Resmi, Sekolah Tatap Muka DIY Dicoba April 2021
Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIY menargetkan uji coba pembelajaran tatap muka untuk 10 sekolah tingkat SMA dan SMK di DIY dilaksanakan pada pertengahan April 2021.
Ilustrasi/Pixabay
Harianjogja.com, KULONPROGO—Pemerintah Kabupaten Kulonprogo akan mengubah nama Stadion Cangkring di Kapanewon Wates. Usulan nama baru sudah bermunculan dan kini tengah digodok Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kulonprogo.
“Sejumlah usulan nama baru untuk Stadion Cangkring sudah kami terima, dan telah disampaikan kepada Bupati Kulonprogo," kata Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kulon Progo, Arif Prastawa, kepada wartawan, Kamis (3/9/2020).
Arif nama Stadion Cangkring belum ada dalam dokumen resmi pemerintah daerah sehingga harus diganti. Jawatannya sudah mengusulkan beberapa nama ke Bupati Kulonprogo, dengan harapan bisa segera ditentukan nama yang paling sesuai untuk nama kawasan, stadion dan gelanggang olahraga (gor).
"Pengusulan dilakukan terpisah untuk nama kawasan, stadion, dan gor karena di dalam masterplan kawasan ada beberapa venue, seperti tenis, kolam renang dan seterusnya, tapi nanti bupati yang akan menentukan nama yang akan dipakai," jelas Arif.
Sudah ada 12 nama yang diusulkan kepada bupati. Nama-nama itu adalah Widya Reksasana Raga, Wiyata Kredasana, Dharma Ginulang, Loka Abhinaya Cangkring, Mandala Sodewo, Sasana Krida, Sasana Wiyata Krida, Stadion Adikarta, Binangun Adikarta, Raden Mas Dorodjatun, Nyi Ageng Serang dan Cangkring. Usulan nama ini diajukan oleh insan olahraga, seniman, pelaku budaya dan pegiat bahasa.
Sementara itu, Wakil Bupati Kulonprogo, Fajar Gegana, meminta disdikpora tidak asal-asalan memilih nama pengganti untuk Stadion Cangkring. Menurutnya nama stadion adalah sesuatu hal yang sakral dan bisa menjadi spirit, sehingga nama pengganti untuk Stadion Cangkring harus memiliki nilai filosofis. Jika perlu penentuan nama itu dirapatkan di DPRD Kulonprogo.
"Yang tidak ada relevansi pada olahraga tidak boleh usul. Silakan usul di tempat lain. Jangan sampai yang selama ini berkecimpung di olahraga malah tidak tahu tentang usulan nama," ujar Fajar.
Fajar memiliki dua usulan nama untuk Stadion Cangkring. Pertama Herucakra yang merupakan salah satu gelar Pangeran Diponegoro. Menurutnya Herucakra melambangkan seorang pejuang atau penyelamat yang berhati suci dan bersih. Ini sesuai dengan stadion tersebut yang menjadi lambang perjuangan laskar-laskar menoreh, terutama para pejuang di bidang olahraga.
"Apalagi Pangeran Diponegoro, sangat lekat dengan perjuangan masyarakat Kulonprogo selain Nyi Ageng Serang," ujarnya.
Sementara nama kedua, adalah Stadion Ki Gede Menoreh, yang bermakna pejuang atau prajurit Mataram dari Bukit Menoreh, seperti yang tertuang dalam cerita Api di Bukit Menoreh. Nama ini bisa dimaknai stadion menjadi tempat perjuangan para atlet di Kulonprogo.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIY menargetkan uji coba pembelajaran tatap muka untuk 10 sekolah tingkat SMA dan SMK di DIY dilaksanakan pada pertengahan April 2021.
Jadwal terbaru KRL Jogja-Solo Jumat 15 Mei 2026 lengkap dari Yogyakarta hingga Palur. Tarif tetap Rp8.000 sekali perjalanan.
Polres Kudus mengamankan lima pemuda yang membawa senjata tajam saat menggeruduk kompleks perumahan di Kecamatan Bae.
KAI Commuter menambah 4 perjalanan KRL Jogja-Palur selama libur panjang Kenaikan Yesus Kristus 14–17 Mei 2026.
Pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping di Beijing membahas Taiwan, AI, tarif dagang, hingga Selat Hormuz.
Semen Padang siap tampil maksimal melawan Persebaya Surabaya meski sudah dipastikan terdegradasi dari BRI Super League 2026.