Bus Sekolah Gunungkidul Kembali Normal, Ada Tambahan Rp270 Juta
Bus sekolah Gunungkidul kembali melayani antar jemput sejak 7 September setelah Pemkab menyiapkan tambahan anggaran Rp270 juta.
Pupuk bersubsidi/Ilustrasi-JIBI
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul memastikan tidak ada masalah dengan ketersediaan pupuk bersubsidi. Meski demikian, petani masih ada yang merasa kesulitan untuk mendapatkannya.
Salah satunya dirasakan oleh petani di Kapanewon Patuk, Martano. Menurut dia, kartu tani memberikan efektivitas di dalam penyaluran pupuk. Hanya saja, di dalam pelaksanaan masih belum sepenuhnya lancar.
Ia mencontohkan, ada petani yang akan mengambil pupuk dari penyalur, namun stoknya kosong. Selain itu, ada juga petani yang tidak bisa mengambil jatah pupuk karena adanya ketidakcocokan data. “Harapannya masalah-masalah ini diperbaiki sehingga penyaluran berjalan dengan lancar,” katanya kepada wartawan, Minggu (8/11/2020).
Baca juga: MPR RI: Jurnalis Perlu Diprioritaskan untuk Peroleh Vaksin Covid-19
Martano menuturkan, adanya kendala dalam penyaluran merugikan petani karena sekarang sudah memasuki musim tanam. “Harus segara diatasi agar tidak menggnggu dalam pemeliharaan tanaman,” katanya.
Permasalahan penyaluran pupuk subsidi juga terjadi di Kapanewon Tepus. Salah satunya diungkapkan oleh Heri Purwanto, salah seorang penyalur pupuk di Tepus. Ia menuturkan, untuk pemegang kartu tani relatif tidak ada masalah karena sudah bisa mengakses jatah pupuk yang diberikan. Namun untuk petani yang belum memegang kartu tani menjadi masalah karena belum bisa mengambil jatah pupuknya.
“Masih ada petani yang belum mendapatkan kartu tani. Ini jadi, masalah karena mereka tidak bisa menebus jatah pupuknya,” kata Heri.
Dia menjelaskan, petani yang belum memegang kartu tani ini juga masuk dalam elektronik-Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok sehingga berhak mendapatkan pupuk bersubsidi. adanya permasalahan ini, kuota pupuk yang diberikan belum terserap maksimal karen dari jatah 105 ton, baru tersalurkan sebanyak 90 ton. “Sisa 15 ton merupakan jatah untuk petani yang belum memiliki kartu tani,” katanya.
Rekomendasi
Heri mengungkapkan, terkait dengan permasalahan ini sudah diberikan solusi dari dinas pertanian dan pangan untuk mengurus rekomendasi. “Sedang diurus agar petani [belum mendapatkan kartu tani] bisa mendapatkan rekomendasi sehingga jatah pupuk yang dimiliki bisa diambil,” katanya.
Baca juga: Beberapa Faktor Ini Bisa Tingkatkan Peluang Hamil Anak Kembar
Kepala Bidang Tanaman Pangan, Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Raharjo Yuwono mengatakan, pihaknya akan menindaklanjuti keluhan petani dari Kapanewon Patuk. “Sudah komunikasikan dan distributor siap mengirimnya,” kata Raharjo.
Ia menuturkan, ada komitmen dari distributor untuk memaksimalkan sarana yang ada agar penyaluran bisa berlangsung lancar. Pihaknya menekankan bahwa kelancaran distribusi harus menjadi prioritas sehingga pupuk sampai ke petani tepat sasaran tapi juga tepat waktu. “Untuk kuota tidak ada masalah karena stok masih sangat mencukupi dan tidak ada kendala,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Bus sekolah Gunungkidul kembali melayani antar jemput sejak 7 September setelah Pemkab menyiapkan tambahan anggaran Rp270 juta.
Penutupan kali di belakang Kantor Pemkab Gunungkidul menelan Rp1,019 miliar untuk pembangunan parkir Taman Kuliner Wonosari.
Biarawati Katolik asal Timor-Leste, Suster Dulce Maria Guterres, meraih gelar Magister Kebidanan di UNISA Yogyakarta dan berbagi kisah toleransi.
Lelang cabai digital di Bantul membantu petani mendapat harga lebih tinggi dibanding pengepul, dengan total 1,7 ton sudah dilelang.
Empat EWS tsunami di pantai Gunungkidul mengalami kerusakan. BPBD menyiapkan Rp165 juta dan perbaikan dimulai Oktober 2026.
Bupati Gowa Sitti Husniah menjalani pemeriksaan perdana sebagai tersangka dugaan korupsi pemerasan dan TPPU senilai Rp1,1 miliar.