Resmi, Sekolah Tatap Muka DIY Dicoba April 2021
Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIY menargetkan uji coba pembelajaran tatap muka untuk 10 sekolah tingkat SMA dan SMK di DIY dilaksanakan pada pertengahan April 2021.
Kasnan dengan seragam "dinas" KAS di rumahnya di Dusun Conegaran, Desa Triharjo, Kapanewon Wates, Jumat (17/1/2020). /Harian Jogja-Jalu Rahman Dewantara
Harianjogja.com, KULONPROGO--Demi bisa ikut Keraton Agung Sejagat (KAS), Kasnan rela mengeluarkan uang jutaan rupiah yang ia peroleh dengan cara berutang. Kini, setelah pimpinan kerajaan bodong itu ditangkap, hanya penyesalan yang ia dapat.
"Jujur saya kapok, menyesal banget ternyata berakhir seperti ini," ujar Kasnan kepada awak media di rumahnya di Dusun Conegaran, Desa Triharjo, Kapanewon Wates, Jumat (17/1/2020).
Pria berusia 40 tahun itu bergabung dengan KAS sekitar 10 bulan lalu, atau pada awal 2019. Mulanya ia diajak sejumlah kawan untuk berkumpul di tempat Sudadi, 70, warga Desa Plumbon, Kapanewon Temon, yang terlebih dulu menjadi anggota keraton fiktif tersebut.
Dalam pertemuan itu, Kasnan diberitahu ihwal KAS. Sepengetahuannya kala itu KAS, merupakan organisasi yang fokus untuk kegiatan sosial kemanusiaan. Tidak sedikitpun menyinggung soal kerajaan maupun janji-janji uang ratusan juta yang bakal diterima para anggota.
"Karena kemanusiaan, saya tertarik untuk gabung, sekalian juga buat mengisi kegiatan, tak ada itu menyinggung soal kerajaan," ujarnya.
Belakangan Kasnan baru sadar jika KAS adalah sebuah kerajaan, dengan Toto Sutoto sebagai pimpinannya. Hal itu ia ketahui saat mengikuti kirab di lokasi kerajaan tersebut di Desa Pogung Juru Tengah, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo beberapa waktu lalu. "Saya malah baru tahu ketika ikut kirab, kok jadinya malah kaya gini, ada keraton-keraton segala," ungkapnya.
Selama di KAS, Kasnan sudah menggelontorkan sejumlah uang. Mulai dari pendaftaran sebesar Rp1,5 juta, iuran, biaya operasional yang ditanggung sendiri dan membeli seragam "dinas" keraton yang harganya Rp2 juta.
Uang-uang itu ia peroleh dengan cara berutang. Hal itu terpaksa dilakukan karena Kasnan tak punya penghasilan tetap. Kerjanya serabutan, kadang bertani, kadang membuat ukiran batu, itupun jika ada yang memesan. "Yang seragam sampai sekarang malah belum lunas," kata Kasnan.
Atas kejadian ini, Kasnan mengaku sakit hati. Dia menyatakan tidak akan pernah bergabung dengan organisasi semacam itu. Kendati demikian Kasnan mengganggap hal ini adalah musibah dan tidak akan menuntut si pendiri KAS yang kini sudah diamankan Polda Jawa Tengah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIY menargetkan uji coba pembelajaran tatap muka untuk 10 sekolah tingkat SMA dan SMK di DIY dilaksanakan pada pertengahan April 2021.
Talud Sungai Gajah Wong di Bantul ambrol dan mendekati jembatan. DPRD DIY mendesak penanganan darurat sebelum musim hujan tiba.
Barantin membentuk satgas 24 jam untuk mengawasi hewan kurban jelang Idul Adha 2026 dan memastikan lalu lintas ternak aman.
Polres Ponorogo menggeledah ponpes di Jambon usai pimpinan pesantren jadi tersangka pencabulan santri. Polisi sita sejumlah barang bukti.
Harga sembako Banyumas jelang Iduladha 2026 masih stabil. Harga sapi dan domba naik, namun stok pangan dipastikan tetap aman.
BMKG DIY memperingatkan potensi El Nino 2026 yang memicu musim kemarau lebih kering dan risiko kekeringan ekstrem mulai Juli hingga Oktober.