Advertisement

Ribuan Anak di DIY Putus Sekolah, Sleman Jadi Sorotan

Lugas Subarkah
Sabtu, 18 April 2026 - 17:17 WIB
Maya Herawati
Ribuan Anak di DIY Putus Sekolah, Sleman Jadi Sorotan Foto ilustrasi siswa berangkat sekolah menaiki sepeda, dibuat menggunakan Artificial Intelligence.

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Fenomena anak tidak bersekolah di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) masih menjadi pekerjaan rumah besar. Data terbaru menunjukkan ribuan anak belum mengakses pendidikan formal dengan berbagai latar belakang yang kompleks.

Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIY mencatat sebanyak 8.066 anak tidak bersekolah. Kondisi ini tersebar di seluruh wilayah, dengan angka tertinggi berada di Kabupaten Sleman.

Advertisement

Plt Kepala Disdikpora DIY, Muhammad Setiadi, menjelaskan faktor penyebab terbesar berasal dari kategori lainnya yang mencapai 3.083 anak.

“Selain itu, faktor bekerja menjadi penyebab dominan berikutnya dengan jumlah 2.067 anak, diikuti oleh tidak mau bersekolah sebanyak 1.170 anak. Faktor sosial juga cukup menonjol, seperti menikah atau mengurus rumah tangga sebanyak 411 anak,” katanya.

Selain itu, terdapat 242 anak yang merasa cukup dengan pendidikan yang dimiliki. Faktor ekonomi langsung seperti tidak ada biaya tercatat sebanyak 186 anak, serta kendala akses berupa jarak sekolah sebanyak 77 anak.

Faktor lain juga ikut memengaruhi, seperti masalah kesehatan atau disabilitas sebanyak 294 anak serta pengaruh lingkungan atau teman sebanyak 82 anak.

“Meski jumlahnya relatif kecil, faktor seperti kekerasan atau perundungan di sekolah, tidak memiliki seragam, dan tidak memiliki dokumen kependudukan juga tetap menjadi perhatian,” katanya.

Sleman Paling Tinggi

Dari sisi wilayah, Kabupaten Sleman mencatat jumlah tertinggi dengan 2.810 anak tidak bersekolah.

Kemudian diikuti Kabupaten Gunungkidul sebanyak 2.048 anak, Kabupaten Bantul 1.715 anak, Kabupaten Kulonprogo 953 anak, dan Kota Jogja 540 anak.

Selain faktor utama, terdapat kondisi khusus seperti anak tidak ditemukan sebanyak 45 anak, meninggal dunia sebanyak 94 anak, serta pindah domisili sebanyak 186 anak.

Menurut Setiadi, pola penyebab di setiap wilayah cenderung sama dan tidak hanya dipengaruhi faktor ekonomi.

“Permasalahan anak tidak sekolah tidak hanya disebabkan oleh faktor ekonomi semata, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor sosial, lingkungan, serta pilihan individu,” ungkapnya.

Upaya Penanganan Lintas Sektor

Melihat kompleksitas masalah, penanganan anak tidak sekolah dilakukan dengan pendekatan lintas sektor.

Disdikpora DIY mendorong berbagai intervensi, mulai dari pemberian beasiswa hingga pendidikan nonformal.

“Sejumlah langkah yang kami lakukan di antaranya melalui pemberian beasiswa, sekolah kejar paket ABC, pendidikan nonformal untuk meningkatkan keterampilan agar bisa berusaha mandiri. Kami bekerja sama dengan pemerintahan kelurahan atau kalurahan secara intensif untuk sosialisasi secara personal,” kata dia.

Langkah tersebut diharapkan mampu menekan angka anak tidak bersekolah sekaligus membuka akses pendidikan yang lebih inklusif di wilayah DIY.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Advertisement

Harian Jogja

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

JK Klarifikasi Ceramah Viral Tegaskan Bahas Perdamaian

JK Klarifikasi Ceramah Viral Tegaskan Bahas Perdamaian

News
| Sabtu, 18 April 2026, 19:57 WIB

Advertisement

AS Perketat Visa, Aktivitas Digital Kini Ikut Disorot

AS Perketat Visa, Aktivitas Digital Kini Ikut Disorot

Wisata
| Jum'at, 17 April 2026, 18:57 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement