Puncak Kemarau Agustus, Warga Gunungkidul Diminta Hemat Air
BPBD Gunungkidul meminta warga menghemat air saat puncak kemarau Agustus 2026. Sebanyak 184 tangki air bersih telah disalurkan ke wilayah terdampak kekeringan.
Sejumlah warga melakukan pengerukan di embung di kawasan Alas Brumbung, Dusun Ketonggo, Sumberejo, Semin, Jumat (28/6/2019). /Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Warga Dusun Ketonggo, Sumberejo, Semin melakukan pengerukan embung di kawasan tersebut yang telah mengering. Diharapkan dengan pemeliharaan ini dapat memaksimalkan embung dalam penampungan air.
Kepala Dusun Ketonggo, Supriyanto mengatakan, musim kemarau membuat embung di dusunnya mengering. Penyusutan air di embung juga tidak lepas dari aktivitas pertanian warga sekitar. Pasalnya saat musim kemarau, air di embung membantu irigasi warga untuk pemeliharaan tanaman padi.
“Memang keberadaan embung tidak begitu luas. Namun pada saat curah hujan mulai menyusur, airnya banyak disedot untuk mengairi lahan pertanian warga di sekitar embung. Akibat aktivitas ini, air di embung telah mengering,” kata Supri kepada Harianjogja.com, Jumat (28/6/2019).
Menurut dia, dengan mengeringnya air di embung yang berada di kawasan Alas Brumbung, warga pun berinisiatif untuk melakukan pemeliharaan. Salah satu upaya yang dilakukan dengan mengeruk tanah di dasar embung. Harapannya dengan pengerukan ini dapat memaksimalkan daya tampung air saat musim penghujan. “Selain pengerukan, kami juga melakukan kegiatan bersih-bersih,” ujarnya.
Lebih jauh dikatakan Supri, untuk pemeliharaan warga tidak sendirian karena mendapatkan bantuan dari Pemerintah DIY. “Memang semua biaya dalam pemeliharaan ditanggung oleh provinsi dan warga tinggal melaksanakan,” tuturnya.
Ke depannya, lanjut Supri, untuk memaksimalkan keberadaan embung, pihaknya akan mengusulkan agar dinding-dinding yang retak dapat ditambal. Hal ini diperlukan agar daya tampung air tidak cepat menyusur karena adanya kebocoran pada dinding embung. “Sudah kami usulkan. Mudah-mudahan bisa direalisasikan,” imbuhnya.
Hal tak jauh berbeda diungkapkan oleh Suryanto. Menurut dia, keberadaan embung sangat membantu warga. Pada saat air di embung penuh, banyak warga memanfaatkan embung sebagai tempat rekreasi mulai dari tempat nongkrong hingga memancing. “Pada saat airnya masih, hampir setiap sore ada orang yang mincing atau pun nongkrong,” katanya.
Hanya saja, kata Yanto, air dalam embung sudah mengering karena dimanfaatkan petani untuk mengairi tanaman padi yang dimiliki. “Sangat bermanfaat dan hasilnya bisa dilihat tanaman petani tetap hidup meski sudah musim kemarau,” imbuhnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
BPBD Gunungkidul meminta warga menghemat air saat puncak kemarau Agustus 2026. Sebanyak 184 tangki air bersih telah disalurkan ke wilayah terdampak kekeringan.
Kerusuhan hajatan di Sragen viral di media sosial. Korban bersama tim musik resmi melaporkan dugaan penganiayaan ke Polres Sragen.
Profil KMP Putri Yasmin, kapal feri buatan Jepang 1992 yang melayani rute Padangbai-Lembar dengan kapasitas penumpang dan kendaraan.
Residivis WAG alias Gus W menipu warga Boyolali Rp105,3 juta dengan modus ritual spiritual. Uang hasil kejahatan dipakai untuk judi online.
DPRD Kabupaten Magelang terus memperkuat pelestarian seni dan budaya sebagai bagian dari pembangunan karakter masyarakat.
DPRD Jogja mendorong tiang PJU dimanfaatkan untuk fiber optik dan smart pole guna menata kabel serta meningkatkan PAD.