Advertisement
Talud Sungai Jogja Rapuh, Rp4 Miliar Disiapkan untuk 5 Titik Prioritas
Foto ilustrasi talud ambrol, dibuat menggunakan Artificial Intelligence.
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kota Jogja identifikasi belasan titik talud sungai rawan roboh akibat debit air tinggi. Struktur bronjong dan batu kali masih mendominasi sehingga butuh penguatan beton bertulang untuk tahan arus deras musiman.
Kepala Bidang Sumber Daya Air dan Drainase DPUPKP Kota Jogja Rahmawan Kurniadi ungkap lima titik prioritas penanganan 2026 di Bener, Pakuncen, Suryatmajan, Prenggan, dan Tegalrejo. "Struktur talud di beberapa lokasi masih dari bronjong atau pasangan batu kali, sehingga belum terlalu kuat jika dihantam aliran yang besar," ujarnya, Sabtu (25/4/2026).
Advertisement
Kondisi lapangan bervariasi: Bener masih tanah mentah tanpa talud, Pakuncen sebagian bronjong, lokasi lain batu kali siap upgrade beton bertulang. "Masih ada beberapa titik yang bahkan belum memiliki talud sama sekali atau belum menggunakan beton bertulang. Sekitar 10% [talud] masih berupa tanah," tambahnya.
Pemkot alokasikan Rp4 miliar dari APBD 2026 untuk kelima titik tersebut, konsisten dengan anggaran tahunan Rp4-5 miliar. Keterbatasan fiskal jadi hambatan utama percepatan perbaikan seluruh talud Kota Jogja yang panjangnya puluhan kilometer.
BACA JUGA
Permukiman padat tepat bantaran sungai jadi tantangan terberat. Bangunan warga berdiri di atas talud hambat akses alat berat. "Hampir semua sungai di Kota Jogja berdampingan dengan permukiman warga. Kami harus berkolaborasi dengan penataan kawasan permukiman. Kalau kawasan sudah siap ditata, baru kami masuk," jelas Rahmawan.
Pada kondisi darurat banjir atau longsor, DPUPKP tetap lakukan penguatan talud meski terbatas. Kolaborasi dengan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) jadi kunci sukses program Mundur, Munggah, Madhep Kali (M3K) yang buka ruang infrastruktur bantaran sungai. Prioritas penanganan difokuskan kawasan rawan banjir rob dan revitalisasi permukiman kumuh seperti bantaran Kali Code dan Winongo.
Talut atau dinding penahan tanah merupakan struktur konstruksi yang dirancang khusus untuk menjaga stabilitas tanah dan mencegah terjadinya bahaya tanah longsor, terutama pada area dengan kemiringan yang curam.
Fungsi utamanya adalah menahan tekanan tanah lateral yang berpotensi bergeser akibat beban gravitasi, gerusan air, maupun beban tambahan di atas permukaan tanah seperti bangunan dan jalan raya.
Dengan adanya talut, struktur tanah dapat dipertahankan pada posisi yang diinginkan, sehingga area di sekitarnya tetap aman untuk aktivitas manusia dan terlindung dari risiko kerusakan material yang disebabkan oleh pergerakan tanah yang tidak terkendali.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement









