Musim Hujan, Selokan Mataram Penuh Sampah

Sampah terlihat menumpuk di anggelan bambu yang dibuat oleh warga di Kecamatan Kalasan, Rabu (5/9/2018). Anggelan yang berfungsi menaikkan debit air di pintu sadap agar air mengalir ke areal pertanian tersebut membuat sampah-sampah berhenti dan menumpuk. - Harian Jogja/Bernadheta Dian Saraswati
20 November 2018 09:17 WIB Newswire Sleman Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Memasuki musim hujan, volume sampah di sepanjang aliran "Selokan Mataram" meningkat. Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWS-SO) Jogja menyebutkan sampah didominasi sampah rumah tangga.

"Kami sangat menyayangkan belum adanya kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah di 'Selokan Matarm', Saat ini volume sampah di sepanjang aliran sangat besar," kata Pejabat Pembuat Keputusan (PPK) OP III Balai Besar Wilayah BBWS-SO Yogyakarta Ovi Anton Nugroho di Sleman, Senin (19/11/2018).

Ia mengatakan pada musim hujan volume sampah di "Selokan Mataram" jauh lebih banyak daripada biasanya, terutama di aliran mulai dari Maguwoharjo hingga Prambanan, Kabupaten Sleman.

"Memang ada petugas BBWS-SO yang rutin melakukan pembersihan, namun harapkan kami yang terpenting adalah warga tidak membuang sampah ke saluran induk 'Selokan Mataram,' karena akan sangat menganggu dan berpotensi menimbulkan kerusakan sarana dan prasarana yang ada" katanya.

Pihaknya juga telah mendata semua kerusakan di saluran yang vital fungsinya bagi sektor pertanian tersebut.

"Kami sudah mendata dan menginventarisir kerusakan-kerusakan sarpras di 'Selokan Mataram' dan kami juga sudah melakukan beberapa perbaikan walaupun memang belum semua kerusakan dapat kami perbaiki," katanya.

Pihaknya belum bisa melakukan semua perbaikan karena terbatasnya anggaran. Proses perawatan dilakukan secara bertahap dan diupayakan berkesinambungan.

"Hanya proses pemeliharaan mulai dari ditata dan pertama dari hulu dahulu baru ke arah hilir, harapannya dalam jangka waktu tertentu nantinya akan bisa menjangkau keseluruhan panjang selokan," katanya.

Kepala Seksi Persampahan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sleman Suryantana mengakui masih rendahnya kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah di "Selokan Mataram".

"Semua itu harus dicari muasal sampah itu, kemudian koordinasikan dengan pemerintah setempat," katanya.

Menurut dia, permasalahan sampah semakin pelik karena keberadaan tempat pembuangan sampah terpadu (TPST) di Sleman belum memadai.

"Oleh karenanya banyak sampah berserakan, terutama di sepanjang 'Selokan Mataram' dan di lahan-lahan kosong di kawasan padat penduduk," katanya.

Sumber : Antara