Advertisement
Sulit Membangun Gedung Sekolah Antibencana di DIY
Para taruna berlari untuk berkumpul ke titik kumpul dalam acara simulasi gempa yang dilaksanakan oleh Sekolah Tinggi Teknologi Kedirgantaraan (STTKD) Yogyakarta, Jumat (5/10/2018) di halaman kampus. - Harian Jogja/Yogi Anugrah
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA--Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIY mengaku sulit untuk membangun sekolah antibencana. Namun untuk meminimalkan risiko bencana atau gempa telah dilakukan berbagai langkah mitigasi bencana di institusi pendidikan.
Sekretaris Disdikpora DIY Tri Widiatmoko mengatakan tidak ada bangunan yang tahan gempa, karena belum ada yang bisa memprediksi kapan gempa akan datang.
Advertisement
"Kalau bangunan sudah kami rencanakan ramah terhadap bencana bukan antibencana, karena sulit untuk antibencana. Pada intinya kami memperkuat konstruksi bangunan untuk meminimalkan kerusakan jika terjadi gempa," kata Tri, Senin (8/10/2018).
Disdikpora juga mengklaim untuk sekolah yang terbilang kurang layak khususnya tingkat SMA sederajad, jumlahnya makin berkurang. Bangunan-bangunan yang kurang layak sudah direhab, dan saat ini jumlahnya di bawah 10%.
Menurut dia, saat ini yang harus menjadi perhatian adalah bagaimana memperkuat atau mengedukasi masyarakat dengan mitigasi jika terjadi gempa bumi. Banyaknya korban jiwa yang jatuh saat terjadi gempa dikarenakan masyarakat kurang siap.
"Saat ini tidak hanya masalah bangunan fisik yang menjadi perhatian, tetapi lebih dari itu. Yaitu kesiapan para siswa atau guru yang diedukasi jika terjadi gempa agar tidak terlalu panik," ujarnya.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY Biwara Yuswantana mengatakan untuk mengantisipasi risiko bencana telah dibentuk Sekolah Siaga Bencana (SSB) di sejumlah sekolah.
"Dari catatan terakhir 2017, ada 78 SMA sederajad yang sudah terbentuk SSB. Setiap tahun dibentuk 10 SSB," kata Biwara.
Ia menjelaskan setiap sekolah atau daerah memiliki kerawanan bencana yang berbeda-beda. Dibentuk SSB bertujuan untuk mengurangi risiko korban jiwa.
Kesiapsiagaan atau pelatihan yang diberikan kepada siswa sesuai potensi bencana yang ada. "Misal sekolah yang ada di kawasan sekitar pantai, diajari bagaimana beradaptasi jika terjadi tsunami. Lalu sekolah yang ada di utara atau Merapi bagaimana jika terjadi erupsi," ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Indonesia Soroti Insiden Berulang di Lebanon, Minta PBB Bertindak
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement








