Alumni Santri Krapyak Perkuat Sinergi Ekonomi Lewat Ngobrol Bisnis
Kegiatan ini berangkat dari prinsip hayatul islam bil ilmi wa bil mal (hidupnya Islam itu dengan ilmu dan harta)
Foto dari bentuk tiga dimensi model Virus Corona./Reuters- Dado Ruvic
Harianjogja.com, BANTUL—Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul menyiapkan dua selter untuk menampung pemudik dari berbagai daerah yang sudah terlanjur mudik tetapi tidak bisa pulang ke rumahnya masing-masing karena ada penolakan warga atau punya anggota keluarga di rumah yang rentan terinfeksi virus Corona.
Sekretaris Daerah (Sekda) Bantul Helmi Jamharis mengatakan dua selter yang disiapkan yakni gedung Balai Latihan Kerja (BLK) di Jalan Parangtritis Pundong dan Loka Bina Karya di Jalan Samas Bambanglipuro. Kedua tempat isolasi itu masing-masing dapat menampung delapan orang dan 25 orang.
Ia megakui daya tampung selter hanya sedikit. Pemkab memang tidak menyediakan tempat isolasi khusus dan menyerahkan kepada desa serta masyarakat untuk menyediakan sendiri-sendiri ruang isolasi. Dua tempat isolasi milik Pemkab yang bisa digunakan hanya sebatas untuk berjaga-jaga manakala ada penolakan dari masyarakat.
“Memang bukan untuk semua pemudik, tetapi khusus pemudik yang dtolak saja dan pemudik yang tidak memungkinkan melakukan isolasi mandiri selama 14 hari setelah kepulangan karena rumahnya sempit dan terdapat anggota keluarga yang rentan tertular Covid, seperti lansia atau balita.” kata dia.
Pemkab juga akan menjamin kebutuhan pokok bagi pemudik yang tinggal sementara di dua tempat isolasi tersebut. Namun, Helmi tidak menyebut besaran anggaran untuk dua tempat penampungan sementara pemudik itu.
Mantan Asisten Bidang Pemerintahan Setda Bantul ini mengatakan Pemkab Bantul tidak mewajibkan desa maupun masyarakat untuk menyediakan ruang isolasi atau ruang karantina.
Sebelumnya Ketua Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (Apdesi) Cabang Bantul, Ani Widayani mengatakan rumah karantina diperlukan bahkan harus ada di tiap desa. Sebab pandemi Corona ini bertepatan dengan momen Ramadan dan Idulfitri sehingga banyak perantau pulang ke kampung halaman.
Ani mengatakan tidak semua warga masyarakat menerima perantau karena khawatir adanya penularan penyakit infeksi tersebut. Sementara isolasi mandiri selama 14 hari di rumah juga tidak memungkinkan apabila rumahnya sempit dan ada anggota keluarga yang rentan terinfeksi.
Menurut dia semestinya bukan hanya desa yang menyediakan rumah karantina, tetapi juga Pemkab dan Pemda DIY. Sebagai Ketua Apdesi, Ani sudah meminta semua kepala desa dibantul menyediakan rumah isolasi, “Menghadapi banyaknya pemudik atau perantau yang akan pulang,” kata Ani.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kegiatan ini berangkat dari prinsip hayatul islam bil ilmi wa bil mal (hidupnya Islam itu dengan ilmu dan harta)
Pemadaman listrik massal di Sumatera picu keluhan warga. PLN akui gangguan sistem, namun pelanggan soroti minimnya respons.
DPRD DIY ungkap persoalan serius perfilman Jogja, dari perizinan hingga perlindungan pekerja. Raperda disiapkan untuk menata industri.
Kemenko PMK dan TWC perkuat 10 sekolah di Sesar Opak lewat program SPAB. Momentum 20 tahun Gempa Jogja dorong budaya sadar bencana.
Apple uji iPhone 19 Pro dengan layar melengkung 4 sisi dan Face ID di bawah layar. Desain futuristik diprediksi hadir pada 2027.
Listrik padam total di Sumatera Bagian Tengah dan Utara sejak Jumat malam. PLN ungkap gangguan sistem, warga Pekanbaru terdampak luas.