UMKM Sleman Serap 366 Ribu Pekerja, Depok Jadi Penyumbang Terbesar
UMKM di Sleman menyerap 366.378 tenaga kerja hingga Mei 2026. Kapanewon Depok menjadi wilayah dengan jumlah pekerja dan unit usaha terbanyak, didukung aktivitas
Macam-macam alat kontrasepsi untuk Program Keluarga Berencana - ilustrasi/Freepik
Harianjogja.com, SLEMAN— Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kabupaten Sleman mencatat angka total fertility rate (TFR) di wilayahnya tetap stabil di bawah angka dua. Kondisi yang bertahan selama satu dekade terakhir ini menjadi indikator kuat bahwa program pengendalian penduduk di Bumi Sembada berjalan sangat efektif.
Pengendalian yang konsisten ini tidak lepas dari tingginya kesadaran masyarakat dalam menggunakan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP). Kepala Bidang Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P2KB) DP3AP2KB Sleman, Toto Suharto, menilai stabilitas capaian program KB dari tahun ke tahun sangat dipengaruhi oleh tren penggunaan kontrasepsi jangka panjang tersebut.
"Kepesertaan MKJP berada pada persentase tinggi, sehingga capaian program KB lebih stabil," ujar Toto, Senin (4/5/2026).
Pemerintah daerah memantau ketat perkembangan ini setiap bulan melalui aplikasi Sistem Informasi Keluarga (SIGA) milik BKKBN. Melalui instrumen digital tersebut, petugas dapat memantau secara real-time kondisi keluarga dan dinamika kepesertaan KB di seluruh wilayah Sleman.
Secara historis, tren angka kelahiran di Sleman memang terus melandai. Jika pada 2010 angka TFR tercatat sebesar 1,89, sepuluh tahun kemudian angka tersebut turun tipis menjadi 1,87. Capaian ini berada di bawah standar TFR ideal yang ditetapkan pemerintah, yakni pada angka dua.
Menariknya, saat ini orientasi kebijakan telah bergeser. Program yang semula berfokus pada "Keluarga Berencana" kini bertransformasi menjadi "Keluarga Berkualitas". Perubahan visi ini menempatkan kesadaran masyarakat sebagai faktor utama, di mana keluarga didorong untuk memilih metode KB secara mandiri sesuai dengan kebutuhan hidup berkualitas.
Keberhasilan program ini tecermin dalam data pelayanan tahun 2025 yang melampaui ekspektasi. Plt Ketua Tim Kerja Pembinaan KB DP3AP2KB Sleman, Ety Ratnawati, mengungkapkan bahwa dari sasaran 95.303 peserta, realisasinya mencapai 100.303 orang atau sekitar 105,2%.
"Capaian aktif di Sleman melampaui target. Sejumlah kapanewon bahkan mencatatkan capaian di atas target, di antaranya Godean, Moyudan, dan Seyegan," kata Ety.
Kendati demikian, pemerintah daerah masih memiliki pekerjaan rumah terkait pemerataan layanan. Masih terdapat beberapa kapanewon yang capaiannya berada di bawah target pelayanan. Oleh karena itu, penguatan pendampingan dan kemudahan akses layanan KB akan terus digenjot di wilayah-wilayah tersebut.
Langkah ini diambil demi menjaga stabilitas angka kelahiran di bawah dua dalam jangka panjang, sekaligus memastikan setiap keluarga di Sleman memiliki ketahanan dan kualitas hidup yang lebih baik di masa depan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
UMKM di Sleman menyerap 366.378 tenaga kerja hingga Mei 2026. Kapanewon Depok menjadi wilayah dengan jumlah pekerja dan unit usaha terbanyak, didukung aktivitas
Pemkab Gunungkidul merehabilitasi tiga pasar tradisional pada 2026. Perbaikan Pasar Wotgaleh, Karangijo, dan Ngrancah terkendala anggaran.
Donald Trump kembali mengancam Iran dengan operasi militer jika diplomasi nuklir gagal. Simak 4 ancaman terbaru Trump dan dampaknya bagi Selat Hormuz.
Pemkab Sleman bersama Forum TJSP menyalurkan bantuan Rp6,7 miliar melalui Gebyar TJSP Merdeka 2026 untuk beasiswa, sembako, modal usaha, bantuan disabilitas
Menteri Hukum Supratman Andi Agtas menyebut koruptor dapat dijatuhi hukuman mati sesuai ketentuan hukum yang berlaku di Indonesia.
Pemerintah mulai mempercepat langkah antisipasi terhadap potensi ancaman keamanan siber seiring perkembangan teknologi komputasi kuantum.