Bantuan Dropping Air Bersih di Gunungkidul Akan Segera Berhenti

Ilustrasi. - Reuters/Mike Hutchings
21 November 2018 10:17 WIB Herlambang Jati Kusumo Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Bantuan dropping air untuk mengatasi kekeringan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul akan segera berhenti. Pasalnya diperkirakan sudah akan memasuki musim penghujan minggu depan.

Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Edy Basuki mengungkapkan untuk saat ini dropping memang masih dilakkukan dalam sehari setidaknya ada 16 tangki didropping, namun diperkirakan hanya sampai minggu ini.

“Kita coba sampai minggu ini, sambil cek lokasi ada permintaan lagi tidak. Semoga minggu depan sudah mulai merata hujannya, sambil assessment teman-teman di lapangan,” kata Edy, Selasa (20/11/2018).

Dikatakan Edy jika nantinya sudah hujan rutin dalam waktu satu minggu, sudah dapat mengisi sumur dan Penampungan Air Hujan (PAH). Diketahui sebelumnya pula saat ini untuk memenuhi dropping air BPBD Gunungkidul telah menggunakan dana tidak terduga, dikarenakan anggaran kekeringan telah habis.

Edy menjelaskan bahwa dana tidak terduga tersebut sudah digunakan sejak awal November, untuk keperluan membeli BBM serta service dan keperluan suku cadang. Meski begitu Edy belum bisa mengungkapkan berapa dana tidak terduga yang telah terpakai.

“Pasnya berapa yang sudah dikeluarkan kami belum rekap atau cek lagi, karena mekanismenyakan kami ambil barang dulu baru bayar. Permohonan dari SPBU dan toko atau bengkel belum direkap,” katanya.

Untuk bantuan dropping dari pihak swasta sendiri Edy mengatakan bisa berkoordinasi dengan pihak BPBD Gunungkidul, agar dapat diarahkan kemana Desa atau daerah yang sangat membutuhkan. Saat ini sendiri dikatakan Edy yang masih meminta bantuan dropping di Kecamatan Ngawen, Nglipar, Semin. “Untuk yang lain mungkin sudah terisi PAH,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Kelompok Data dan Informasi BMKG DIY, Djoko Budiyono mengatakan November ini, untuk wilayah DIY secara bertahap akan memasuki awal musim hujan.

Berdasarkan monitoring curah hujan di BMKG Stasiun Klimatologi Mlati, di wilayah utara DIY selama dua dasarian ini jumlah curah hujan sudah melebihi 50 mm yang menandakan memasuki musim hujan.

“Adapun penyebab dalam beberapa hari ini tidak hujan karena adanya Siklon Bouchra yang muncul di barat daya Sumatra serta adanya sirkulasi angin tertutup/eddy di barat Kalimantan menyebabkan pola angin di wilayah DIY kurang mendukung bagi pertumbuhan awan awan hujan,” katanya.

Oleh sebab itulah dalam beberapa hari ini tidak ada pembentukan hujan, namun dalam beberapa hari kedepan diprediksi kondisi cuaca akan kembali berpotensi munculnya hujan di wilayah DIY terutama di kisaran dasarian tiga November ini.