Advertisement
Masjid Gedhe Kauman Jogja: Jejak Akulturasi dan Toleransi
Suasana Masjid Gedhe Kauman, pada Kamis (19/2/2026). - Harian Jogja - Ariq Fajar Hidayat
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Masjid Gedhe Kauman Jogja berdiri kokoh di sisi barat Alun-alun Utara, menjadi saksi sejarah akulturasi Islam dan budaya Jawa sejak abad ke-18. Bukan sekadar tempat ibadah, Masjid Gedhe Kauman menyimpan jejak peralihan budaya yang membentuk wajah Kota Jogja hingga kini.
Didirikan setelah Sri Sultan Hamengku Buwana I menyelesaikan pembangunan Kraton Yogyakarta, masjid ini menempati posisi strategis di barat laut kompleks keraton. Penempatan tersebut bukan tanpa alasan, melainkan mengikuti konsep tata kota Jawa yang sarat simbol dan filosofi keseimbangan.
Advertisement
Dalam tradisi tata ruang kota Jawa, terdapat empat elemen utama yang saling terhubung. Alun-alun menjadi pusat ruang publik, pusat pemerintahan berada di selatan, masjid di sisi barat, dan pasar di bagian utara. Susunan ini menegaskan harmoni antara kekuasaan, spiritualitas, dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Masjid Gedhe Kauman atau Masjid Gedhe Kraton Yogyakarta menjadi penanda bagaimana Islam berkembang di Jawa tanpa menghapus akar budaya sebelumnya. Atap tajug berundak, tiang kayu berukuran besar, serta detail ruang memperlihatkan proses adaptasi yang halus antara tradisi Hindu dan ajaran Islam.
BACA JUGA
“Jadi arsitektur masjid ini merupakan masa peralihan dari era Hindu ke Islam. Memang kalau kita melihat arsitektur dari masjid ini, ada gaya-gaya Hindu dan juga ada gaya Islamnya,” jelas Ketua Takmir Masjid Gedhe Kauman Jogja, Azman Latief, Kamis (19/2/2026).
Menurut Azman, pola arsitektur peralihan tersebut tidak hanya ditemukan di Jawa. Jejak serupa juga dapat dijumpai pada sejumlah bangunan keagamaan di Bali, memperlihatkan kesinambungan sejarah Nusantara yang lebih luas.
Pesan simbolik juga tampak pada pembagian ruang dalam dan luar masjid. Keduanya dirancang dengan karakter berbeda, tetapi saling melengkapi dalam menyampaikan makna kehidupan.
“Di ruangan luar dan ruangan dalam juga dibedakan ya. Jadi ruangan luar, di teras itu penuh dengan pernak-pernik, penuh dengan warna-warni,” katanya.
Ruang luar atau serambi melambangkan kehidupan duniawi. Di area ini, berbagai aktivitas sosial berlangsung, mulai dari diskusi, tempat beristirahat musafir, hingga ruang temu warga dari beragam latar belakang.
“Sedangkan di ruang dalam yang diperuntukkan khusus untuk salat, itu lebih sederhana dan hanya satu warna. Karena di dalam itu khusus untuk hubungan dengan Allah,” ujar Azman.
Kesederhanaan ruang utama salat menjadi simbol fokus spiritual, sementara keterbukaan serambi menegaskan fungsi sosial masjid. Dua ruang tersebut merepresentasikan relasi manusia dengan Tuhan sekaligus hubungan antarsesama yang berjalan beriringan.
Nilai toleransi yang diusung Masjid Gedhe Kauman tidak berhenti pada simbol arsitektur. Semangat itu diwujudkan dalam tindakan nyata, terutama saat masyarakat menghadapi situasi sulit.
“Saya kira ini penting untuk menyadarkan bahwa kita ini hidup di planet yang sama, membangun di planet yang sama. Agama apapun, ras apapun, latar belakang manapun, kita semuanya harus bersatu untuk mengelola planet yang kita diami ini,” ucapnya.
Prinsip keterbukaan tersebut terlihat jelas saat pandemi Covid-19 melanda. Masjid Gedhe Kauman membentuk satuan tugas pemulasaraan jenazah dan turut membantu proses penanganan jenazah lintas iman di tengah keterbatasan fasilitas kesehatan.
“Seperti waktu pandemi Covid-19 kemarin kita punya satuan tugas pemulasaraan jenazah. Jenazah dari Kristiani waktu itu juga dibawa ke sini, karena rumah sakit penuh waktu itu,” kata Azman.
Kini, aktivitas di Masjid Gedhe Kauman kembali bergeliat, terutama menjelang dan selama Ramadhan 1446 H. Selain menjadi pusat ibadah, masjid ini juga menghadirkan berbagai kegiatan keagamaan yang terbuka untuk masyarakat luas.
“Untuk Ramadhan seperti biasa ada agenda rutin seperti salat tarawih, kajian jelang tarawih, kajian subuh, dan tausyiah jelang buka puasa. Pada 10 hari terakhir Ramadhan, jamaah juga bisa melakukan iktikaf di masjid,” imbuhnya.
Tak hanya itu, setiap hari selama Ramadhan, masjid menyediakan sedikitnya 1.500 porsi takjil gratis tanpa kupon. Jamaah cukup datang dan duduk bersama untuk berbuka puasa, menciptakan suasana kebersamaan di jantung Kota Jogja.
Seorang warga Bantul, Muhammad Afif, yang kerap menjadi jamaah di Masjid Gedhe Kauman, mengaku selalu merasakan ketenangan setiap kali datang.
“Saya sering ke sini karena suasananya tenang dan terasa terbuka untuk siapa saja. Duduk di serambi Masjid Gedhe Kauman selalu membuat saya merasa diterima, jadi bukan hanya tempat buat ibadah,” ucap Afif.
Keterbukaan ruang dan keramahan jamaah, menurutnya, menjadikan Masjid Gedhe Kauman bukan hanya milik warga Kauman, melainkan ruang bersama bagi siapa saja yang datang dengan niat baik. Di tengah dinamika Kota Jogja yang terus bergerak, masjid ini tetap merawat nilai akulturasi, toleransi, dan kebersamaan yang hidup di pusat kota, terutama saat Ramadhan 1446 H menghadirkan ribuan jamaah setiap harinya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Wamenpar Dorong Prambanan Shiva Festival Jadi Agenda Unggulan
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement







