Indonesia Masuk 10 Destinasi Wisata yang Layak Dikunjungi, Ini yang Harus Disiapkan Jogja

Sejumlah wisatawan menikmati keindahan pemandangan di sekitar Candi Banyunibo, Dusun Cepit, Desa Bokoharjo, Kecamatan Prambanan, Sabtu (30/6 - 2018).Harian Jogja/Fahmi Ahmad Burhan
07 November 2018 11:50 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Buku panduan perjalanan, Lonely Planet merilis daftar negara destinasi wisata terbaik yang harus dikunjungi pada 2019. Indonesia menduduki posisi ke tujuh dan satu-satunya negara di Asean yang masuk dalam 10 destinasi wisata yang layak dikunjungi.

Ketua ASITA DIY Udi Sudiyanto mengatakan apa yang dirilis Lonely Planet tersebut merupakan kesempatan bagus bagi Indonesia, khususnya DIY. "Ini kesempatan bagus mengalahkan negara-negara Asean. Ini juga kesempatan emas agar Indonesia segera melakukan lompatan yang luar biasa," katanya kepada Harianjogja.com, Selasa (6/11/2018).

Meski begitu, ada tantangan yang harus disiapkan oleh para pelaku wisata di Jogja. Salah satunya dengan menyiapkan atraksi dan kreasi yang unik agar wisatawan mau berlabuh ke Indonesia.

Menurutnya, tren wisatawan tahun depan lebih pada hal yang berkaitan dengan eksperimen. Tidak hanya eksperimen fisik, seni dan budaya, tetapi juga pada aktivitas masyarakat. "Misalnya pergi ke pasar tradisional, membuat panganan tradisional dan eksperimen yang bersifat unik lainnya," kata Udi.

Kesiapan itu harus dilakukan tidak hanya di Jogja, tetapi di seluruh daerah yang memiliki destinasi dunia. Mulai daerah Jawa, Bali, Lombok dan lainnya. Alasannya, biro perjalanan wisata tidak bisa hanya menjual Jogja. Dalam konteks wisata internasional, Asita tentu menjual Indonesia. Asita, lanjut Udi, otomatis menjual semuanya. Sesuatu yang klasik juga bersifat unik. Ini karena tren wisatawan 2019 lebih berarti pada aktivitas kebudayaan.

"Mereka ingin terlibat kegiatan budaya [live on] dengan penduduk setempat. Bagaimana kebudayaan orang Jawa, Sunda, Bali atau Lombok. Bukan hanya seni, tetapi kehidupan sehari-hari. Mereka ingin lebih tahu itu," katanya.

ASITA berharap destinasi di setiap daerah harus menata dirinya sendiri dan membuat persiapan dan memenuhi fasilitas yang sesuai dengan kebutuhan wisatawan dunia. Jangan fasilitas yang asal ada. "Misalnya, fasilitas toilet. Harus standar. Persiapan dan penetrasi tinggal dua bulan lagi. Semua pihak harus cepat tanggap. Ketika Lonely Planet merilis itu, semua pihak juga harus mendukungnya karena ini sebuah kesempatan," ujar Udi.

Yang tidak kalah penting, lanjut dia, adanya kemudahan dan dukungan akses para wisatawan tersebut ke Indonesia.

Baginya, penerbangan internasional harus ditambah. Dia berharap beroperasinya bandara internasional NYIA pada April 2019 mendatang, bisa mendukung aksesibilitas para wisatawan ke DIY. "Tidak kalah pentingnya lagi adalah branding Jogja. Pemasaran dan branding wisata Jogja harus dilakukan lebih kencang lagi. Jogja harus memanfaatkan momentum ini," usul Udi.

Disinggung kesiapan para pelaku wisata sendiri saat ini, Uni menilai pelaku wisata di DIY sudah biasa menjadi pemain untuk menarik wisatawan mancanegara. Dari sekitar 160 anggota ASITA DIY, 60% merupakan pemain wisatawan asing. "Kami sering diskusi hal yang bagus yang harus siapkan bahkan yang tidak terpikirkan. Itu bisa menjadi produk yang menjual. Yang penting, jangan sampai Indonesia masuk salah satu 10 besar destinasi wisata yang layak dikunjungi pada 2019, tetapi kita tidak melakukan apa-apa," katanya.