25 Desa Harus Bisa Bikin Buku Sejarahnya Sendiri

Ilustrasi kegiatan desa - JIBI/Harian Jogja
16 April 2018 14:20 WIB Jalu Rahman Dewantara Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL-Setiap tahun, sebanyak 25 desa di Gunungkidul harus mampu menuliskan sejarahnya dalam bentuk buku. Hal tersebut guna memberi pengetahuan tentang sejarah desa untu menarik wisatawan yang berkunjung.

Sekretaris Dinas Kebudayaan Gunungkidul, Siti Isnaini Dikoningrum mengatakan pihaknya telah memberikan bimbingan teknis (bimtek) kepada 54 desa dalam penulisan sejarah desa. Setiap desa diharapkan mampu menulis bimtek sendiri yang berisi tentang tata cara penulisan sejarah desa. Sehingga bisa digali dari sumber lisan atau pun tulisan sejarah gunungkidul. "Dari 54 desa yang diberikan bimtek ada 31 desa yang sudah menuliskan sejarah desanya," ujar Siti, Senin (16/4/2018).

Dengan target setiap tahun sebanyak 25 desa, praktis pada 2021 nanti total 144 desa yang tersebar di Gunungkidul bisa memiliki buku sejarahnya sendiri.

Sejauh ini, kata dia, sudah ada enam desa yang telah memiliki standar bagus dalam menulis buku sejarahnya yakni desa Ngleri kecamatan playen, desa Giricahyo kecamatan Purwosari, Desa Karangrejek kecamatan Wonosari, desa Girimulyo, desa Girisekar dan desa Girikarto yang ketiganya berada di kecamatan Panggang. "Penilaian didasarkan mengenai tata penulisan, kronologi sejarah, dan penlisa bahasa jawa halus," katanya.

Siti menjelaskan penulisan sejarah tersebut penting, selain menjaga sejarah agar generasi muda tetap tahu, juga sesuai dari rekomendasi dirjen kebudayaan. Hal ini guna menarik wisatawan mancanegara yang cenderung ingin mengetahui sejarah di suatu wilayah yang dikunjungi. "Penulisan sejarah juga untuk mendorong peningkatan kunjungan wisata," ujar dia.