Advertisement
Banyak Anak SMP Putus Sekolah, Ini Cara Sleman Menanganinya
Foto ilustrasi siswa berangkat sekolah menaiki sepeda, dibuat menggunakan Artificial Intelligence.
Advertisement
Harianjogja.com, SLEMAN— Kasus anak putus sekolah di Kabupaten Sleman masih didominasi jenjang SMP, dengan beragam faktor mulai dari ekonomi hingga persoalan psikologis siswa yang memengaruhi keberlanjutan pendidikan mereka.
Dinas Pendidikan Sleman kini mengintensifkan penanganan melalui satgas hingga tingkat kapanewon untuk memastikan anak yang terindikasi berhenti sekolah bisa segera ditangani dan kembali melanjutkan pendidikan.
Advertisement
Penanganan anak putus sekolah (APS) dan anak tidak sekolah (ATS) di Kabupaten Sleman kini dilakukan secara berlapis, mulai dari sekolah hingga pemerintah daerah. Sistem ini dirancang agar setiap kasus bisa terdeteksi lebih dini sebelum siswa benar-benar keluar dari bangku pendidikan.
Kepala Dinas Pendidikan Sleman, Mustadi, menjelaskan bahwa Sleman telah memiliki dasar regulasi melalui peraturan bupati serta membentuk satuan tugas khusus yang bekerja dari tingkat kabupaten hingga kapanewon.
BACA JUGA
"Dinas juga berupaya bagaimana langsung kami tindak lanjuti dengan Satgas di Kapanewon. Jadi memang sebetulnya kita itu penanganannya sudah berjalan ya, yang artinya sudah berjalan, hanya memang sekarang kembali lagi pada terkadang pada anaknya, keluarganya, lingkungannya," kata Mustadi, Senin (20/4/2026).
Sekolah menjadi garda terdepan dalam mendeteksi potensi anak putus sekolah. Ketika siswa mulai jarang hadir atau menunjukkan tanda-tanda berhenti, pihak sekolah akan lebih dulu melakukan pendekatan kepada orang tua maupun lingkungan sekitar. Jika tidak berhasil, kasus akan diteruskan ke dinas untuk penanganan lanjutan.
Berbagai faktor melatarbelakangi kasus ini. Selain kondisi ekonomi keluarga, persoalan kepercayaan diri hingga situasi keluarga seperti broken home turut memengaruhi keputusan anak untuk berhenti sekolah.
Pada beberapa kasus, siswa memilih berhenti karena merasa tidak mampu mengikuti pelajaran. Rasa minder ini membuat mereka kehilangan motivasi untuk tetap bersekolah. Untuk kondisi seperti ini, sekolah biasanya memberikan pendampingan melalui wali kelas dan guru bimbingan konseling.
Faktor ekonomi menjadi penyebab dominan lainnya. Anak usia remaja kerap memilih bekerja untuk membantu keluarga, bahkan menjadi tulang punggung. Selain itu, banyak kasus terjadi di sekolah swasta karena adanya kewajiban biaya pendidikan.
"Kalau yang banyak dari data kami itu memang kebanyakan sekolah-sekolah yang swasta. Karena harus bayar kan kalau swasta," ujarnya.
Sebagai solusi, Disdik Sleman membuka peluang bagi siswa yang terkendala biaya untuk berpindah ke sekolah negeri. Namun, proses ini tetap mempertimbangkan ketersediaan data dalam sistem Dapodik serta lokasi sekolah yang memungkinkan.
"Jadi nanti kami carikan sekolahan negeri, tentunya kami harus cek Dapodik (Data Pokok Pendidikan). Karena saat ini di sekolah negeri Dapodik-nya dikunci. Kami harus carikan sekolahan yang nanti bisa memungkinkan untuk dipindahkan ke negeri," jelasnya.
Langkah ini dinilai efektif karena banyak siswa yang sebelumnya terancam putus sekolah akhirnya bisa melanjutkan pendidikan setelah dipindahkan ke sekolah negeri yang lebih terjangkau.
"Banyak, iya, memang harus seperti itu. Harus upayakan, jangan sampai anak itu tidak melanjutkan [sekolah], apalagi gara-gara keuangan atau ekonomi," ujarnya.
Menurut Mustadi, fase SMP menjadi titik rawan karena siswa berada dalam masa transisi dari anak-anak menuju remaja. Pada fase ini, motivasi belajar sering menurun, ditambah kondisi keluarga yang kurang mendukung.
"Anak-anak SMP itu kan dari mau anak-anak mau remaja, terkadang anak-anak itu karena motivasi belajar juga enggak ada, mungkin karena orang tuanya juga tidak karuan kondisinya. Akhirnya anaknya tidak mau sekolah Ada yang seperti itu, di masa-masa mau perubahan dari anak ke remaja," tandasnya.
Dengan berbagai pendekatan yang terus diperkuat, Disdik Sleman berharap tidak ada lagi anak yang kehilangan akses pendidikan hanya karena faktor ekonomi maupun lingkungan, sekaligus memastikan setiap anak tetap memiliki kesempatan belajar hingga tuntas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Paspor Indonesia Bebas Visa ke 42 Negara, Cek Destinasinya!
Advertisement
Berita Populer
- Geng Remaja di Bantul Diduga Culik dan Siksa Korban hingga Tewas
- Remaja Tenggelam di Parangtritis Ditemukan Meninggal Dunia
- Ribuan Ikan Mati di Sungai Belik Pandes, Tercemar Limbah IPAL
- Disiapkan 12 Hektare, Proyek Kantor Terpadu Pemkab Gunungkidul Lanjut
- Embarkasi Hotel Kulonprogo Siap Dipakai Perdana Besok
Advertisement
Advertisement








