Mina Padi Cibuk Kidul di Seyegan Jadi Contoh Asia

Sigit memberi makan ikan di lahan mina padi di Dusun Cibuk Kidul, Desa Margoluwih, Seyegan, Sleman, Rabu (31/10/2018). - Harian Jogja/Yogi Anugrah
06 November 2018 10:25 WIB Yogi Anugrah Sleman Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Mina padi di Dusun Cibuk Kidul, Desa Margoluwih, Kecamatan Seyegan, merupakan salah satu contoh sukses budi daya ikan di persawahan. Berikut laporan wartawan Harianjogja.com Yogi Anugrah.

Jalan masuk ke dusun ini terbilang cukup bagus, berupa aspal yang membelah sawah. Di siang yang menyengat akhir bulan lalu, udara terasa sejuk.

“Dulu jalan di sini hancur. Tetapi setelah mina padi terkenal dan banyak orang datang ke sini, jalannya sudah diaspal,” kata Sigit, Ketua Minapadi Dusun Cibuk Kidul, Rabu (31/10).

Sigit tidak pernah menyangka, usaha mina padi yang dia awali dengan modal lahan sekitar 1.000 meter persegi kini bisa menjadi berkembang dan bermanfaat untuk masyarakat sekitar.

“Awalnya saya sendiri, kemudian mendapat bantuan dari pemerintah dan sekarang lahan bisa berkembang menjadi berhektare-hektare.”

Secara umum, mina padi merupakan perpaduan pertanian dan budi daya ikan dalam satu lahan. Cara beternak ikan seperti ini sudah dilakukan secara tradisional oleh kakek Sigit. Namun ia baru mengembangkannya sejak 2011. Jenis ikan yang dipiara adalah nila merah.

“Sejak 2015, kami bekerja sama dengan Badan Pangan Pertanian PBB [FAO] dan pemerintah untuk mengembangkan mina padi. Pada 2015 mina padi di Dusun Cibuk Kidul ini menjadi percontohan Asia,” ucap dia.

Tiga tahun lalu, Pemerintah Kabupaten Sleman membuka lahan 25 hektare yang dipakai untuk mina padi di beberapa dusun. Namun, seiring waktu berjalan, hanya mina padi di Cibuk Kidul yang masih bertahan dan menjadi tujuan orang-orang yang ingin melihat dan belajar budi daya model ini.

Menurut Sigit, mina padi memiliki banyak manfaat bagi petani. Petani mendapat keuntungan ganda saat panen. Jika suatu waktu padi puso, petani masih mendapatkan manfaat dari hasil panen budidaya ikan. Padi yang dihasilkan di lahan ini pun lebih mahal karena organik.

“Kami tidak pakai pupuk kimia dan pestisida, itu yang membuat berasnya menjadi mahal, karena kualitasnya lebih bagus. Kami menggunakan kotoran ikan yang membantu pertumbuhan padi,” ucap dia.

Petani mina padi Dusun Cibuk Kidul memilih bibit ikan yang disesuaikan dengan waktu panen padi, sehingga bisa panen bersamaan.

Padi yang dihasilkan lewat mina padi tak hanya unggul kualitas, tetapi juga kuantitas. Hasil panen naik dari rata-rata 6,5 juta ton per hektare menjadi 9,3 ton hektare.

Sementara, hasil penjualan ikan rata-rata sekitar Rp42 juta per hektare dalam satu musim.

Tergantung Musim

Namun, mengelola mina padi cukup sulit karena butuh ketekunan dan kesabaran. Sigit harus melawan musim kemarau yang kerap mengurangi lahan untuk budi daya ikan.

“Karena kemarau, saat ini hanya ada sekitar empat hektare lahan mina padi di sini, dan empat hektare ini mengandalkan irigasi.”

Beberapa kolam bekas mina padi mengering dan tidak terpakai. Tuntutan untuk sabar dan telaten menghadapi musim ini juga berpengaruh terhadap anggota kelompok taninya yang kian lama menyusut, dari yang awalnya 50 orang, kini hanya tersisa 20 orang. Meskipun jumlah kelompok tani semakin berkurang, Sigit tidak sedih karena menurutnya kelompok tani yang bertahan adalah yang benar-benar serius untuk terus mengembangkan mina padi.

Dalam waktu dekat, Sigit memiliki rencana untuk membuka beberapa lahan yang akan digunakan untuk mina padi.

“Sebentar lagi kan musim hujan, nanti lahan ini akan dikelola oleh pemuda dusun.”

Sigit menceritakan sejak ada mina padi, anak-anak di Dusun Cibuk Kidul jadi sering menyantap ikan. “Yang dulu tidak pernah makan ikan karena mahal, kini sering. Ikan kan bagus untuk pertumbuhan anak.”

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Sleman, pada 2014, konsumsi ikan rata-rata di DIY hanya 19,17 kilogram per kapita per tahun, atau terendah dibandingkan dengan 33 provinsi lain. Jumlah ini hanya sekitar setengah dari dari konsumsi rata-rata nasional sebesar 37 kilogram per kapita per tahun. Namun, sebagaimana dilansir Antara, pada 2015, tahun ketika mina padi Cibuk Kidul disokong FAO dan pemerintah, konsumsi ikan di Sleman naik 16% menjadi 22, 29 kilogram per kapita per tahun.

Mina padi juga mampu menggerakkan perekonomian masyarakat sekitar. Ibu-ibu warga Cibuk Kidul mulai menghasilkan produk olahan ikan.

“Daging ikan nila hasil panen mina padi digunakan untuk membuat dawet nila, dan tulangnya untuk membuat onde-onde,” kata Riris, salah satu pelopor pengolahan produk mina padi.

Kepala Desa Margoluwih, Sunaryo, mengatakan mina padi adalah salah satu unggulan desanya. Budi daya ikan di sawah tidak hanya menghidupkan perekonomian, tetapi juga memperbaiki nutrisi warga. Ikan dan padi yang dihasilkan di lahan Cibuk Kidul lebih sehat karena tidak menggunakan pupuk kimia.

“Dawet dari daging ikan nila dan onde-onde dari tulang ikan nila hanya ada di dusun ini,” ucap Sunaryo.