Jogja Inspira Hadirkan Kolaborasi Musik, Puisi dan Sketsa
Jogja Inspira #01 hadir di Ndalem Poenokawan dengan kolaborasi musik, puisi dan sketsa, memperkuat Jogja sebagai episentrum kreativitas seni.
Kepala UPT Pusat Kesehatan Masyarakat Depok III Kristi Rutyadi memamerkan pakaian khusus yang digunakan untuk mengantar pasien dengan Covid-19, Kamis (26/3/2020).-Harian Jogja/Abdul Hamid Razak
Harianjogja.com, SLEMAN- Tidak patuhnya masyarakat terkait dengan protokol penanganan Covid-19 berdampak pada terus bertambahnya jumlah orang dalam pengawasan (ODP) di wilayah Sleman. Salah satunya di Kecamatan Depok.
Kasus ini bermula saat salah seorang pasien positif Corona warga Caturtunggal, Depok, Sleman,meninggal dunia, Sabtu (21/3/2020) lalu. Ambulans rumah sakit yang sedianya akan membawa jenazah ke pemakaman umum justru berbelok ke rumah duka. Di rumah duka tersebut pelayat berdatangan sebelum jenazah kemudian diantar ke pemakaman.
Setiba di pemakaman, proses yang dilakukan pun tidak sesuai dengan prosedur yang sudah ditentukan. Warga yang menurunkan jenazah ke liang lahat tidak dilengkapi dengan pakaian khusus. Dampaknya, empat orang warga tersebut ditetapkan berstatus sebagai ODP.
"Tidak hanya empat warga itu, keluarga, istri PDP positif Corona, juga di bawah pengawasan kami," kata Kepala UPT. Pusat Kesehatan Masyarakat Depok III Kristi Rutyadi, Kamis (26/3/2020).
Dia menjelaskan, ambulans rumah sakit awalnya langsung membawa jenazah ke pemakaman. Entah mengapa keluarga meminta untuk menyemayamkan jenazah ke rumah duka lebih dulu. Keluarga kemudian melaksanakan pemakaman tidak sesuai dengan prosedur. "Warga yang memasukkan jenazah ke liang lahat, tidak menggunakan pakaian khusus," katanya.
Peristiwa tersebut, lanjut Kris, sebuah pelanggaran prosedur yang dilakukan oleh warga dan keluarga. Seharusnya mereka bisa memahami prosedur dan melaksanakan agar jumlah ODP virus Covid-19 tidak terus bertambah. "Ini yang kami sayangkan. Kami langsung melakukan tracing kepada warga di sekitar rumah duka," papar Kristi.
Meskipun begitu, Puskesmas tidak menetapkan dusun tersebut sebagai zona merah. Sebab selain sudah menyemprot disinfektan di lingkungan sekitar, Puskesmas juga terus memonitor dan mengedukasi ODP. "Kami akan terus mengawasi perkembangan ODP. Kami minta kejujuran bagi ODP untuk mematuhi prosedur," katanya.
Kepala Seksi Pemerintahan Desa Caturtunggal, Depok, Andi Sofyan mengakui peristiwa tersebut. Berdasarkan informasi yang dia terima, tidak banyak warga yang melayat. Ketika meninggal dunia, katanya, statusnya masih PDP namun setelah hasil laboratorium keluar ternyata postif Covid-19. "Yang datang melayat tidak banyak. Kalau jumlah ODP saya tidak tahu pasti," jelas Andi.
Seperti diketahui, Kecamatan Depok menjadi wilayah di Sleman dengan jumlah ODP paling banyak yakni 60 orang berdasarkan data terkini Kamis (26/3/2020) petang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jogja Inspira #01 hadir di Ndalem Poenokawan dengan kolaborasi musik, puisi dan sketsa, memperkuat Jogja sebagai episentrum kreativitas seni.
Keluarga penumpang Virgo Transport 8 masih menanti kabar setelah kapal kecelakaan di Laut Jawa. Sebanyak 103 orang telah dievakuasi.
Stasiun Lidah Tanah yang dibangun pada 1902 melayani 6.047 penumpang hingga Agustus 2026, naik 20% dari rata-rata bulanan 2025.
Prabowo menegaskan BRICS punya peran strategis memperkuat suara Global South dalam menentukan arah pembangunan dan masa depan dunia.
Asap kebakaran Gunung Bromo mulai terbatas dan api terkendali. Petugas gabungan tetap siaga karena masih ditemukan sisa bara.
Nglanggeran didorong menjadi model desa wisata nasional setelah meraih Best Tourism Village Award 2021 dari UN Tourism.