LPPNU DIY Ajak Santri & Warga Budidayakan Ikan

Beny Susanto menunjukkan ikan hasil budidaya di Pesantren Sunan Kalijaga, Panggungharjo, Sewon, Bantul. - Istimewa/Beny Susanto
14 Oktober 2018 11:05 WIB Nugroho Nurcahyo Bantul Share :

Harianjogja.com, JOGJA-Pengurus Wilayah Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (NU) DIY mengajak warga nahdliyin, khususnya para santri dan masyarakat umum untuk terus mengembangkan budidaya ikan.

"Kami telah membuktikan dalam lima tahun terakhir dan terus mengajak santri dan masyarakat dalam peningkatan budidaya ikan di DIY," kata Pengurus Wilayah Lembaga Pengembangan Pertanian NU DIY, Beny Susanto, Sabtu (13/10/2018).

Menurut pengamatan LPPNU DIY, produksi ikan DIY masih jauh dari mencukupi, padahal potensi pengembangan perikanan terutama perikanan air tawar begitu besar di DIY.

Berdasarkan data Dinas Kelautan Dan Perikanan DIY 2017, kebutuhan konsumsi ikan masyarakat sekitar 111.600 ton sementara produksinya dari hasil budidaya dan penangkapan baru 96.900 ton pertahun. Oleh karena itu kekurangannya didatangkan dari luar DIY, yang berjumlah sekitar 15.600 ton.

"Melihat data itu, melakukan budidaya ikan bisa menjadi bagian dari upaya mensyukuri nikmat Tuhan Yang Maha Esa. Tidak boleh sejengkal tanah yang terlantar, tanpa ada ikhtiar yang konstruktif dan produktif," ujar Beny.

Beny yang juga pengasuh Ponpes Sunan Kalijaga, Gesikan, Bantul, itu mengatakan seiring pertumbuhan ekonomi, pembangunan sektor pariwisata, industri kuliner dan kecenderungan peningkatan kebutuhan konsumsi ikan, budidaya ikan prospektif dikembangkan.

Ponpes An-Nur Ngrukem, Ponpes Lintang Songo Piyungan dan Ponpes Sunan Kalijaga Gesikan Panggungharjo, Sewon, Bantul, kata Beny, menjadi contoh sukses membuktikan pesantren yang berhasil membudidaya gurami, nila dan patin. 

Menurut Beny, melalui kesadaran warga DIY untuk mengembangkan budidaya ikan, daerah istimewa itu nantinya bisa memenuhi kebutuhan konsumsi ikan masyarakat tanpa harus bergantung pasokan dari luar daerah.

Pria yang karib disapa Gus Beny ini mengatakan, budidaya ikan tawar sangat sederhana, tidak sulit, dan tidak membutuhkan lahan yang luas.

"Di lahan terbatas, ikan nila, gurami, lele, bawal, patin, gabus, sidat dan udang viname bisa dibudidayakan dan berkembang dengan baik," kata Gus Beny.

Menurutnya, kebanyakan budidaya saat ini masih dilakukan per individu. Padahal akan lebih hemat dan menguntungkan jika budidaya dilakukan dalam bentuk kelompok, seperti kelompok mina atau poktan.

Melalui kelompok mina, poktan pembinaan, kata Beny, pembudidaya akan memiiki jejaring yang lebih mudah dan luas sehingga bisa memudahkan distribusi. Secara pembiayaan, modal juga bisa ditekan, dan lebih efisiensi untuk pembelian pakan.

"Kelompok mina, atau poktan bisa dimaknai sebagai ikhtiar peningkatan kesejahteraan secara berjamaah, jadi bukan salat saja yang sebaiknya berjemaah," ujarnya.