Advertisement
Pusat Inklusi Disabilitas Hadir di Sleman Bawa Harapan Baru
Advertisement
Harianjogja.com, SLEMAN— Fasilitas pembelajaran inklusi disabilitas, Ohana Training Center, resmi beroperasi di Harjobinangun, Pakem, Sleman, membuka akses baru bagi penyandang disabilitas sekaligus memperkuat layanan pelatihan, advokasi, hingga pemberdayaan ekonomi.
Keberadaan pusat ini menjadi tonggak penting setelah 16 tahun organisasi Ohana berpindah-pindah lokasi. Kini, dengan gedung permanen, berbagai program dirancang lebih berkelanjutan dan menjangkau lebih luas, termasuk masyarakat umum, pemerintah, hingga sektor swasta.
Advertisement
Pendiri dan Direktur Eksekutif Ohana, Risnawati Utami, menegaskan bangunan tersebut sejak awal dirancang dengan prinsip aksesibilitas bagi penyandang disabilitas dan lansia.
“Ini adalah model bagi lembaga lain agar pembangunan memperhatikan kebutuhan penyandang disabilitas dan lansia,” ujarnya saat ditemui di pusat pelatihan, Senin (30/3/2026).
BACA JUGA
Ohana Training Center akan mengembangkan empat pilar utama, yakni pelatihan, penelitian, advokasi hukum, serta pemberdayaan ekonomi berbasis kerajinan tangan. Program ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran inklusi dalam pembangunan di berbagai sektor.
Selain itu, pusat ini juga mengusung nilai kepemimpinan perempuan yang menitikberatkan pada kepedulian, perdamaian, dan kesejahteraan. Perspektif ini dinilai menjadi alternatif terhadap budaya patriarki yang masih kuat.
Di tengah upaya tersebut, Ohana juga menyoroti minimnya kebijakan dan alokasi anggaran yang berpihak pada penyandang disabilitas. Efisiensi anggaran yang tidak mempertimbangkan kelompok rentan dinilai berpotensi melanggar hak asasi manusia.
Risnawati mengungkapkan, tren global menunjukkan peningkatan jumlah penyandang disabilitas dari sekitar 10% menjadi 20%. Kenaikan ini dipengaruhi oleh penyakit tidak menular, perubahan iklim, hingga dampak pandemi.
Bahkan, pada periode 2030–2050, jumlah lansia penyandang disabilitas diperkirakan meningkat signifikan, sehingga membutuhkan sistem layanan yang lebih adaptif.
Ia menegaskan penyandang disabilitas bukan beban negara. Kontribusi mereka bahkan diperkirakan bisa mencapai 1–7% terhadap produk domestik bruto (PDB), sehingga investasi dalam inklusi dinilai berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi.
Ke depan, Ohana akan fokus pada advokasi kebijakan serta penguatan layanan berbasis kebutuhan individu, termasuk penyediaan alat bantu seperti kursi roda yang dipersonalisasi sesuai kondisi pengguna.
Fasilitas ini juga dilengkapi layanan terapi serta pelatihan tenaga profesional yang mengacu pada standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Sistem keamanan dan penerangan 24 jam turut disiapkan untuk memastikan perlindungan, khususnya bagi perempuan dari risiko kekerasan berbasis gender.
Melalui pusat ini, Ohana berharap mendorong perubahan sistemik, termasuk integrasi anggaran berbasis perspektif disabilitas di tingkat nasional maupun daerah.
“Ini bukan hanya tempat untuk belajar, tetapi juga ruang untuk bergerak guna memastikan inklusi penyandang disabilitas menjadi bagian dari pembangunan masa depan Indonesia,” kata Risnawati.
Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, menyambut positif kehadiran fasilitas tersebut. Ia menilai pusat pelatihan dan warehouse ini dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
“Kalau melihat kursi roda secara umum, mungkin kita menganggapnya semua sama saja. Ternyata di OHANA ini, kursi roda itu ada berbagai macam tipe karena disesuaikan dengan kultur bentuk tubuh dan kebutuhan. Bahkan untuk atlet juga beda,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement










