Jelang Pemilu Akan Banyak Hoaks

Ilustrasi hoaks. - JIBI
09 November 2018 09:10 WIB Bernadheta Dian Saraswati Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Berita bohong atau hoaks akan banyak bermunculan saat masa pemilu. Mahasiswa sebagai kalangan pemilih pemula diharapkan bisa jeli memaknai setiap informasi yang diterima.

Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik (IKP) Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) Rosarita Niken Widiastuti mengatakan permasalahan konflik pemilu banyak dipicu dari media sosial. Saat ini media sosial yang bisa diakses melalui handphone menjadi media ampuh menyebarkan hoaks.

"Sumber informasi bermula dari ponsel sementara handphone jumlahnya sudah melebihi jumlah penduduk Indonesia yang mencapai Rp250-an juta orang, yaitu sampai 400 juta handphone," kata dia dalam Forum Dialog Pemuda Sadar Pemilu di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Kamis (8/11/2018).

Pengguna Internet di Indonesia juga cukup tinggi yaitu mencapai 143 juta orang. Sebesar 65% di antaranya adalah kaum milenial. Hoaks akan mudah masuk ke aplikasi Whatsapp atau media sosial lain seperti Instagram dan Facebook. Untuk itu, sebagai kalangan yang paling sering mengakses Internet, Niken mengajak mahasiswa berhati-hati dan cerdas bermedia sosial.
"Kita harus bisa mengenali ciri-ciri hoaks, yaitu cenderung provokatif dan judul membuat orang sakit hati," jelas Niken.

Ia berpesan agar jangan menyebarkan informasi apapun yang tidak dipahami karena hoaks hanya akan mencerai-beraikan bangsa.

Kominfo sebagai humas pemerintah akan bersama KPU dan Bawaslu melakukan literasi kepada kaum milenial agar melek pemilu. Hal ini dilakukan mengingat tren masyarakat dalam berpartisipasi dalam pemilu masih kurang. Pada pilihan legislatif (pileg) 2014 lalu, sebanyak 24,89% pemilih tidak menggunakan hak suaranya alias golput.

Sementara Rektor UNY Sutrisno Wibowo mengajak mahasiswa menggunakan hak suaranya dengan baik. "Semoga setelah forum ini, informasi yang diperoleh bisa disampaikan ke masyarakat yang lebih luas," kata dia.