Mahasiswa UII Ciptakan Aplikasi Virtual untuk Tenaga Medis

Mahasiswa Magister Teknik Informatika UII menunjukkan aplikasi SPDCM buatannya, Jumat (13/4/2018). - Harian Jogja/Sunartono
16 April 2018 15:10 WIB Sunartono Jogja Share :


Harianjogja.com, SLEMAN--Mahasiswa Pascasarjana Konsentrasi Informatika Medis Magister Teknik Informatika Universitas Islam Indonesia (UII) Mei Prabowo menciptakan aplikasi Sistem Pengiriman Data Citra Medis (SPDCM) yang dapat memudahkan dokter radiologi melakukan tindakan jarak jauh kepada pasien.
 
Proses aplikasi tersebut melibatkan sistem rumah sakit mulai dari admin radiologi, perawat, dokter perujuk dan dokter radiologi melalui aplikasi basis web dan aplikasi android.

Mei Prabowo menjelaskan aplikasi SPDCM itu dia ciptakan karena ada kesenjangan antara jumlah dokter radiologi dengan kebutuhan pelayanan radiologi di Indonesia. Berdasarkan data 2017, Indonesia masih kekurangan sekitar 1.053 dokter spesialis radiologi. Sehingga keberadaan aplikasi yang bisa dijangkau dokter radiologi tanpa butuh ruang dan waktu menjadi sangat dibutuhkan. Butuh waktu setahun untuk membuat aplikasi itu dapat diterapkan melalui berbagai riset.

"Dengan aplikasi sementara masih kami beri nama SPDCM. Pengiriman data citra medis terutama untuk kegawatdaruratan bisa ditangani secara cepat. Upaya penegakan diagnosis dapat dilakukan lebih cepat, tanpa menunggu lama," katanya, Jumat (13/4/2018).

Aplikasi SPDCM itu dalam dua modul yaitu web base aplication yang diinstal di personal computer (PC) petugas admin radiologi dan PC perawat . Serta modul mobile aplication pada ponsel android milik dokter radiologi dan dokter perujuk.

Praktiknya, setelah merekam pasien untuk mendapatkan data citra medis menggunakan aplikasi itu, admin radiologi mengirim data melalui PC ke dokter perujuk dan dokter radiologi hanya dengan sekali kirim. Hasil pengiriman itu dapat diterima melalui ponsel kedua dokter tersebut, bahkan muncul notifikasi di ponsel layaknya menerima pesan atau panggilan.

Mei memastikan foto atau data citra medis yang dikirim berupa file DICOM sehingga gambar citra medis yang diterima dokter radiologi seperti wujud aslinya.

"Kalau file JPEG data terkirimnya beda, maka kami pakai file DICOM sehingga gambar saat diterima dokter sama persis dengan data citra medis di komputer admin radiologi," kata dia.

Melalui aplikasi itu, dokter radiologi bisa langsung melakukan tindakan melalui ponselnya untuk dikirim dan dapat diterima oleh dokter perujuk sebagai referensi untuk menentukan pemberian obat atau tindakan lain. Dokter perujuk kemudian mengirimkannya ke perawat untuk disampaikan kepada pasien. Dengan demikian, tindakan dokter radiologi dapat mempercepat penanganan pasien hanya melalui ponsel tanpa harus datang ke rumah sakit.

"Kalau secara manual bisa sekitar 24 jam baru bisa ditangani lebih cepat, apalagi kalau dokternya langsung memegang ponsel, bisa hanya lima menit," kata dia.

Dosen Magister Teknik Informatika Pascasarjana UII Izzati Muhimmah menegaskan aplikasi sisten ini bisa mendukung dokter radiologi sebagai penegak diagnosis sehingga penanganan pasien dilakukan lebih cepat. Aplikasi ini juga memudahkan manajemen rumah sakit dalam melakukan kontrol data. Apalagi di dalamnya tersedia kotak dialog antara keempat user tersebut sekaligus dapat dipantau waktu dokter membaca pesan tersebut.

Berdasarkan pengamatannya, di Indonesia penggunaan aplikasi tersebut belum ada. Penelitian itu telah diterapkan di RSU Islam Harapan Anda Kota Tegal melalui unit radiologi, bangsal rawat inap dan IGD.

"Berdasarkan hasil pengujian tentang kegunaan aplikasi pengiriman ini menunjukkan 82,60 persen, kemudahan 77,89 persen, kemampuan user dalam mempelajari aplikasi 79,60 persen serta kepuasan user 78,97 persen," kata Izzati.