Hujan Mulai Turun di Bantul, Pajangan Masih Hadapi Krisis Air
Hujan tipis mulai turun di Bantul setelah kemarau panjang. Pajangan belum hujan sejak Juni dan warga masih menghadapi persoalan air bersih.
Jajaran Komisi D DPRD Bantul saat berkunjung ke SDN 1 Sumberagung untuk menindaklanjuti kejadian dugaan keracunan MBG di sekolah tersebut Rabu (9/9/2026). /Harian Jogja-Yosef Leon.
Harianjogja.com, BANTUL— Dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kapanewon Jetis, Bantul, ternyata meluas ke sejumlah sekolah. Berdasarkan laporan yang diterima DPRD Bantul, sedikitnya 70 murid dari empat sekolah bertumbangan diduga mengalami keracunan setelah menerima makanan dari SPPG Patalan 2.
Informasi tersebut terungkap setelah Komisi D DPRD Bantul mengumpulkan data dari sekolah-sekolah yang terdampak. SDN 1 Sumberagung tercatat sebagai sekolah dengan jumlah korban terbanyak, selain SD Patalan, SD Sawahan, dan SD Kembangsongo.
Ketua Komisi D DPRD Bantul, Pramu Diananto Indratriatmo, mengatakan dugaan keracunan tersebut tidak hanya terjadi di satu sekolah. Data yang dihimpun menunjukkan korban dari SPPG Patalan 2 tersebar di beberapa satuan pendidikan di wilayah Jetis.
"Setelah datanya kami kumpulkan ternyata korban dugaan keracunan dari SPPG Patalan 2 tersebar di beberapa sekolah dengan total 70 orang," katanya saat berkunjung ke SDN 1 Sumberagung, Rabu (9/9/2026).
Pramu mengaku prihatin karena persoalan serupa kembali terjadi. Terlebih, dugaan keracunan yang berkaitan dengan SPPG yang sama disebut bukan kali pertama terjadi.
Sebelumnya, insiden keracunan oleh SPPG yang sama juga menimpa murid SMP di wilayah Jetis pada April lalu. Dengan kejadian terbaru ini, DPRD Bantul menilai perlu ada evaluasi menyeluruh terhadap penyelenggaraan program MBG.
"Kami mohon untuk SPPG yang ada di Bantul melakukan usaha ini dengan hati. Layanilah anak-anak kami di Bantul dengan baik, tidak hanya mencari untung. Baik menu, cara mengolah harus sesuai standar, termasuk izin tolong dilengkapi," ungkapnya.
DPRD Bantul juga meminta Badan Gizi Nasional (BGN) melakukan evaluasi total terhadap SPPG tersebut. Menurut Pramu, tindakan tegas diperlukan karena dugaan keracunan kembali terjadi untuk kedua kalinya.
"Harus ada proses identifikasi dan evaluasi secara menyeluruh bagi semua SPPG di Bantul, kami minta ini jadi kejadian yang terakhir," paparnya.
Sementara itu, kondisi penerima MBG di SDN 1 Sumberagung mulai menunjukkan perkembangan. Kepala Sekolah SDN 1 Sumberagung, Jetis, Parjiyatmi, menerangkan dari 50 murid dan tiga guru yang mengalami gejala keracunan, beberapa di antaranya sudah mulai kembali ke sekolah.
Meski demikian, murid yang kembali belum seluruhnya berada dalam kondisi pulih. Sejumlah siswa hanya mengikuti kegiatan sekolah selama beberapa jam sebelum akhirnya dipulangkan.
"Murid yang Senin kemarin tidak sekolah sekarang ada yang sudah masuk tapi belum begitu fit, sehingga kami pulangkan jam 12.15 WIB, belum belajar penuh," katanya.
Parjiyatmi menyebut masih ada 11 murid yang belum dapat berangkat ke sekolah. Salah seorang di antaranya masih menjalani perawatan di fasilitas layanan kesehatan.
Sementara itu, satu guru yang sebelumnya sempat menjalani perawatan telah kembali mengajar seperti biasa. Dari dua murid yang sempat dirawat, satu orang telah diperbolehkan pulang, tetapi belum dapat kembali mengikuti kegiatan belajar di sekolah.
"Murid yang sempat dirawat itu ada dua orang satu sudah pulang ke rumah tapi masih belum bisa sekolah," katanya.
Kondisi tersebut membuat pihak SDN 1 Sumberagung bersama perwakilan orang tua murid dan komite sekolah mengambil keputusan untuk sementara tidak menerima program MBG.
Sekolah juga menyatakan tidak akan menerima makanan MBG lagi dari SPPG Patalan 2. Keputusan tersebut diambil dengan mempertimbangkan keamanan murid setelah muncul dugaan keracunan.
"Memang sempat ada tawaran untuk beralih ke SPPG lain yang diklaim lebih aman, tapi semua akan diputuskan wali murid dan komite demi keamanan anak-anak di sekolah," ujarnya.
Dari sisi penyelenggara program, Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi Sleman, Harsono Budi Waluyo, menjelaskan pihaknya bersama telah memantau perkembangan kondisi penerima manfaat yang masih menjalani perawatan.
Pemantauan tersebut juga dilakukan dengan berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan terkait pengambilan sampel makanan. Langkah itu menjadi bagian dari tindak lanjut setelah muncul dugaan keracunan yang dialami penerima MBG.
Evaluasi dilakukan terhadap seluruh rangkaian penyelenggaraan MBG di SPPG Patalan 2. Pemeriksaan mencakup proses sejak bahan baku diterima hingga makanan didistribusikan kepada penerima manfaat.
Rangkaian yang dievaluasi meliputi penerimaan dan penyimpanan bahan baku, proses persiapan, pengolahan, pemorsian, penyimpanan, hingga distribusi makanan kepada penerima manfaat.
"Evaluasi juga diarahkan pada penerapan higiene sanitasi, pengendalian mutu, keamanan pangan, serta kepatuhan terhadap standar pada setiap tahapan produksi dan distribusi. Saat ini SPPG tersebut sudah diberhentikan operasionalnya," pungkas dia.
Dengan penghentian operasional tersebut, dugaan keracunan MBG yang dilaporkan terjadi di empat sekolah di Bantul kini menjadi perhatian DPRD Bantul maupun pihak penyelenggara program. Total 70 murid tercatat dalam laporan yang dihimpun DPRD Bantul, sementara kondisi penerima manfaat di SDN 1 Sumberagung masih dipantau.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Hujan tipis mulai turun di Bantul setelah kemarau panjang. Pajangan belum hujan sejak Juni dan warga masih menghadapi persoalan air bersih.
Harga HP Infinix September 2026 tersedia dari Rp1,9 juta hingga Rp11,9 juta, dengan Note 60 Ultra menjadi model termahal.
Prabowo menjanjikan bonus Rp3 miliar bagi atlet Indonesia yang meraih emas Asian Games 2026, lebih besar dari bonus SEA Games Rp1 miliar.
Jogja mendung beberapa hari terakhir bukan tanda kemarau berakhir. BMKG memprediksi hujan masih rendah hingga November 2026.
Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta resmi meluncurkan Program Studi Pendidikan Profesi Arsitek (PPAr), Selasa (1/9/2026), di Ruang Seminar
DPR mendesak BGN menangani serius korban keracunan MBG, termasuk memastikan perawatan hingga pulih dan menanggung biaya pengobatan.