Hasil Pemeriksaan, 90% Jip Wisata Merapi Tak Sesuai Standar Offroad

Pengecekan kondisi jip wisata Merapi di Bumi Perkemahan Wonogondang, Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Selasa (6/11/2018). - Harian Jogja/Fahmi Ahmad Burhan
06 November 2018 20:15 WIB Fahmi Ahmad Burhan Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Berdasar hasil uji kelaikan rutin yang digelar Dinas Perhubungan (Dishub) Sleman, sebanyak 300 unit jip wisata Merapi dinyatakan memenuhi standar. Di sisi lain, Indonesia Offroad Federation (IOF) mengatakan 90% jip wisata Merapi tidak memenuhi standar offroad.

Penguji Kendaraan Bermotor Dishub Sleman, Zaenal Arifin, mengatakan dari uji kelaikan yang dilakukan sejak sebulan lalu jajarannya menemukan berbagai komponen yang harus diperbaiki dari jip wisata Merapi. “Ada komponen kopel kemudi yang disambung atau dilas, selang rem yang retak, speleng kemudi yang melebihi ambang batas, rem tangan dan kabel bodi yang tidak berfungsi dengan baik dan lainnya,” kata Zaenal, Selasa (6/11/2018).

Ia mengatakan dari 900 unit jip wisata di Sleman yang diperiksa, hanya ada 300 jip yang sudah sesuai standar pemeriksaan. “Rata-rata permasalahannya sama. Contoh lainnya, seperti lampu yang dipasang hanya asal nyala. Kalau penunjuk arah dia hanya sekadar warna menyala, padahal aturannya warna harus kuning dan keputih-putihan. Sementara yang ditemukan warna merah, putih, dan selain warna kuning,” katanya.

Menurutnya dari hasil pemeriksaan, pengemudi dan pengelola jip antusias untuk memperbaiki kendaraan. Ia berharap beberapa catatan dari petugas pengujian bisa diperbaiki oleh pengelola, khususnya untuk menjaga faktor keselamatan jip yang digunakan untuk wisata.

Sekretaris Harian IOF Pengda DIY, Santoso Kurniawan, mengatakan jajarannya diminta oleh Pemkab Sleman untuk memberikan pembinaan dan pelatihan kepada komunitas jip di lereng Gunung Merapi. IOF juga memberikan 22 poin masukan yang bisa menjadi bahan perbaikan bagi komunitas jip wisata Merapi. “Jip di Merapi jenisnya offroad ringan. Standar yang kami berikan juga lebih simpel dibanding standar untuk anggota IOF,” ujar Santoso. Beberapa masukan yang diberikan IOF di antaranya jip harus berpenggerak empat roda atau 4WD, rem harus berfungsi dengan baik, ban dengan ketebalan 75%, pengemudi maupun penumpang wajib mengenakan helm, kotak P3K, adanya alat pemadam kebakaran, dan beberapa rekomendasi lain.

IOF juga memberikan masukan terkait dengan jalur operasi jip wisata Merapi. “Harus ada jalur khusus yang digunakan, jangan sampai bercampur antara jalur wisata dengan jalur umum,” kata Santoso.



Ketua Asosiasi Jip Wisata Lereng Merapi (AJWLM) Wilayah Timur, Bambang Sugeng, mengatakan di lereng Gunung Merapi terdapat 29 komunitas jip wisata. Masing-masing komunitas memiliki anggota bervariasi. Untuk total keseluruhan, jip wisata Merapi berjumlah sekitar 750 unit jip. “Kami melakukan berbagai upaya perbaikan, mulai dari kondisi kendaraan serta pengemudi. Kami membuat atyuran pengemudi yang tak memiliki SIM tidak boleh jalan. Pengemudi juga wajib menjalani tes,” kata Bambang.

Bambang mengatakan jajarannya sudah memberlakukan jalur sesuai dengan SK Bupati. Menurutnya, jalur tersebut ujungnya yaitu Bunker Kaliadem. Selain itu, menurut Bambang, ada juga cek poin sebagai tempat pengecekan di luar bengkel. “Kadang di bengkel bagus tapi di perjalanan belum tentu, oleh karena itu kami membuat cek poin untuk pemeriksaan,” kata Bambang.

Kepala Dinas Pariwisata Sleman, Sudarningsih, terus membina pengelola jip Merapi untuk membenahi keseluruhan operasional jip wisata Merapi. Dispar juga memberikan pelatihan mulai penerapan Sadar Wisata dan Sapta Pesona kepada pengemudi jip wisata. “Pembinaan bakal teruis dilakukan hingga 2019. Melalui SK Bupati, jalur jip wisata Merapi juga tidak melalui jalan protokol, jalur-jalur yang bukan jalur wisata juga tidak boleh dilalui,” ujar Sudarningsih.

Selasa siang, Pemkab Sleman juga meluncurkan Tri Pakarti Musna di Bumi Perkemahan Wonogondang, Desa Umbulharjo, Cangkringan. Acara tersebut diikuti oleh puluhan pengelola jip wisata Merapi. Tri Pakarti Musna merupakan upaya Pemkab Sleman untuk pencegahan kecelakaan di kawasan wisata.