Sragen Disebut Saudara Tua DIY, Ini Jejak Sejarahnya
Sragen disebut saudara tua DIY karena jejak Pangeran Mangkubumi. Muhibah Budaya 2026 perkuat koneksi sejarah dan budaya Mataram.
Ilustrasi. /JIBI-Solopos
Harianjogja.com, JOGJA--Kasus klithih yang ada di Jogja berpotensi menghambat upaya Kota Jogja memperoleh predikat Kota Layak Anak (KLA).
Lembaga anak-anak PBB United Nations Children\'s Fund (UNICEF) Indonesia turut menyoroti kasus klithih atau kekerasan jalanan yang melibatkan anak di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Sebab, Kota Yogyakarta dalam proses mengejar predikat Kota Layak Anak (KLA) Utama Indonesia dan masuk Child-Friendly City Initiatives (CFCI) yang dibentuk 80 wali kota sedunia tahun 2020.
Hal itu disampaikan Kepala Perwakilan UNICEF Pulau Jawa, Arie Rukmantara, saat ditemui seusai acara Rembuk Warga \'Kolaborasi Menuju Jogja KLA Istimewa\' di Yogyakarta. Menurutnya, maraknya aksi klithih cukup berisiko bagi penilaian Kota Yogyakarta untuk mengejar KLA.
"Kota Yogyakarta mengejar KLA dari pemerintah RI pada Hari Anak Nasional dan di internasional CFCI akhir tahun nanti di forum wali kota dunia. Akan menjadi risiko untuk mengurangi nilai kalau tidak ketemu solusinya," kata Arie, Kamis (6/2/2020).
Namun Arie menyebut penilaian KLA tidak sebatas melihat jumlah kasus klithih yang marak terjadi ini. Tapi lebih kepada bagaimana cara penanganan oleh pemerintah setempat.
"Diukur adalah cara penyelesaiannya. Misal satu kasus diselesaikan dalam beberapa hari, kalau sistem bagus bisa 7 jam, 24 jam. Itu yang menunjukkan apakah Kota Yogyakarta bisa masuk KLA, dilihat dari cara menanganinya, cepat, efisien, dan efektif," katanya.
"Lihat prosesnya, rembuk, jaring ide dari anak-anak. Katanya akan ada deklarasi anti klitih, itu yang diapresiasi, nilainya di situ," lanjutnya.
Menurutnya, kekerasan jalanan mungkin saja masih akan terjadi. Tapi proses masyarakat terutama anak-anak yang bereaksi secara positif yang akan menjadi penilaian.
"Penilaian tidak pakai indikator angka kasus, misal ada 200 kejahatan tapi ada respons seribu anak yang anti (kejahatan), itu yang dinilai reaksi seribu anak itu. Di Yogya komunitas sangat kuat, gerakan sosial, banyak yang bisa untuk menyuarakan," paparnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Detik.com
Sragen disebut saudara tua DIY karena jejak Pangeran Mangkubumi. Muhibah Budaya 2026 perkuat koneksi sejarah dan budaya Mataram.
Tim SAR Gabungan menemukan bocah yang terseret ombak di Pantai Gua Cemara dalam kondisi meninggal dunia di Pantai Bugel, sekitar 13 kilometer dari lokasi kejadi
Kemendikdasmen menyampaikan masukan kepada BGN untuk memperbaiki tata kelola Program Makan Bergizi Gratis, termasuk distribusi dan sasaran penerima.
Kemenaker menaikkan Program Magang Nasional Angkatan II menjadi 150.000 peserta pada 2026 dan memperluas akses bagi lulusan profesi dan penyandang disabilitas.
Dua bayi ditemukan di Solo dalam sehari. Pemkot Solo dan Polresta bergerak menangani kasus, sementara bayi yang selamat mendapat pendampingan.
Sekitar 200 kader 'Aisyiyah dari berbagai daerah di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengikuti 'Aisyiyah Cadre Camp (ACC) 2026 di Bumi Perkemahan Kalakijo,