kuat. Nilai pengorbanan dan pengampunan menjadi refleksi penting yang tetap relevan dalam kehidupan modern.

Setelah melewati Jumat Agung, umat Kristiani akan menyambut Paskah sebagai simbol kebangkitan. Dari rangkaian ini, tersirat pesan bahwa di balik penderitaan selalu ada harapan baru yang menanti, sekaligus menjadi pengingat bahwa pengorbanan tulus dapat melahirkan kehidupan yang lebih baik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Advertisement

Harian Jogja

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Tak Hadir Panggilan KPK, Pengusaha Rokok Jadi Sorotan

Tak Hadir Panggilan KPK, Pengusaha Rokok Jadi Sorotan

News
| Jum'at, 03 April 2026, 11:07 WIB

Advertisement

Long Weekend April 2026: Cek Tanggal Merah Usai Lebaran

Long Weekend April 2026: Cek Tanggal Merah Usai Lebaran

Wisata
| Jum'at, 03 April 2026, 12:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement