Jangkau 2.700 Pelajar, PNM Mengajar Dorong Siswa Bermental Wirausaha
PNM Mengajar dorong ribuan siswa SMK di Klaten menjadi wirausaha muda lewat edukasi kewirausahaan dan literasi digital.
Gunung Merapi mengeluarkan awan panas dan lava pijar pada Senin (18/2/2019) pagi. Kondisi tersebut terpantau dari daerah Bimomartani, Ngemplak, Sleman./Harian Jogja-Bernadheta Dian Saraswati
Harianjogja.com, JOGJA—Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) DIY menyebut konservasi dan rehabilitasi kawasan lereng Merapi terhambat berkembangnya pariwisata.
Kepala DLHK DIY Sutarto mengatakan setiap tahun, Pemerintah Pusat, Pemda DIY, pemerintah kabupaten, dan masyarakat selalu mengupayakan penghijauan. Sebagai gambaran, kata dia, pada 2019 DLHK mencadangkan bibit 40.000 untuk disebarkan kepada masyarakat se-DIY, termasuk di lereng Merapi. Beberapa mahasiswa KKN juga banyak mengadakan penghijauan di kawasan tersebut.
“Cuma yang jadi persoalan masyarakat terlalu antusias menanam sehingga permohonan bibit kadang justru banyak di musim kemarau [sehingga tidak tumbuh dengan baik]. Kami sudah melakukan pengaturan. Bibit harus ditanam di musim hujan,” katanya kepada Harian Jogja, Jumat (14/2/2020).
Sutarto mengatakan wisata di kawasan lereng Merapi, Sleman berkembang dengan pesat, terutama menggunakan jip. Kendaraan jenis ini bisa menerabas kawasan lereng nyaris dengan medan sulit dan sejumlah titik sungai. Ini menjadi penghambat konservasi hutan.
“Jip senangnya daerah yang terjal menantang. Satu sisi daerah semacam itu mestinya untuk kegiatan rehabilitasi lahan cadangan air atau mendukung kualitas lingkungan yang ada di sana, ini menjadi penghambat,” katanya.
Ia berharap wisata bisa berkembang tetapi tidak mengurangi nilai konservasi dan rehabilitasi. “Yang jelas perlu sinergi antarsektor, Ruang untuk aktivitas wisata, untuk rehabilitasi, dan untuk kegiatan pertanian perlu,” ucapnya.
Di lereng Merapi, menurut dia, ada taman nasional dan kawasan penyangga taman nasional yang berada di bawahnya. Kawasan tersebut sudah cukup hijau dibandingkan dengan sembilan tahun lalu setelah letusan besar 2010.
Sebelumnya, Gubernur DIY Sri Sultan HB X khawatir ketiadaan hutan di lereng Merapi menyebabkan lava erupsi akan meluncur kian cepat karena tak ada pohon yang menjadi penahan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
PNM Mengajar dorong ribuan siswa SMK di Klaten menjadi wirausaha muda lewat edukasi kewirausahaan dan literasi digital.
BMKG memprediksi hujan lebat masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah Jawa Tengah hingga akhir Mei 2026.
Ledakan tambang batu bara di Shanxi, China, menewaskan 82 pekerja. Operasi penyelamatan masih berlangsung hingga Sabtu.
PLN mengungkap kronologi blackout Sumatra yang dipicu gangguan transmisi di Jambi akibat cuaca buruk pada Jumat malam.
PSIM Jogja memperpanjang kontrak Jean-Paul Van Gastel karena dinilai sukses membangun filosofi permainan dan fondasi tim.
Prabowo memperluas proyek tambak produktif di Waingapu, Gorontalo, dan Pantura untuk memperkuat pangan dan membuka lapangan kerja.