Advertisement
Waspada! Angin Kencang Intai Gunungkidul Saat Pancaroba
Ilustrasi cuaca buruk. - Pixabay
Advertisement
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Memasuki masa pancaroba, masyarakat di Kabupaten Gunungkidul diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana, khususnya angin kencang yang kerap muncul di peralihan musim. Kondisi ini dinilai berisiko memicu kerusakan lingkungan hingga membahayakan keselamatan warga.
Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Purwono, menegaskan bahwa meskipun musim hujan mulai berakhir, ancaman bencana belum sepenuhnya hilang. Justru pada masa transisi menuju musim kemarau, potensi gangguan cuaca masih cukup tinggi.
Advertisement
“Sekarang sudah masa pancaroba. Tapi, kami tetap meminta masyarakat untuk waspada terhadap potensi bencana yang mungkin terjadi di saat pergantian dari musim hujan ke kemarau,” kata Purwono, Senin (13/4/2026).
Salah satu ancaman utama yang perlu diantisipasi adalah angin kencang. Fenomena ini dapat menyebabkan pohon tumbang hingga merusak bangunan rumah warga. Oleh karena itu, BPBD mengimbau masyarakat untuk melakukan langkah pencegahan sejak dini.
BACA JUGA
“Untuk antisipasi dapat dilakukan dengan memangkas dahan dan ranting pohon yang telah rimbun. Selain itu, juga dapat dilakukan dengan mengecek konstruksi bangunan rumah secara berkala,” katanya.
Selain angin kencang, potensi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang masih mungkin terjadi di masa pancaroba. Hal ini berdasarkan koordinasi BPBD dengan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) DIY yang memprediksi musim kemarau di Gunungkidul baru akan dimulai pada dasarian ketiga April.
“Di masa pancaroba ini masih ada potensi hujan dengan intensitas sedang dan rendah. Tapi, apapun itu upaya kewaspadaan terhadap potensi bencana harus dilakukan sehingga dampaknya bisa ditekan sekecil mungkin,” katanya.
Risiko bencana lain seperti tanah longsor juga tetap perlu diwaspadai, terutama bagi warga yang tinggal di wilayah rawan. Hujan yang berlangsung lama dapat meningkatkan potensi pergerakan tanah dan memicu longsor.
“Ini untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan, jadi harus tetap waspada terhadap potensi bencana alam,” kata Purwono.
Di sisi lain, perubahan musim juga berdampak pada sektor pertanian. Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Rismiyadi, menyebut pihaknya telah berkoordinasi dengan BMKG terkait prakiraan cuaca dan masa tanam.
Petani diimbau menyesuaikan pola tanam dengan kondisi cuaca, terutama dengan memilih komoditas berumur pendek untuk menghindari risiko gagal panen.
Menurutnya, beberapa jenis tanaman seperti padi dengan masa panen sekitar 90 hari masih memungkinkan ditanam. Namun, jika pasokan air terbatas, petani disarankan beralih ke komoditas lain seperti jagung, kedelai, kacang tanah, atau ketela pohon.
“Pasokan air mulai berkurang, jadi kalau tidak mencukupi jangan memaksakan menanam padi. Bisa menanam komoditas lain seperti jagung, kedelai dan lainnya,” katanya.
Dengan kondisi cuaca yang masih dinamis, kewaspadaan masyarakat dan penyesuaian aktivitas menjadi kunci utama untuk meminimalkan risiko bencana maupun kerugian di sektor pertanian selama masa pancaroba ini berlangsung.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Dari Banjir Aceh ke Lonjakan Ekspor, Kafe Tanjoe Kopi Eksis di Jogja
Advertisement
Berita Populer
- Jadwal KRL Jogja-Solo 13 April 2026, Berangkat dari Tugu ke Palur
- Jadwal KRL Solo-Jogja 13 April 2026, Cek Jam Berangkat Terbaru
- Viral Pria Ditemukan Tewas di Dekat Stasiun Tugu, Mobil Terbuka
- ASN DIY WFH Tiap Rabu, Perjalanan Dinas dan Kendaraan Juga Dihemat
- DIY Buka Rekrutmen Magang Dalam Negeri hingga 30 April, Ini Syaratnya
Advertisement
Advertisement







