Advertisement
Food Bank Jogja 2026 Diperkuat, Lahan Tersisa 16 Hektare
Ilustrasi beras di pasar tradisional. / Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Ketahanan pangan Kota Jogja kembali menjadi sorotan seiring menyusutnya lahan pertanian yang kini tinggal sekitar 16,6 hektare. Menghadapi keterbatasan tersebut, Pemkot Jogja memastikan program food bank tetap digelar pada 2026 sebagai strategi menjaga ketersediaan pangan warga.
Data di Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kota Jogja menunjukkan lahan pertanian yang tersisa tersebar di Kemantren Tegalrejo, Umbulharjo, Mergangsan, dan Kotagede. Luasan ini menurun drastis dibandingkan tahun sebelumnya yang masih sekitar 26 hektare.
Advertisement
Kepala DPP Kota Jogja, Sukidi, menegaskan produksi lokal mustahil menjadi tumpuan utama ketahanan pangan Kota Jogja. “Kalau kita mengandalkan ketahanan pangan dari produk lokal jelas tidak mungkin. Dengan luas lahan yang tersisa sekitar 16 hektare. Itu kalau dijadikan bahan pangan hanya cukup untuk konsumsi warga satu hari lebih seperempat hari,” katanya, Sabtu (21/2/2026).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) DIY, jumlah penduduk Kota Jogja mencapai sekitar 375 ribu jiwa. Jumlah tersebut, menurut Sukidi, dapat meningkat pada malam hari karena kehadiran wisatawan yang menikmati kuliner di Kota Jogja. Kondisi ini semakin menegaskan bahwa ketahanan pangan tidak bisa hanya bergantung pada hasil pertanian lokal.
BACA JUGA
Sebagai solusi, Pemkot Jogja mengembangkan food bank Lumbung Mataram yang mengandalkan kolaborasi lintas sektor. Pada tahap awal, komitmen pengumpulan pangan dibangun bersama pelaku restoran dan perhotelan. Seiring berjalannya waktu, dukungan meluas ke ritel modern, pasar, hingga kelompok tani.
Kelompok tani bahkan disebut menjadi salah satu penyumbang bahan pangan yang rutin, terutama untuk mendukung kebutuhan rumah tangga. Saat ini, Pemkot Jogja telah bekerja sama dengan berbagai pihak, mulai dari restoran, hotel, ritel modern, hingga pasar tradisional untuk memperkuat program food bank tersebut. Program ini tetap berjalan, termasuk selama Ramadan, guna membantu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.
Sukidi menambahkan, pada 2026 program food bank tersebut juga memperoleh alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) sebagai bentuk penguatan sistem.
“Ke depan, ini tidak semata-mata bergantung pada surplus makanan, tetapi diperkuat secara sistem dan pendanaan. Jadi benar-benar menjadi bagian dari strategi ketahanan pangan Kota Jogja,” katanya, seraya menegaskan bahwa penguatan kelembagaan dan kolaborasi lintas sektor akan terus dioptimalkan agar program food bank Jogja mampu menjawab tantangan keterbatasan lahan pertanian dan dinamika kebutuhan pangan masyarakat perkotaan.
BACA JUGA
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Wamenpar Dorong Prambanan Shiva Festival Jadi Agenda Unggulan
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement








