Riset Fenomena Api Seyegan Rampung, BPBD Serahkan Hasil ke Keluarga
BPBD Sleman menyerahkan hasil riset fenomena api Seyegan kepada keluarga. Rekaman CCTV kini menjadi bagian penyelidikan kepolisian.
Salah satu sekolah Adiwiyata di Sleman/ SMAN1 Seyegan
Harianjogja.com, SLEMAN—Jumlah sekolah berpredikat Adiwiyata di Sleman diproyeksikan bertambah pada 2026 seiring upaya penguatan edukasi lingkungan bagi pelajar sejak dini.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sleman saat ini tengah menyiapkan delapan sekolah jenjang SD dan SMP untuk mengikuti penilaian program Adiwiyata tahun ini.
Penambahan ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk membangun budaya peduli lingkungan di kalangan pelajar. Dengan semakin banyak sekolah yang terlibat, diharapkan kesadaran menjaga lingkungan tidak hanya berhenti di sekolah, tetapi juga menyebar ke keluarga dan masyarakat.
Kepala Bidang Pengendalian Lingkungan Hidup DLH Sleman, Sri Restuti Nur Hidayah, menjelaskan hingga 2025 terdapat 135 sekolah di Sleman yang telah menyandang predikat Sekolah Adiwiyata. Sekolah tersebut tersebar di berbagai jenjang, mulai dari SD/MI, SMP/MTs hingga SMA/SMK sederajat.
Pada 2026, jumlah tersebut ditargetkan bertambah dengan adanya delapan sekolah baru yang sedang dipersiapkan. Rinciannya, empat sekolah dari jenjang SD dan empat dari jenjang SMP.
"Kalau 2026 ini nanti ada tingkat SD itu 4 sekolah, SMP 4 sekolah gitu. Tapi nanti mungkin ada yang SMA, itu kan kewenangan provinsi kalau SMA," terang Restuti, Rabu (15/4/2026).
Dalam proses persiapan, DLH Sleman telah melakukan sosialisasi kepada sekolah calon peserta. Tahap berikutnya adalah pelatihan penggunaan aplikasi Sistem Informasi Adiwiyata (SIDIA) sebagai bagian dari proses penilaian.
Program Adiwiyata sendiri berfokus pada penerapan Gerakan Peduli dan Berbudaya Lingkungan Hidup di Sekolah (GPBLHS). Terdapat lima aspek utama yang menjadi penilaian, yakni pengelolaan sampah, sanitasi dan drainase, penanaman pohon, serta konservasi air dan energi.
Restuti menegaskan bahwa program ini tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga bertujuan membentuk perilaku siswa agar lebih peduli terhadap lingkungan.
"Adiwiyata itu anak-anak sudah diedukasi terkait dengan pengelolaan lingkungan, terkait dengan nanti akan mencintai penanaman pohon, kemudian juga ada hemat listrik, hemat air, itu kami edukasi ke anak-anak gitu," tandasnya.
Ia berharap, pengetahuan tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan menular ke lingkungan sekitar siswa.
Plt. Kepala DLH Sleman, Sugeng Riyanta, menambahkan bahwa program Adiwiyata memiliki peran penting dalam menanamkan kesadaran lingkungan sejak dini.
"Bagaimana anak-anak ini diberikan pemahaman untuk peduli terhadap lingkungan," tegasnya.
Dalam proses penilaian, sekolah harus memenuhi berbagai indikator, mulai dari pengelolaan sampah, limbah cair, penghijauan, hingga keterlibatan aktif warga sekolah dan lingkungan sekitar.
Keterlibatan komite sekolah dan masyarakat juga menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan program ini. Dengan kolaborasi tersebut, sekolah diharapkan mampu menjadi pusat edukasi lingkungan yang berdampak luas bagi masyarakat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
BPBD Sleman menyerahkan hasil riset fenomena api Seyegan kepada keluarga. Rekaman CCTV kini menjadi bagian penyelidikan kepolisian.
Satlantas Gunungkidul akan menindak tegas motor tanpa spion, pelat nomor, dan knalpot blombongan demi keselamatan lalu lintas.
PT Pegadaian (Persero) Area Samarinda menunjukkan komitmennya terhadap pelestarian lingkungan dengan ikut ambil bagian dalam Program 2.000 Pohon untuk Kaltim.
DPR minta Polri usut dugaan uang Rp20 juta ke mahasiswa UBK saat aksi demo secara transparan demi menjaga kepercayaan publik.
Wagub DIY Paku Alam X ikut Sensus Ekonomi 2026 dan ajak warga Jogja berikan data jujur demi kebijakan ekonomi tepat sasaran.
Samsung Galaxy M47 5G rilis 29 Juni 2026, usung Snapdragon, layar 120Hz, kamera 50MP OIS, dan update Android hingga 6 tahun.