3 Moge Disita KPK, Diduga Dibeli Pakai Dana Operasional DJBC
KPK menyita tiga moge dalam kasus korupsi Bea Cukai. Motor diduga dibeli sementara memakai dana operasional khusus DJBC.
Ilustrasi. /JIBI-Solopos
Harianjogja.com, BANTUL—Perekaman kartu tanda penduduk elektronik (KTP-el) secara massal masih menuai kendala. Pasalnya, terjadi ketidakcocokan data lintas instansi yang justru menghambat proses digitalisasi dan integrasi data kependudukan itu sendiri.
Kasus tersebut dialami salah satu warga pendatang asal Kalimantan Timur yang tinggal di Bantul, Oci Robyanto. Dia mengaku sudah tiba di lokasi perekaman data KTP-el massal yang digelar di Pendopo Parasamya II, Manding, Bantul, Selasa (10/3). Perekaman data massal itu rencananya digelar hingga Rabu (11/3/2020).
Kepada Harian Jogja, Oci mengaku sudah tiba di lokasi sekitar pukul 09.00 WIB. Hanya lantaran ada sesi pembukaan maka pelayanan baru bisa dimulai satu jam setelahnya. Akibatnya dia pun harus menunggu cukup lama.
Akan tetapi persoalannya bukan cuma itu, ketika tiba giliran Oci, proses rekam data mengalami kendala lantaran petugas mengaku tidak menemukan data kependudukan Oci. Alhasil dia pun harus menunggu tim dari pusat untuk mencocokan data.
"Itulah kenapa saya daftar di sini karena cetak KTP el bisa dilakukan di Kalimantan. Harusnya kan datanya itu nasional, jadi saya bisa daftar di mana pun," ujar Oci saat ditemui di lokasi perekaman, Selasa.
Kepala Biro Tata Pemerintahan Setda DIY Sugeng Purwanto, mengakui integrasi data penduduk memang perlu waktu. Ke depannya, KTP-el akan menjadi kartu sakti yang terjamin kepastian hukumnya. Masyarakat dapat mengakses berbagai pelayanan publik hanya dengan bermodalkan kartu identitas tunggal.
"Nantinya dompet masyarakat akan semakin tipis. Tidak perlu banyak kartu. Cukup satu dan bisa dipakai untuk apapun. Tapi itu butuh komitmen, penguatan kebijakan, serta komunikasi yang baik antar instansi," kata Sugeng, Selasa.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
KPK menyita tiga moge dalam kasus korupsi Bea Cukai. Motor diduga dibeli sementara memakai dana operasional khusus DJBC.
Ondrej Rudzan membidik starting XI PSIM Jogja. Bek Republik Ceko itu siap bermain di posisi apa pun demi membantu tim meraih kemenangan.
DPRD DIY menyoroti kesiapan SAR menghadapi bencana. Basarnas Jogja memiliki 117 personel dan belum punya alut untuk operasi SAR di tengah laut.
TelkomGroup Prioritaskan Stabilitas Jaringan Selama Fase Normalisasi Pascabencana
Kemenkes mengirim ratusan ribu masker dan oksigen untuk mengantisipasi gangguan kesehatan akibat asap karhutla yang berdampak pada 7 provinsi.
DPRD Jogja meminta Pemkot melakukan verifikasi faktual data DTSEN agar warga miskin dan rentan miskin tidak kehilangan akses bansos.