Kasus Daycare Jogja, Sultan HB X: Harapannya Ini Pertama dan Terakhir
Sultan HB X soroti kasus Little Aresha, tegaskan nol toleransi kekerasan dan dukung proses hukum di DIY.
Anggota Destana Sumberahayu melakukan simulasi mitigasi bencana angin kencang, di kantor Kalurahan Sumberahayu, Rabu (3/3/2021)/Harian Jogja-Lugas Subarkah
Harianjogja.com, SLEMAN-Memperkuat upaya pengurangan risiko dan mitigasi bencana, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY kembali mengukuhkan Desa Tangguh Bencana (Destana) di Kalurahan Sumberahayu, Kapanewon Moyudan, Sleman.
Berlangsung pada Rabu (3/3/2021) di Kantor Kalurahan Sumberahayu, pengukuhan Destana diawali dengan simulasi mitigasi bencana angin kencang yang menyebabkan sejumlah pohon tumbang dan korban luka.
Karena masih dalam situasi pandemi Covid-19, simulasi dilakukan secara terbatas dengan protokol kesehatan dan hanya diikuti oleh anggioa Destana Sumberayu yang berjumlah 40 orang, tanpa melibatkan warga Sumberayu lainnya.
Dalam simulasi tersebut, terlihat anggota Destana Sumberahayu dengan sigap menjalankan tugasnya masing-masing, mulai dari koordinasi, pembersihan potongan pohon, pembuatan tenda darurat, penyediaan logistik, pertolongan pada korban luka dan sebagainya.
Kepala Pelaksana BPBD DIY, Biwara Yuswantana, menuturkan meski saat ini masih pandemi Covid-19, DIY tidak lepas dari potensi bencana lainnya sehingga masyarakat harus terus disiapkan dalam mitigasi bencana alam.
"Covid-19 memang harus kita hadapi, tapi tidak boleh lengah dengan potensi bencana lain. Saat ini kita memasuki musim pancaroba. Di Sumberahayu, angin kencang potensi bencananya," kata dia.
Dalam menghadapi potensi bencana ini, selain harus terus memantau prediksi cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), warga juga perlu mengurangi risiko bencana.
"Kita kurangi kerentanannya. Angin kencang jadi bencana kalau ketemu pohon besar, tua, lapuk. Kalau menimpa rumah atau orang jadi bencana. Maka itu harus selalu diperhatikan," ungkapnya.
Kepala Seksi Pencegahan Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD DIY, Ali Sadikin, mengatakan tahun ini BPBD DIY membentuk 25 Destana, tiga diantaranya merupakan lanjutan dari Destana 2020 yang sempat tertunda akibat Covid-19.
Tiga kalurahan tersebut meliputi Wirokerten, Sumberahayu dan Ngestirejo. "Gladi lapangan diganti gladi posko dengan peserta dibatasi 50-60 orang. Kalau yang normal 150-250 orang termasuk masyarakat terlibat," ujarnya.
25 Destana yang akan dikukuhkan pada 2021 meliputi enam Destana di Sleman, enam Destana di Gunungkidul, enam Destana di Kulonprogo, empat Destana di Bantul dan tiga Katana di Kota Jogja.
263 Destana
Sampai Maret ini, DIY telah memiliki 263 Destana dari total 438 Kalurahan/Kelurahan. Dari total jumlah tersebut, sebanyak 301 kalurahan/kelurahan berpotensi bencana alam.
Lurah Sumberayu, Sigit Tri Susanto, mengatakan meski pelatihan hingga pengukuhan Destana telag selesai, tugas sebenarnya Destana baru akan dimulai.
"Tugas kita yakni tugas kemanusiaan untuk membantu masyarakat yang terkena bencana alam. Kita menjadi ujung tombak, mata dan telinga untuk menyikapi bencana di masyarakat," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sultan HB X soroti kasus Little Aresha, tegaskan nol toleransi kekerasan dan dukung proses hukum di DIY.
7 bidang tanah calon pengganti kas Kalurahan Palihan, Kulonprogo, dicoret karena berada di bawah Sutet. Warga kecewa dan minta evaluasi.
Komisi B DPRD Kota Jogja mendorong pengembangan Rumah Sakit Hewan, integrated farming, bioflok, dan agrowisata untuk meningkatkan PAD.
Produksi minyak nasional Juli 2026 baru 578.156 bopd dari target 610.000 boepd. ESDM mengungkap sejumlah kendala dan strategi mengejarnya.
Puan Maharani memastikan DPR siap menerima aspirasi demonstrasi 27 Agustus 2026 dan meminta massa menjaga ketertiban.
Sekitar 350 buruh MTG belum mendapat kepastian PHK, sementara gaji disebut belum dibayar sejak April. DPRD DIY meminta persoalan segera dituntaskan.