Ini Penyebab 269 Pelamar CPNS Gunungkidul Tak Lolos Seleksi Administrasi

Ilustrasi CPNS. - Antara Foto/Adwit B Pramono
22 Oktober 2018 20:37 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Seleksi administrasi rekrutmen CPNS di Kabupaten Gunungkidul sudah diumumkan. Hasilnya sebanyak 269 pelamar dinyatakan tidak lolos seleksi administrasi.

Kepala Bidang, Informasi Pengembangan dan Data Pegawai, Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan (BKPP) Gunungkidul Reni Linawati mengatakan, pada saat pendaftaran rekrutmen CPNS terdapat 2.316 pelamar. Namun pada saat dilakukan seleksi administrasi, yang dinyatakan lolos sebanyak 2.047 pelamar, sementara untuk 269 orang dinyatakan tidak lolos seleksi.

“Dari jumlah yang tidak lolos seleksi, sebanyak 149 tidak menyerahkan berkas untuk pendaftran. Sedang sisanya 120 orang karena tidak memenuhi persyaratan,” kata Reni kepada wartawan, Senin (22/10/2018).

Menurut dia, pelamar yang dinyatakan tak lolos administrasi karena tidak memenuhi persyaratan. Beberapa hal yang membuat tidak lolos di antaranya berkas persyaratan ada yang kurang, persyaratan tidak sesuai kriteria. “Setelah pengumuman seleksi administrasi, tahapan selanjutnya adalah pencetakan kartu peserta ujian,” ungkapnya.

Disinggung mengenai pelaksanaan ujian, Reni belum bisa memastikan karena tergantung kesiapan wilayah masing-masing. Namun, sambung dia, jika melihat jadwal pelaksanaan tes direncanakan di November mendatang. “Untuk pelaksaan tes, kami masih tunggu jadwal resminya,” katanya.

Lebih jauh diungkapkan dia, untuk lowongan CPNS 2018 Pemkab Gunungkidul mendapatkan 434 formasi. Namun demikian, pada saat pendaftaran berlangsung, tidak semua formasi terisi karena ada 47 formasi sepi peminat karena tidak ada yang mendaftar.

“Berhubung tidak ada lagi perpanjangan masa pendaftaran, maka formasi yang kosong tetap dibiarkan dan tahun depan akan mengajukan formasi yang sama lagi,” imbuhnya.

Sekretaris Daerah Gunungkidul Drajad Ruswandono tidak menampik di dalam proses rekrutmen CPNS tidak semua formasi terisi. Menurut dia, ada beberapa formasi seperti dokter spesialis dan kuota khusus disabilitas yang masih kosong. “Memang pada saat pendaftaran tidak ada yang mendaftar hingga penutupan,” katanya.

Drajad mengungkapkan, untuk pengisian di formasi yang kosong menyerahkan sepenuhnya kebijakan ke pemerintah pusat. “Ya kalau nanti keputusannya tetap sama, untuk kekosongan bisa diisi melalui rekrutmen tenaga harian lepas. Tapi sebelumnya, kami masih menunggu kebijakan dari pusat seperti apa terkait dengan formasi yang masih kosong,” ungkapnya.