Advertisement

Jomblo di Era Medsos Tak Lagi Sesederhana Dulu

Ariq Fajar Hidayat
Jum'at, 10 April 2026 - 15:17 WIB
Maya Herawati
Jomblo di Era Medsos Tak Lagi Sesederhana Dulu Acara Ruang Resah Jomblo Jogja (RSJJ) di Teras Malioboro Beskalan, Jumat (10/4/2026). - Harian Jogja - Ariq Fajar Hidayat

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA— Status jomblo di era media sosial kini tidak lagi dimaknai secara sederhana, karena individu menghadapi dua tekanan sekaligus, yakni standar baru dari dunia digital dan ekspektasi lama dari lingkungan sekitar.

Fenomena ini mencuat dalam talkshow Ruang Resah Jomblo Jogja yang digelar di Teras Malioboro Beskalan, Jumat (10/4/2026). Psikolog Mufliha Fahmi menilai perubahan cara pandang terhadap hubungan dan pernikahan terjadi signifikan dalam satu dekade terakhir.

Advertisement

Menurutnya, paparan media sosial memperluas perspektif individu, termasuk anggapan bahwa tidak menikah bukanlah sesuatu yang harus dipermasalahkan. Namun, pandangan ini sering kali berbenturan dengan nilai yang masih kuat di lingkungan sosial.

“Pergeseran tentang makna pernikahan mungkin, status jomblo dan sebagainya, itu mungkin bergeser 10 tahun belakangan terakhir ini. Dan dipengaruhi yang mungkin media sosial bisa,” ujarnya.

Dua Dunia yang Tidak Selalu Sejalan

Di satu sisi, individu melihat beragam narasi baru di dunia digital yang lebih menerima pilihan hidup tanpa pasangan. Namun di sisi lain, lingkungan nyata masih kerap memandang jomblo sebagai kondisi yang kurang ideal.

“Di satu sisi, di dunia nyatanya kita, orang-orang di sekitar kita mungkin masih memaknai jomblo sebagai sesuatu yang negatif, tapi kita juga terpapar nih dengan cara pandang yang berbeda,” kata Lia, sapaan akrabnya.

Kondisi ini membuat seseorang seolah hidup dalam dua dunia yang berjalan beriringan, tetapi tidak selalu sejalan, yakni dunia online dan dunia offline.

“Jadi kita kayak punya dunia sekarang, dunia online kita dan dunia offline kita. Dan dunia online kita itu tidak selalu selaras dengan nilai-nilai yang berkembang secara offline,” ujarnya.

Kapan Nikah Jadi Tekanan Emosional

Benturan nilai tersebut kerap memicu keresahan, terutama ketika muncul pertanyaan “kapan nikah?” yang bagi sebagian orang terasa menekan. Lia menilai respons emosional terhadap pertanyaan itu tidak selalu dipicu oleh pertanyaannya, melainkan oleh cara individu memaknainya.

“Kadang-kadang yang membuat emosi ditanya ‘kapan nikah’ mungkin bukan pertanyaannya, tapi bagaimana kita memaknai pertanyaan tersebut,” katanya.

Respons tersebut bisa semakin kuat ketika seseorang berada dalam kondisi rentan, seperti setelah putus hubungan atau saat menghadapi tekanan dari keluarga.

Selain itu, Lia menilai generasi yang lebih tua belum tentu memahami perubahan cara pandang ini. Hal ini karena generasi muda saat ini tidak hanya dibentuk oleh lingkungan sekitar, tetapi juga oleh paparan global melalui media sosial.

Nilai Diri Lebih Penting dari Sekadar Kriteria

Dalam konteks relasi, ia menekankan pentingnya memahami nilai diri (value) dibanding sekadar menetapkan kriteria pasangan. Keselarasan nilai dinilai lebih menentukan keberlanjutan hubungan dibanding kesamaan sifat.

“Kalau misalnya semakin dia sadar value hidupnya itu apa, pasti kan mudah ya? Dia akan punya kecenderungan ‘oh aku mau karakter yang begini’,” ujarnya.

Ia menambahkan, perbedaan karakter dalam hubungan masih dapat dinegosiasikan selama nilai dan visi hidup tetap sejalan.

“Kalau nilai-nilai pribadinya itu sama, kalaupun misalnya secara sifat berbeda, akan ada negosiasi sebenarnya,” katanya.

Lia juga menyebut pertanyaan “kapan nikah?” pada dasarnya bersifat universal dan muncul di berbagai budaya. Namun, pengalaman setiap individu dalam meresponsnya bisa berbeda tergantung kondisi emosional dan pemaknaan pribadi.

Melalui diskusi tersebut, ia menegaskan bahwa dinamika menjadi jomblo saat ini tidak bisa dilepaskan dari perubahan sosial dan budaya yang lebih luas, termasuk interaksi antara dunia digital dan kehidupan nyata yang terus membentuk cara individu melihat dirinya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Advertisement

Harian Jogja

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Korban Penipuan Rekrutmen CPNS Masuk Kantor Berseragam dan Bawa SK

Korban Penipuan Rekrutmen CPNS Masuk Kantor Berseragam dan Bawa SK

News
| Jum'at, 10 April 2026, 15:57 WIB

Advertisement

Greenhouse Melon Ketitang Jadi Daya Tarik Baru Wisata di Klaten

Greenhouse Melon Ketitang Jadi Daya Tarik Baru Wisata di Klaten

Wisata
| Rabu, 08 April 2026, 20:47 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement