Advertisement

Malioboro Menuju Full Pedestrian Bertahap

Stefani Yulindriani Ria S. R
Jum'at, 24 April 2026 - 05:17 WIB
Sunartono
Malioboro Menuju Full Pedestrian Bertahap Warga Kota Jogja bersepeda di Jl. Malioboro dalam pelaksanaan uji coba Malioboro full pedestrian pada Senin (1/12/2025). Harian Jogja - Stefani Yulindriani

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Pemerintah Kota Yogyakarta mematangkan rencana transformasi kawasan Malioboro menjadi area jalur pedestrian penuh secara bertahap. Transformasi ini sebagai bagian dari penataan kawasan Sumbu Filosofi demi kenyamanan wisatawan dan pelestarian kawasan bersejarah.

Sebagaimana diketahui Sumbu Filosofi Kota Jogja telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO. Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo menekankan pendekatan hati-hati dengan berbasis kondisi lapangan serta mempertimbangkan masukan dari berbagai pelaku usaha pariwisata di kawasan Malioboro.

Advertisement

"Ini sebagai bahan masukan untuk menyusun aturan ketika secara bertahap kita menuju full pedestrian. Tahapannya seperti apa sangat tergantung kondisi riil di lapangan," ujarnya Kamis (23/4/2026).

Salah satunya terkait isu krusial pengaturan bus wisata dari Terminal Ngabean yang kini melintas Titik Nol Kilometer dan Malioboro. Pemkot sedang melakukan kajian untuk mengalihkan rute bus melalui Jalan Bhayangkara agar akses wisatawan tetap mudah ke pusat keramaian tanpa ganggu pejalan kaki.

Keterbatasan kantong parkir di kawasan Malioboro juga jadi perhatian dengan opsi lahan bekas pabrik es hingga kolaborasi swasta tambah kapasitas high season.

"Pemberitahuan kebijakan lebih dini sangat penting agar ada kepastian. Regulasi juga harus konsisten dan ditegakkan secara tegas," tegas Hasto soal komunikasi operator bus dan wisatawan.

Kepala Dinas Pariwisata Lucia Daning Krisnawati menjelaskan pembatasan kendaraan besar di Malioboro bertujuan untuk menjaga struktur bersejarah, selain itu untuk menekan polusi, tingkatkan kenyamanan pedestrian.

"Kebijakan yang baik bukan hanya menjaga kelestarian kawasan, tetapi juga memberi ruang bagi aktivitas ekonomi. Sinergi antara pemerintah dan pelaku usaha menjadi kunci," katanya.

Ketua PHRI DIY Deddy Pranowo Eryono mengakui bahwa Malioboro magnet utama wisatawan domestik, namun ia menyoroti akses bus besar dan parkir saat ini masih minim, terutama sangat penuh saat musim libur panjang.

"Kalau Menara Kopi dan Ngabean, pasti tidak menampung saat high season. Mungkin bisa dipikirkan lokasi alternatif seperti area RRI atau lahan swasta yang memungkinkan," usulnya. Transformasi ini lanjutkan uji coba sebelumnya sejak 2025 menuju zona rendah emisi ramah pejalan kaki.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Advertisement

Harian Jogja

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

WNA Rusia Terjebak Tebing Cemongkak, Dievakuasi Helikopter

WNA Rusia Terjebak Tebing Cemongkak, Dievakuasi Helikopter

News
| Jum'at, 24 April 2026, 04:47 WIB

Advertisement

Vietnam Terapkan Kartu Kedatangan Digital di Bandara

Vietnam Terapkan Kartu Kedatangan Digital di Bandara

Wisata
| Rabu, 22 April 2026, 11:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement